Kilas

Ketika Hendi dan Gibran Kompak Bicara Wirausahawan

Kompas.com - 03/09/2018, 22:57 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menegaskan menjadi wirausahawan berarti harus mau merepresentasi kepedulian kepada masyarakat banyak untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Hendrar mengatakan hal tersebut, karena dalam berbisnis bukan soal punya modal atau tidak, tetapi punya konsep yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Untuk itu, membuat sebuah konsep bisnis tidak cukup bila hanya pintar saja, tetapi juga harus peduli.

"Makanya saat Kampung Brintik di Kota Semarang diubah menjadi Kampung Pelangi. Proses pengubahan didasarkan atas konsep untuk memberikan dampak nilai ekonomi yang tinggi dan nilai kepedulian sosial," ujar Hendrar.

Wali Kota yang akrab di sapa Hendi ini mengatakan hal tersebut, saat memberikan motivasi dalam berwirausaha pada kegaiatan Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Dian Nuswantoro, Senin (3/9/2018).

Hendi tak sendirian, hadir pula perwakilan start up Madhang.Id, Gibran Rakabuming dan Managing Director Grab Indonesia,. Sama dengan Hendi, keduanya didapuk memberikan motivasi dalam acara tersebut.

(BACA JUGA: Pemerintah Targetkan 20.000 Wirausaha Baru)

Lebih lanjut, Hendi mengatakan kalau dalam konsep pembangunan Kota Semarang dengan bergerak bersama, wirausahawan memiliki peran yang sangat penting.

"Ini bukan tentang keuntungan pribadi, melainkan tentang tanggung jawab kita kepada perkembangan bangsa," tutur Hendi.

Politikus PDI Perjuangan ini kemudian mencontohkan perusahaan swasta yang bertanggung jawab pada perkembangan bangsa, yaitu Madhang.Id dan Grab Indonesia. Dua perusahaan rintisan atau start up ini telah mampu memberi dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat di Indonesia.

Sementara itu, Gibran Rakabuming mengatakan, bila menjadi wirausahawan di Indonesia janganlah minder.

Anak pertama dari Presiden Joko Widodo tersebut menegaskan bahwa produk lokal saat ini sudah dicintai oleh masyarakat Indonesia sendiri. Hal ini terlihat pada pembukan Asian Games 2018 yang lalu.

"Kalau kalian lihat saat pembukaan Asian Games, jaket dan sepatu yang dipakai bapak saya adalah buatan lokal dan bagus," tegasnya.

(BACA JUGA: Apa Jadinya Indonesia Tanpa Wirausaha?)

Meski begitu, kata Gibran, jangan juga berpikiran karena produk lokal maka harganya harus murah. Sebaliknya, agar bisa bersaing di luar negeri maka harganya boleh sama dengan produk atau brand asing.

Sebagai informasi, terhitung sebanyak 3.857 mahasiswa baru dari berbagai fakultas Universitas Dian Nuswantoro hadir dalam cara tersebut. Kegiatan sendiri dilaksanakan di halaman gedung G Universitas Dian Nuswantoro, Jalan Imam Bonjol, Kota Semarang.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau