Advertorial

Destinasi Digital Pasar Karetan Uji Coba Jadi Nomadic Market

Kompas.com - 11/08/2018, 09:54 WIB

SEMARANG - Nomadic Market! Sebuah konsep baru untuk uji coba Destinasi Digital yang nomad. Bisa berpindah-pindah lokasi, tetapi menggunakan brand yang sama dan tetap ditangai komunitas Genpi, Generasi Pesona Indonesia.

“Akan kita uji coba, Pasar Karetan khusus Minggu besok, 12 Agustus 2018, pindah ke Sam Po Kong di Simongan, Kota Semarang,” kata Mei Kristianti, Juragan Pasar Karetan. Ini bertepatan dengan Festival Chengho, yang berpusat di Sam Po Kong, Semarang.

Di Sam Po Kong, beberapa pedagang Pasar Karetan akan berjualan membuka stand di sana. Penjualnya beberapa juga akan diboyong ke sana. “Kami akan umumkan, setiap Minggu akan berpindah-pindah, sesuai dengan program yang dibuat Genpi,” kata Mei.

Kenapa di Festival Cheng Ho di Sam Poo Kong, karena tradisi itu juga sudah menjadi wisata budaya yang mendunia, banyak wisman, dan disupport Wonderful Indonesia. Ribuan orang bakal berdatangan di Sam Po Kong, ada panggung besar yang menampilkan performance budaya dan teatrikal.

Mengapa berpindah-pindah? Staf Khusus Menpar Bidang Komunikasi dan Media Don Kardono menjelaskan, pasar Genpi atau destinasi digital itu berbasis pada customers. Dan pelanggannya adalah para followers dan netizen yang berinteraksi dan engage di media sosial, melalui semua platform, baik Instagram, Facebook, twitter, Youtube, Line dan WhatsApp.

Karena itu, Pasar Karetan akan diuji coba menjadi Nomadic Attraction. Yang bisa nomadic, mengajak netizen untuk menemukan banyak sensasi baru di lokasi yang berbeda. Tetapi home base nya tetap di Radja Pendapa Camp, Meteseh, Boja, Kendal.

“Dalam nomadic tourism, ada 3A hal sesuai dengan pengambangan destinasi. Yakni nomadic amenity, seperti glamcamp dan homepod. Lalu nomadic access, seperti heli, seaplane, dan caravan atau penginapan di mobil. Dan, nomadic attraction, seperti show yang bisa berpindah-pindah,” jelas Don Kardono.

Destinasi Digital itu bisa juga berpindah-pindah, sari satu site ke site yang lain. Karena audience nya juga sangat mobile, bermukim di digital media, dan digerakkan oleh social media. “Kami uji coba di Pasar Karetan yang sudah memiliki brand di wilayah Semarang, Kendal dan Jawa Tengah,” kata Don.

Konsep nomadic market inj, jika berhasil akan lebih banyak spot destinasi wisata di daerah yang bisa digaungkan melalui nomadic attraction. Sehingga bisa memperkuat promosi destinasi yang sudah lama ada. “Sifatnya yang lincah, mobile, dan digital ini menjadi salah satu kekuatan baru destinasi digital dalam mempromosikan pariwisata di daerah masing-masing,” ucap Don Kardono.

Minggu besok, 12 Agustus 2018, akan hadir pasar pasar baru. Yakni Pasar Cijaringao Genpi Bandung di Kota Kembang, dan Pasar Bintan Bertuah di yang dikreasi anak-anak muda Grnpi Bintan. “Tentu ini akan menambah seru, destinasi bertema kuliner, alam dan budaya di Bandung dan Bintan,” kata Don.

Destinasi digital lain yang bakal beroperasi adalah Pasar Maya Asih Kuningan, Pasa Sago Payakumbuh Sumbar, Pasar Lambung Aceh, Pasar Karetan (uji coba Nomadic Market di Sam Po Kong Semarang), Pasar Kakilangit Jogja, Pasar Baba Boen Tjit Palembang, Pasar Kaulinan Menes Banten, Pasar Kampung Markissa Kota Tangerang, Pasar 1000 Batoe Lampung,

Pasar Mangrove Batam, Pasar Tahura Lampung dan lainnya.

“Pasar Pancingan Lombok sementara off dulu, menghormati masyarakat Lombok yang sedang berduka karena bencana gempa bumi. Selain itu, banyak personil Genpi Lombok Sumbawa yang masih menjadi relawan yang ikut meringankan beban masyarakat yang sedang bersedih,” ungkap Don Kardono.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau