Kilas

Di Balik Konsep Pengembangan Kota “Bergerak Bersama” Punya Semarang

Kompas.com - 17/07/2018, 18:25 WIB

KOMPAS.com – Empat tahun belakangan jargon “bergerak bersama” santer terdengar, terlebih di Semarang. Namun, kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, jargon itu adalah konsep pembangunan terbaik yang dimiliki kota tempatnya bernaung tersebut.

Ia menyebutkan bahwa hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya pencapaian prestasi Kota Semarang saat ini.

Dari sederet hal itu, ia menyebutkan mulai dari pembangunan infrastruktur yang lebih merata, penambahan investasi yang berkali-kali lipat, hingga lompatan indeks pembangunan manusia Kota Semarang yang mengungguli kota-kota besar lainnya di Indonesia. 

"Bergerak Bersama merupakan konsep gotong royong terbaik dalam membangun sebuah wilayah", ujar Hendi, biasa ia disapa, seperti dalam rilis yang diterima Kompas.com, Rabu (17/7/2018).

Ujaran itu dituturkannya dalam acara penutupan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) XV Tingkat Kota Semarang di Lapangan Unnes, Kelurahan Sampangan, Gajahmungkur, Selasa (17/7/2018).

“Saat awal mula dilantik, saya yakin menjalankan konsep Bergerak Bersama untuk membangun Kota Semarang. Ini karena konsep tersebut rohnya adalah gotong royong warisan budaya leluhur kita", kata dia.

Hendi juga yakin bila konsep pengembangan kota yang dimilikinya tersebut dapat diadopsi oleh wilayah lain di Indonesia. Pasalnya, ia sekaligus mengingatkan bahwa pada dasanya manusia adalah mahluk sosial—di mana satu dan yang lain saling membutuhkan.

"Yang diperlukan adalah bagaimana melakukan diversifikasi masing-masing stakeholder untuk sepakat bergerak sesuai perannya secara optimal", tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut dirinya turut mengenang bagaimana ia prihatin pada Kota Semarang yang dicap sebagai ibu kota provinsi yang jauh tertinggal di waktu lalu.

Padahal, menurutnya, Semarang merupakan kota yang paling besar di Indonesia dengan potensi yang sangat luar biasa.

“Dulu kita (Semarang) selalu terfokus pada kerja pemerintah saja. Padahal kenyataannya, (menunggu) kerja pemerintah saja tidak cukup. Kalau saat ini banyak kemajuan yang bisa kita rasakan, ini adalah karena kita sudah Bergerak Bersama”, sambung Hendi.

Terkait kegiatan BBRGM, dirinya secara khusus mengapresiasi kelurahan Sampangan sebagai wakil Kota Semarang yang telah memenangkan lomba BBGRM tingkat Provinsi Jawa Tengah.

“Saya harap ini bukan saja sekadar lomba, melainkan warganya benar-benar guyub, suka gotong royong, suka membersihkan lingkungan dan kompak,” imbuh dia.

Dalam acara yang dihadiri Hendi, hadir pula Ketua DPRD Kota Semarang, Kepala Dispermasdesdukcapil Provinsi Jawa Tengah, Rektor Universitas Negeri Semarang, Rektor Universitas Wahid Hasyim, GOW Kota Semarang, Muspika Gajah Mungkur, serta sejumlah tokoh masyarkat.

Kegiatan itu juga dimeriahkan dengan berbagai lomba antar kecamatan dan kelurahan se-Kota Semarang, serta penyematan peniti emas kepada 32 Kader PKK di Kota Semarang.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau