Advertorial

Berikan Apresiasimu Bagi Pahlawan Olahraga Indonesia Dengan Cara Ini

Kompas.com - 25/08/2018, 10:26 WIB

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa pahlawannya. Seruan ini sering kita dengarkan, terlebih jelang hari bersejarah seperti hari kemerdekaan Republik Indonesia seperti sekarang. Namun, tidak sedikit yang belum memahami makna di balik seruan tersebut.

Selama ini, banyak yang mengira pahlawan adalah para figur dalam buku sejarah yang berjuang untuk kemerdekaan, sebut saja Soekarno-Hatta, Pangeran Diponegoro, dan Cut Nyak Dien. Padahal, pahlawan pun dapat hadir dari sosok yang berupaya mengharumkan nama bangsa di kancah internasional seperti apa yang dilakukan para atlet kita di ajang Asian Games.

Mereka mengorbankan banyak hal, baik waktu maupun tenaga, melatih fisik dan keterampilan mereka agar dapat menampilkan yang terbaik dan mempersembahkan medali untuk negeri ini. Hanya saja, tidak sedikit atlet yang nasibnya kurang diperhatikan setelah mereka memutuskan pensiun.

Salah satu sosok yang tengah menjadi perhatian saat ini adalah Winarni, mantan atlet angkat besi Indonesia.

Juara dunia angkat besi 1997 dan peraih medali perunggu Olimpiade Sydney 2000 harus menghadapi kenyataan pahit ketika sang buah hati, Achmad Fariz Taufik, mengalami atresia esofagus.

Atresia esofagus merupakan kelainan pada saluran kerongkongan yang tidak berkembang sebagaimana mestinya. Esofagus bagian bawah justru tersambung dengan saluran napas, sehingga dapat menyebabkan gangguan pernafasan, pencernaan, bahkan gangguan pada jantung.

Kondisi ini membuat Fariz tidak dapat menelan makanan atau minuman melalui mulut. Asupan makanan disalurkan lewat infus yang dipasang ke dalam perut (gastric catheter) dan hanya bisa dalam berbentuk cairan susu khusus yang sangat susah dicari.

Berat badan Faris hanya berkisar 10 kg, jauh di bawah berat badan anak usia 2,5 tahun pada umumnya.

Winarni menuturkan, putranya telah menjalani dua kali operasi, yakni saat bayi dan ketika berusia 20 hari. Semua pembiayaan operasi kala itu didapat dari PT Pos Indonesia dan Rosan P Roeslani, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Angkat Berat Besi dan Binaraga Seluruh Indonesia (PB PABBSI).

Namun, Fariz perlu menjalani kembali operasi yang akan menyambungkan usus besarnya langsung ke kerongkongan. Biaya operasi tersebut bisa mencapai Rp 500 juta tanpa BPJS.

Tidak hanya itu, Winarni dan suaminya juga membutuhkan biaya perawatan untuk memenuhi kebutuhan anaknya, seperti membeli susu, selang, dan perban, yang nilainya mencapai jutaan rupiah per minggu.

Dengan kebutuhan biaya yang cukup besar, penghasilan Winarni dan suaminya yang sama-sama berprofesi sebagai karyawan PT Pos Indonesia belumlah mencukupi apa yang mereka butuhkan untuk pengobatan Fariz serta biaya hidup keluarga.

Winarni telah menjadi pahlawan untuk negeri ini. Ia membawa kebanggaan untuk bangsa kita melalui prestasi yang telah ia torehkan dalam bidang angkat besi. Sudah sepantasnya kita turut mengapresiasi apa yang Winarni berikan untuk negeri ini dengan meringankan bebannya.

Berangkat dari hal tersebut, momobil.id mengajak Anda untuk turut berpartisipasi dalam kampanye ‘Sang Juara Kebanggaanku’. Caranya mudah, berikan like dan tuliskan komentar penyemangat bagi Winarni pada postingan kampanye ini di Instagram. Jangan lupa, ajak tiga teman untuk mengikuti kegiatan ini dan sertakan tagar #BanggaIndonesia #BanggaPunyaSendiri.

Setiap like yang Anda berikan pada postingan akan dikonversi menjadi  donasi dan disumbangkan kepada Winarni sekeluarga sebagai ucapan terimakasih momobil.id dan masyarakat Indonesia karena telah turut berjuang untuk keharuman nama bangsa.

Tidak hanya turut membantu Winarni, Anda pun juga berkesempatan untuk memperoleh satu dari lima voucher belanja dari Momobil.Id.

Jadi tunggu apalagi? Segeralah berpartisipasi dalam ‘Sang Juara Kebanggaanku’ dan berikan dukungan terbaikmu untuk Winarni, sang juara kebanggaan kita. #BanggaIndonesia, #BanggaPunyaSendiri.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau