Advertorial

Konsep Nomadic Market Versi Pasar Karetan Menjanjikan

Kompas.com - 14/08/2018, 10:59 WIB

SEMARANG – Destinasi Digital milik GenPI Jawa Tengah, Pasar Karetan, memang luar biasa. Berbagai terobosan terus dilakukan. Terbaru adalah mengembangkan Nomadic Market. Konsep ini sangat menjanjikan. Respons masyarakat pun luar biasa.

Pengenalan konsep Nomadic Market dilakukan saat Festival Cheng Ho 2018, di Semarang, Minggu (12/8). Hasilnya, publik Semarang menyambut antusias.

“Konsep Nomadic Market ini cukup menjanjikan. Banyak followers Pasar Karetan yang datang ke Festival Cheng Ho. Mereka membaur dengan wisatawan lainnya di sana,” ujar Juragan Pasar Karetan Mei Kristianti, Senin (13/8).

 Di Festival Cheng Ho, Nomadic Market Pasar Karetan berada di Sam Po Kong, Simongan, Semarang. Mei mengatakan, selain warga Semarang, wisatawan mancanegara pun tertarik dengan keunikan yang ditawarkan Pasar Karetan.

 “Banyak wisman yang datang ke stand Pasar Karetan di sini. Pokoknya ramai. Apalagi, festival ini memang ramai oleh wisatawan Tiongkok yang jumlahnya sekitar 7.000-an orang. Kalau total semua pengunjung, mungkin mencapai angka 10.000 orang,” tutur Mei lagi.

 Berada di Festival Cheng Ho, Pasar Karetan tidak turun full team. Mereka hanya menyertakan sampel pasar melalui lima lapak. Namun, lapak-lapak ini tetap menyajikan sajian khas Pasar Karetan. Seperti Gubuk Kopi, Kafe Telo, Bakul Jenang, Tahu Campur, hingga Bakso Batok Mlumah.

Menurut Mei, konsep Nomadic Market menjadi treatment terbaik untuk mengatasi kejenuhan market.

-- -

“Para netizen ini pada prinsipnya mudah bosan. Untuk itu, berbagai inovasi kreatif harus terus kami lakukan. Konsep Nomadic Market ini cukup efektif memberikan suasana baru bagi mereka. Hal ini pun terbukti dengan positifnya pembukaan pasar di Festival Cheng Ho,” lanjutnya.

 Hanya saja, Pasar Karetan dihadapkan pada dilema. Karena mengalami keterbatasan tenaga, venue Pasar Karetan di Radja Pendapa Camp, Desa Segrumung, Meteseh, Boja, Kendal, pun sementara ditutup. “Saat ini pasar di Segrumung diistirahatkan. Hal ini karena keterbatasan tenaga. Kami juga ada rencana untuk mencari sponsor. Sebab, Nomadic Market ini sangat menjanjikan,” tutur Mei.

 Kini, Pasar Karetan siap membidik venue baru. Destinasi baru yang dituju adalah Taman Wisata Puri Maerokoco. Rencananya program ini akan rilis Minggu depan. Mei menerangkan, Puri Maerokoco memiliki venue yang eksotis. Namun, destinasi ini masih sepi pengunjung.

“Pasar Karetan akan berada di Maerokoco pada Minggu depan. Tempat di sana bagus, tapi sayangnya sepi. Ini menjadi kesempatan kami untuk mengujicoba kekuatan followers Pasar Karetan. Kami pun berharap, para followers ini ikut berkunjung ke Maerokoco. Sebab, suasana di sana akan benar-benar baru. Jadi tidak membosankan. Nantinya, kami akan berada di Maeokoco sekitar 2 bulan,” terang Mei.

-- -

Rencananya, konsep tradisional Pasar Karetan akan diterapkan secara utuh pada Taman Wisata Puri Maerokoco. Nantinya, Puri Maerokoco bisa meneruskan konsep Destinasi Digital dari Pasar Karetan.

Melihat potensi besar, Pasar Karetan bahkan siap mengembangkan market di luar kota. Staf Khusus Menpar Bidang Komunikasi dan Media Don Kardono mengatakan, konsep ini terbuka bagi pasar lainnya.

 “Pasar Karetan cukup mulus menjalankan inovasi baru Nomadic Market ini. Hal ini sesuai dengan analisa awal. Bagaimanapun, audience dari Pasar Karetan ini sangat mobile. Jadi saat berada di wilayah lain tetap akan diikuti, apalagi experiencenya akan baru lagi. Yang jelas, konsep Nomadic Market ini bisa diterapkan di pasar lain terutama yang sudah siap dari berbagai aspek,” katanya.

Konsep Nomadic Market pun mendapat apresiasi dari Manteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. Menpar mengungkapkan, sistem Nomadic Market menjadi kombinasi terbaik untuk mengurai kejenuhan pasar. “Inovasi yang dilakukan Pasar Karetan harus dipuji. Ini bagus untuk ke depannya. Mereka juga ikut menghidupkan destinasi lain,” tutupnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau