kabar mpr

MPR : Nilai Pancasila Perlu Ditanamkan Pada Generasi Muda

Kompas.com - 22/07/2018, 20:03 WIB

Kepala Biro Sekretariat Pimpinan MPR RI, H. Muhammad Rizal, SH, MSi, mengungkapkan saat ini mulai terjadi pergeseran pada nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila mulai tergerus di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Karena itu nilai-nilai Pancasila perlu ditanamkan dan ditumbuhkan kembali khususnya pada anak-anak dan pemuda.

"Pancasila adalah nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat. Tapi sekarang sudah mulai terjadi pergeseran. Sudah mulai tergerus di tengah-tengah kehidupan masyarakat kita," kata Muhammad Rizal dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR kerjasama MPR dan Karang Taruna Desa Serdang Kulon Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, Banten, Minggu (21/7). Muhammad Rizal mewakili Ketua MPR Zulkifli Hasan yang berhalangan hadir dalam sosialisasi yang diikuti berbagai elemen masyarakat, tokoh agama, pemuda, ketua RT dan RW se-kelurahan Serdang Kulon.

Muhammad Rizal memberi contoh pergeseran nilai-nilai Pancasila itu. Masyarakat di perkotaan, misalnya, sudah mulai mempunyai sikap individualistik, tidak mau tahu tentang orang lain. Nilai kebersaman dan gotong royong pelan-pelan sudah mulai hilang.

"Kehidupan yang ingin senang-senang, kehidupan yang materialistik, semua diukur dengan uang. Nilai kebersamaan dan gotong royong, tolong menolong sudah mulai pelan-pelan bergeser dan hilang," jelasnya.

Dia juga memberi contoh lain anak-anak tidak ramah lagi, anak-anak tidak menghormati orang tua, sopan santun sudah mulai berkurang. "Bayangkan ada anak membunuh orangtua. Ada anak menuntut kekayaan orangtua," ujarnya.

Menurut Muhammad Rizal, pergeseran nilai itu terjadi karena pengaruh dari luar, yaitu nilai-nilai global. Pengaruh global ini menjadi tantangan kita semua. Karena itu dia mengajak untuk mengembalikan lagi nilai-nilai Pancasila itu.

"Kita tumbuhkan dan hidupkan kembali nilai-nilai itu. Terutama generasi muda, mari kita tanamkan kembali dan kita hidupkan kembali nilai-nilai Pancasila itu. Nilai-nilai yang hidup di tengah-tengah masyarakat itu sekarang secara pelan-pelan mulai hilang. Kita bangunkan kembali. Kita cerahkan kembali kepada seluruh anak-anak, pemuda," pintanya.

"Pancasila sudah teruji. Pancasila jangan digugat lagi. Pancasila harga mati sama seperti NKRI. Sekarang banyak masuk nilai-nilai baru yang mencoba untuk merongrong nilai-nilai Pancasila ini. Misalnya ISIS, liberalisme. Ini tidak cocok dengan Indonesia. Nilai Pancasila telah mempersatukan anak bangsa," tuturnya.

Dia menjelaskan Pancasila adalah milik kita semua bukan milik perorangan, atau milik rezim. "Karena Pancasila lahir dan hidup dari bumi Indonesia. Pancasila tumbuh dan berkembang dari nilai-nilai budaya kita. Lahir dari adat istiadat kita. Lahir dari nilai-nilai agama yang ada," katanya.

Kepada Karang Taruna, Muhammad Rizal berharap Karang Taruna bisa berperan dan berkontribusi menjembatani antara masyarakat dan pemerintah untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera. "Karang Taruna harus punya kontribusi dan peran untuk membantu pemerintah menjembatani dan memberdayakan masyarakat agar lebih baik lagi," ujarnya.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau