Advertorial

60 Tahun Inovasi Makanan untuk Astronot di Luar Angkasa

Kompas.com - 13/08/2018, 20:05 WIB

Tahun ini, National Aeronautics and Space Agency (NASA) menandai 60 tahun eksistensinya di dunia aeronautika. Dalam jangka waktu itu, berbagai proyek eksplorasi luar angkasa sudah dilakukan, baik dengan awak maupun nirawak, Namun, penasarankah Anda, seperti apa menu makanan para astronot ketika di ruang angkasa?

Peringatan 60 tahun NASA ini juga ditandai perilisan logo baru resminya. Logo baru ini melambangkan pencapaian NASA tidak hanya di bidang aeronautika, tetapi juga di bidang pangan.

NASA sejak 1958 terus berinovasi menyediakan makanan yang mendukung astronot selama di luar angkasa. NASA pun harus mengemas makanan yang tidak hanya cocok dibawa ke luar angkasa, mengenyangkan, dan bergizi saja, tetapi juga lezat.

Inovasi makanan ini dimulai pada Project Mercury pada 1958. Kala itu, makanannya berbentuk kubus bite-size, serbuk beku-kering, dan semi cair yang dikemas dalam bentuk tabung. Sayangnya, makanan itu sangat tidak disuka astronot karena rasanya tidak enak.

Beragam makanan astronot di luar angkasa. Tampak produk Indonesia (permen Kopiko) di antara perbekalan yang dibawa para astronot.- Beragam makanan astronot di luar angkasa. Tampak produk Indonesia (permen Kopiko) di antara perbekalan yang dibawa para astronot.

Riset pun terus dilakukan hingga Project Gemini (1961-1966) dilakukan. Kemasan tube tidak lagi digunakan. Tetapi, menunya sudah beragam, seperti menu dari udang, ayam, sayuran, hingga puding. Makanan itu diproses secara dehidrasi dan disimpan dalam kemasan cellophane.

Pada Misi Apollo (1969-1972), inovasi makanan memasuki babak baru. Kantong thermostabilisasi bernama wetpacks, yang membuat makanan tetap lembab, diperkenalkan. Inovasi ini memungkinkan menu makanan jadi lebih beragam, seperti bacon, sereal, roti lapis daging, puding cokelat, dan salad tuna. NASA juga memperkenalkan kemasan bernama spoon bowl yang dilengkapi sendok.

Menu Semakin Variatif

Tantangan terbesar menciptakan makanan untuk di luar angkasa muncul pada Misi Skylab (1973-1979). Ahli nutrisi NASA melihat, makanan harus punya aroma yang enak, rasa yang lezat, dan nyaman saat dikunyah. Ini merupakan sifat dasar manusia.

Jika tidak dipenuhi, tubuh manusia bisa secara otomatis menolaknya. INi akan menimbulkan masalah psikologis dan fisik. Kemudian, NASA menciptakan warmer food tray dengan tube aluminium di dalamnya. Kaleng ini ditempatkan dalam kompartemen yang bisa langsung dihangatkan, sebelum dikonsumsi. Tersedia menu hingga 72 menu makanan.

Makanan astronot pada Proyek Mercury dan Gemini (1958-1966). Makanan astronot pada Proyek Mercury dan Gemini (1958-1966).

Pada Program Space Shuttle (1981-2011), NASA berhasil menciptakan variasi menu makanan dan minuman lebih banyak dengan kemasan yang lebih ringan dan fleksibel. Kru astronot sudah bisa memberikan tambahan rasa seperti mustard dan mayones, saus barbeku dan lainnya. Termasuk juga camilan seperti permen dan cokelat. Makanan itu disajikan dalam food tray dan tersambung dengan middeck storage locker.

Program International Space Station (1998-2004), mayoritas makanan yang bisa dibawa berbentuk makanan beku dan makanan yang di-thermostabilisasi. Tak hanya makanan, minuman pun sudah didehidrasi menjadi bentuk serbuk.

Pertimbangan dalam produksi

Dalam pembuatan makanan ini, NASA tidak begitu saja memproduksi makanan untuk luar angkasa. Biasanya persiapan ini memakan waktu delapan hingga sembilan bulan sebelum lepas landas. Para astronot pun diberikan pilihan menu dan kesempatan mencobanya. Astronot pun bisa meminta menu sesuai kesukaannya, tetapi tidak semuanya bisa diakomodasi. Sebab, tidak semua bahan makan bisa didehidrasi.

Makanan dan minuman untuk astronot pun harus aman untuk astronot. Untuk itu, semua makanan dan minuman harus melalui proses iradiasi. Karena ketiadaan sumber makanan di luar angkasa, makanan pun harus bisa disimpan dalam waktu yang lama walaupun tanpa kulkas dan freezer.

Kebutuhan kafein juga terkadang diperlukan oleh astronot agar mereka tetap bisa fokus bekerja, tetapi tidak cepat kehabisan tenaga. Kopi menjadi favorit untuk memenuhi kebutuhan itu. Kondisi nol gravitasi membuat astronot mencari alternatif untuk menikmati kopi di luar angkasa.

Makanan astronot pada Proyek Mercury dan Gemini (1958-1966).- Makanan astronot pada Proyek Mercury dan Gemini (1958-1966).

Jadi, agar bisa tetap berenergi tanpa harus repot menyeduh kopi, membawa permen kopi adalah salah satu solusi menggantikan kopi cair. Permen kopi ini juga menjadi salah satu cara untuk menghemat persediaan air, sebab jumlahnya sangat terbatas.

Menariknya, permen kopi yang dipilih dan sudah memenuhi standar NASA adalah Kopiko, permen kopi yang sudah sangat kita kenal di Indonesia dan merek asli anak bangsa. Permen Kopiko terlihat dalam unggahan Twitter International Space Station (@Space_Station) pada 2017 lalu. Kopiko bersanding di antara perbekalan kru NASA. Jelas ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia karena ada produk asli Indonesia yang sudah berstandar internasional, bahkan lolos kualifikasi oleh lembaga sebesar NASA.

Ketiadaan gravitasi memang membuat sistem sinus manusia tertutup. Hal ini bisa membuat rasa mual muncul dan indera perasa menjadi tidak sensitif atau menurun fungsinya. Bisa dibayangkan bagaimana kalau kita makan-makanan yang tanpa rasa dalam jangka waktu berbulan-bulan? Tentu saja tidak enak. Oleh karena itu, NASA harus menciptakan atau menyediakan makanan dan minuman yang punya rasa lebih intens dan kuat.

Dan, kemungkinan besar Kopiko dipilih karena adanya kandungan dari ekstrak kopi asli sehingga bisa mengakomodasi rasa kopi yang benar-benar "kopi". Jadi, astronot bisa mengobati kerinduan akan kopi cair sekaligus menjaga dirinya tetap bersemangat. Solusi permen kopi ini juga bisa menggantikan minuman berkarbonasi yang sebenarnya sangat digemari astronot, tetapi dihindari untuk di luar angkasa.

Mengganti kopi cair dengan permen kopi telah menjadi salah satu cara yang dilakukan NASA agar astronot bisa tetap fokus bekerja tanpa memikirkan hal lainnya. Masih banyak lagi cara dan inovasi yang sudah dilakukan NASA selama 60 tahun agar kerja astronot bisa maksimal saat jauh dari bumi. Dan, kita pantas bangga karena produk Indonesia menjadi bagian dari sejarah inovasi NASA dan mendukung kerja para astronot dunia dalam misinya mengeksplorasi luar angkasa.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau