Advertorial

Tugas Baru Genwi Thailand Kumpulkan Inspirasi buat Pesona Indonesia

Kompas.com - 04/09/2018, 13:33 WIB

BANGKOK - Ada tugas baru nih, buat anggota Genwi - Generasi Wonderful Indonesia Thailand, yang baru saja diaktivasi dengan pengurus baru. Yakni mengumpulkan inspirasi dari manajemen pariwisata Thailand, negara nomor satu di ASEAN. Tahun 2017 lalu, inbound tourism-nya menembus 33 juta wisman.

Indonesia masih 14 juga wisman. “Karena itu kita perlu benchmark, perlu belajar dari sukses Thailand. Apa yang membuat mereka hebat? Apa yang bikin mereka kuat, wisman naik, dan juara di Regional Asean? Genwi harus membantu Kemenpar untuk menemukan jawabannya. Inspirasi apa yang bisa dikembangkan di tanah air?” kata Don Kardono, Stafsus Menpar Bidang Komunikasi dan Media.

Terutama dalam hal manajemen destinasi, yang menyangkut 3A: Atraksi, Akses, Amenitas. Atraksi apa yang membuat mereka hebat? Aksesnya dengan pasar nana, dan dibangun seperti apa? Amenitasnya? “Kita belajar, kalian bantu menemukan masalah dan solusinya,” tutut Don Kardono.

Silakan ditulis, dijabarkan pointersnya, diburu foto dan videonya, lalu kirim ke Genpi.Co. Biar dishare ke member Genpi dan Genwi melalui platform Genpi.Co. “Tidak harus yang sulit-sulit, yang sederhana juga oke, yang penting bisa menginspirasi seluruh stakeholder pariwisata?” kata Don Kardono.

Bagi member Genwi dari negara lain, juga boleh berbagi pengalaman dari negara-negara tempat mereka tugas belajar. Terutama yang maju sektor pariwisatanya. Ada ada trend baru, pariwisata yang efektif menarik wisatawan inbound. “Silakan kirim, siapa tahu ide dan pengalaman kalian memginspirasi banyak destinasi dan industri pariwisata di tanah air?” ajak Don Kardono.

Don Kardono mencontohkan Aryasatyani Dhiyani, yang acap dipanggil Yaya, mahasiswa S-3 dari Klaten, Surakarta yang tinggal di Bangkok. Dia menceritakan pengalaman selama tiga tahun ini sekolah di Thailand. Ada banyak inspirasi yang bagus untuk dikembangkan di tanah air.

Misalnya, soal akses. “Semua destinasi wisata di Thailand, meskipun kecil, tapi selalu ada akses, jalan menuju ke sana yang nyaman, juga ada transportasi publik yang memudahkan orang datang ke sana,” kata Yaya.

Juga soal keramah tamahan, Orang Thailand ini sangat ramah dan dari dalam hati, terhadap semua orang. Apalagi orang asing, yang sedang berwisata ke Thailand.

“Saya sudah membuktikan, saat bertanya ke warga lokal, selalu ditunjukkan, dengan baik dan santun. Bahkan kadang diantarkan ke orang yang bisa menjawab, ketika mereka menghadapi problem bahasa,” jelas Yaya lagi. 

Dia juga mencontohkan soal harga-harga. Di Thailand, di semua kota sama, harganya sama, tidak ada perasaan takut untuk belanja. “Tidak ada istilah menthung di sini. Apalagi kalau orang asing, atau luar kota, harga tetap sama dengan semua pembeli, kita harus belajar yang seperti ini,” sebut Yaya.

Masih banyak lagi cerita pengalaman yang bagus sebagai inspirasi buat Pesona Indonesia. Untuk memajukan pariwisata Indonesia. Silakan bergabung dan memberikan inspirasi positif mu, di Genpi.Co.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau