Kilas

Semarang Punya Sistem Peringatan Dini Banjir

Kompas.com - 31/07/2018, 14:10 WIB

SEMARANG,  KOMPAS.com - Setelah mendapatkan bantuan untuk membangun pembangkit listrik tenaga sampah dari Denmark, bantuan konverter bahan bakar gas untuk bus dari Jepang, bantuan supervisi pengendalian banjir dari Belanda, serta bantuan pengembangan wisata dari Tiongkok, kali ini perhatian kepada Kota Semarang datang dari Amerika melalui American Red Cross (Palang Merah Amerika).

Sebanyak 3 kelurahan di Kota Semarang dikembangkam oleh American Red Cross menjadi wilayah percontohan sistem peringatan terhadap bencana. Kelurahan yang menjadi pilot project yakni Kelurahan Wonosari, Kalipancur, dan Bendan Duwur.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada perwakilan American Red Cros dan masyarakat yang terlibat dalam proyek antisipasi bencana tersebut.

“Keterlibatan pihak luar dalam pengembangan Kota Semarang adalah implementasi konsep pembangunan Bergerak Bersama. Butuh banyak keterlibatan untuk mewujudkan Semarang Hebat,” kata Hendrar saat serah terima hasil kegiatan mitigasi bencana tahap awal (Maret 2017-Juli 2018) di Kelurahan Wonosari, Senin (30/7/2018).

Baca juga: Banjir di Pantura Semarang Tak Kunjung Surut, Wali Kota Minta Maaf

Sebagian wilayah Kota Semarang yang mengalami bencana sudah mampu ditangani dengan upaya Pemerintah Kota Semarang saat ini, sebagian wilayah sudah teratasi.

Namun demikian, Hendrar tidak memungkiri bahwa dari sebanyak 177 kelurahan di Kota Semarang, masih ada 58 kelurahan yang memiliki potensi rawan bencana.

"Maka apa yang diberikan American Red Cross ini sejalan dengan harapan kita untuk mengatasi potensi bencana di Semarang, terutama terkait bencana banjir. Dan ini menarik, karena sebagai wilayah yang dijadikan percontohan, Kota Semarang memiliki tanggung jawab untuk melakukan transfer  knowledge yang bermanfaat bagi lainnya,” ujarnya.

Alat pendeteksi banjir

Salah satu bantuan yang diberikan American Red Cross kepada Kota Semarang sendiri adalah 10 alat pendeteksi banjir yang dapat mengeluarkan sirine untuk memperingatkan masyarakat.

Melalui sistem peringatan dini terhadap datangnya banjir tersebut, masyarakat dapat menekan kerugian yang mungkin ditimbulkan.

Perwakilan American Red Cross Merry Turnip Saragih mengatakan, program koalisi kota tangguh yang didukung oleh USAID, CDTC, dan PMI ini diimplementasikan bagi dua kota, yaitu Kota Semarang dan Ternate.

“Tujuannya untuk membuat suatu modmoel atau contoh bagaimana permasalahan di sebuah kota dapat diselesaikan melalui koalisi kota tangguh. Semua ini dilakukan tidak hanya oleh pemerintah melainkan juga dibantu oleh masyarakat,” ujar Merry.

Baca juga: Jelang Supermoon, Pantura Semarang Dilanda Banjir Rob

Menurutnya Semarang memiliki banyak keistimewaan di antaranya masuk ke dalam 100 Kota Tangguh di dunia. Melalui program ini ia yakin akan mendukung status tersebut.

Pada implementasinya tiga kelurahan di Kota Semarang memperoleh bantuan total dana sebesar Rp 1,7 miliar.

Dana tersebut dimanfaatkan untuk pelatihan regional dalam meningkatkan kesadaran dan kesiap-siagaan menghadapi bencana, sosialisasi, diseminasi dan kampanye tentang Kota Semarang Tangguh melalui berbagai media dan sekolah.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau