Kilas

Berlandas Pancasila, Pelayan Gereja Harus Jadi Pelopor di Masyarakat

Kompas.com - 27/06/2018, 14:07 WIB


MANADO, KOMPAS.com - Dalam Gereja Masehi Injil Minahasa (GMIM), setiap Pelayan Khusus (Pelsus) memiliki potensi yang sangat prospektif untuk tampil sebagai pelopor di tengah jemaat dan masyarakat.

“Oleh sebab itu, setiap pelsus, terutama kaum muda gereja, juga harus dibekali dengan pemahaman tentang ideologi bangsa dan Pancasila,” ujar Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey.

Hal ini ia sampaikan saat memberikan materi dalam acara Konven Pelsus GMIM pembinaan pelayan khusus tentang gereja dan politik yang diselenggarakan di Hotel Sutan Raja Manado pada Senin (25/6/2018).

Dalam kesempatan ini, para pelsus diberikan pemahaman tentang penguatan nilai Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

(Baca: Olly Dondokambey Ajarkan Empat Pilar Kebangsaan di Minahasa)

Harapannya, para Pelsus dapat senantiasa bersatu dalam tekad dan komitmen untuk menggelorakan dan meneguhkan semangat Pancasila sehingga norma dan sikap idealisme bangsa tidak terkikis dan tetap terjaga dalam kehidupan berbangsa.

Semangat Pancasila salah satunya dapat tecermin dalam menjaga kerukunan antar-umat beragama. Hal ini sempat disampaikan Olly pada kesempatan lain.

Olly mengatakan bahwa kerukunan umat beragama memang merupakan potensi dari Provinsi Sulawesi Utara yang berjuluk Bumi Nyiur Melambai tersebut.

Hal ini dapat dilihat dari dijadikannya Sulawesi Utara sebagai Provinsi dengan tingkat toleransi yang paling tinggi di Indonesia.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau