kabar mpr

HNW: Kaum Pekerja Paham Pancasila, NKRI Tak Akan Hancur

Kompas.com - 14/07/2018, 20:46 WIB

TANGERANG - Jika kaum pekerja memahami pentingnya Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa, maka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak akan pernah tercerai berai. Karena itu, Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bagi kalangan pekerja adalah bagian penting agar kaum pekerja makin memahami dan mencintai Indonesia.

Hal tersebut ditegaskan Wakil Ketua MPR RI, Dr. Hidayat Nur Wahid, MA saat membuka Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bagi kalangan pekerja, bekerjasama dengan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) se-Tangerang Raya (Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan), Sabtu (14/7/2018) di Gedung Pertemuan Surya Kencana Abadi, Kota Tangerang.

"Alhamdulillah, kali ini terjadi sebuah sejarah, rekan-rekan pekerja mementingkan adanya sosialisasi Empat Pilar. Ini pertama kali menghadiri sosialisasi Empat Pilar MPR RI untuk kaum pekerja," ujar Hidayat.

Sekitar 400 pekerja yang tergabung dalam FSPMI se-Tangerang Raya dan 118 pengurus inti FSPMI tingkat perusahaan turut berpartisipasi. Hidayat memaknai antusiasme kalangan pekerja ini sebagai wujud cinta kaum pekerja kepada Indonesia.

"Ini pertanda kaum buruh ingin mendapatkan informasi yang lebih detail dan update tentang ketentuan bernegara," ujar Hidayat.

Hidayat menegaskan, pada hakikatnya kaum pekerja adalah bagian tak terpisahkan dari eksistensi Indonesia.

"Jika tak ada rekan-rekan pekerja, atau mereka yang mengabdikan diri dalam berbagai profesi untuk Indonesia secara ikhlas, apakah Indonesia bisa merdeka? Tentu saja tidak," tandas Hidayat.

Hidayat mencontohkan sejarah negara adidaya Uni Soviet, Yogoslavia, dan lainnya. Negara-negara ini bubar karena ideologi negara mereka (komunis) datang dari luar yang dipaksakan, dan kemudian tidak menghadirkan ketahanan nasional yang kuat. Begitulah pada 1990-1991 Presiden Uni Soviet Michael Gorbachev menerapkan kebijakan reformasi (Glasnost dan Perestroika) yang akhirnya negara komunis pertama berbasis kaum pekerja itu pun bubar dan terpecah menjadi beberapa negara. Begitu pula Yogoslavia, juga terpecah menjadi beberapa negara.

"Beda dengan Indonesia, sekali pun negara kita terdiri dari 17 ribu pulau, negara kepulauan, ekonomi kita tidak sangat bagus, transportasi tidak sangat bagus, dan terjadi reformasi, tapi kita memiliki Pancasila sebagai ideologi yang dilahirkan dari kesepakatan bersama. Maka saat terjadi reformasi pun kita tetap utuh," tutur Hidayat.

Maka, lanjut Hidayat, kegiatan sosialisasi penting untuk menegaskan kembali bahwa kita mencintai Indonesia, Tanah Air dimana kita bekerja, negara dimana kita hidup dan menghidupi. Namun, dalam perkembangannya terjadi beragam kejadian dan perubahan yang sering tak kita sadari dan tidak kita ketahui.

“Beragam peristiwa kadang membuat kita kagok untuk menjadi bagian dan memaksimalkan peran serta di negeri ini. Sosialisasi dilakukan agar kita tetap mengenal Indonesia. Supaya kita tidak kagok dengan dinamika sejarah Indonesia," tandas Hidayat.

Hadir pada pembukaan Sosialisasi Empat Pilar MPR ini Indra, S.H., M.H., staf ahli Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid yang juga sebagai narasumber; Sekjen FSPMI/ KSPI Riden Hatam Azis, S.H.; Kepala Biro Setpim Setjen MPR Muhamad Rizal, S.H., MSi., dan Ketua FSPMI se-Tangerang Raya dan juga Ketua Panitia Penyelenggara Sosialisasi Jumadi.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau