Kilas

HUT RI Ke-73, Wali Kota Hendi Pamer Prototipe Becak Listrik

Kompas.com - 18/08/2018, 13:09 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memperkenalkan prototipe becak bertenaga listrik pada perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-73 di Balaikota Semarang, Jumat (17/8/2018). 

"Jadi nama project ini adalah Tiga Roda Indonesia. Kalau saya boleh sebut sih ini Becak 2.0 atau Becak Next Generation karena prinsip kendaraannya sama, yaitu rodanya tiga dan muatannya tiga orang, satu yang mengemudi, dua penumpangnya," kata Wali Kota yang akrab disapa Hendi itu. 

Lebih lanjut, Hendi mengatakan bahwa pembuatan dan pengenalan becak tersebut untuk membuktikan "Kerja Kita Prestasi Bangsa" sesuai dengan tema HUT RI Ke-73 Nasional.

Menurut Hendi, becak yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan otomotif di Kota Semarang ini nanti akan diproyeksikan sebagai kendaraan wisata di Kota Semarang

(BACA JUGA: Lewat Sinergitas, Kota Semarang Perbanyak Pembangunan Kampung Tematik)

Saat ini, kata Hendi, kendaraan berwarna putih dengan logo "Semarang Hebat" itu sendiri masih dalam tahap pengembangan sehingga belum dapat langsung dipergunakan dalam waktu dekat.

"Hari ini masih dalam tahap kami perkenalkan dahulu karena masih ada beberapa teknologi yang harus dikembangkan, serta beberapa regulasi yang harus diurus untuk bisa benar-benar dimanfaatkan masyarakat," tegas Hendi.

Lomba 17-an para ekspatriat

Selain memperkenalkan becak prototipe, Hendi mengikuti pula berbagai perlombaan 17-an bersama Kapolrestabes Semarang, Dandim 0733BS Kota Semarang, Dandenpom Semarang, dan Ketua DPRD Kota Semarang.

Tak ketinggalan, tamu undangan dari perwakilan negara-negara sahabat Kota Semarang seperti Belanda, Perancis, Belgia dan Australia juga diajak mengikuti perlombaan.

Pelaksanan lomba-lomba sendiri berlangsung dengan penuh gelak tawa. Ini terjadi karena ada beberapa perwakilan dari negara luar yang baru kali pertama mengikuti lomba 17-an Agustus. 

Salah satunya datang dari perwakilan Kerajaan Belanda Van Der Klugt yang kelihatan kebingungan saat perlombaan menggulung stagen khas wanita Jawa.

(BACA JUGA: Wali Kota Hendi Ingin Paskibraka Punya 3 Hal Ini)

Wali Kota Semarang pun sampai harus mengajari Klugt berulang kali, sampai akhirnya Hendi menyerah dan memberikan stagen miliknya yang sudah setengah digulung untuk diteruskan Klugt. 

Tak cuma itu, tawa kembali pecah saat perlombaan makan kerupuk dimulai. Pasalnya para perwakilan negara asing tampak kesulitan untuk menggigit kerupuk yang digantung.

Bahkan beberapa tampak sesekali mencoba menjulurkan lidahnya untuk menggaet kerupuk di depannya yang ternyata juga tidak membuahkan hasil.

Hendi yang berada di antara para peserta dari luar pun terlihat juga tak kuat menahan tawa di dalam suasana yang persaudaraan yang begitu cair itu.

Untuk diketahui, selain memperkenalkan becak prototipe dan mengikuti lomba 17-an Agustus, Hendi juga menjadi inspektur upacara HUT Kemerdekaan RI ke-73 di Balaikota Semarang.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau