Kilas

Meski Ekonomi Global Melambat, Ketimpangan Di Semarang Malah Turun

Kompas.com - 14/09/2018, 05:35 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Kota Semarang termasuk salah satu kota di Indonesia yang terdampak krisis ekonomi global pada periode 2008-2009.

Hal ini terlihat dari Indeks Gini Ratio (ketimpangan masyarakat) Kota Semarang pada 2009 yang sebesar 0,37. Bandingan dengan Solo yang hanya sebesar 0,27, Salatiga 0,29 dan Kendal 0,22.

Dengan Indeks Gini Ratio seperti itu, maka ketimpangan masyarakat di Kota Semarang menjadi yang terbesar di antara daerah-daerah lain di Jawa Tengah.

Namun, pada era kepemimpinan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi ketimpangan masyarakat saat terjadi perlambatan ekonomi global pada 2015 dapat dikendalikan bahkan menurun.

Dalam catatan BPS, pada 2015 indeks ketimpangan masyarakat Kota Semarang turun di angka 0,31. Lebih baik dari Solo yang hanya sebesar 0,36, Salatiga 0,35 dan Kendal 0,34. Capaian Kota Lumpia pada tahun itu pun menjadi salah satu yang terkecil di Jawa Tengah.

"Saya rasa capaian positif ini bukan hanya hasil kerja Pemerintah Kota Semarang saja, tetapi juga ada campur tangan Pemerintah Pusat, Provinsi, pihak swasta, akademisi, dan masyarakat seluruhnya," tegas Wali Kota yang akrab di sapa Hendi, pada sebuah Talk Show yang diselenggarakan oleh Kadin Kota Semarang, Kamis (13/9/2018).

Lalu bagaimana dengan perlambatan ekonomi global yang kembali terjadi pada 2018?

Untuk menghadapi itu, Wali Kota Semarang yang juga politisi PDI Perjuangan tersebut sudah mengupayakan sejumlah program fasilitas untuk mengatasi ketimpangan di masyarakat.

Program tersebut antara lain adalah berobat gratis, sekolah gratis, renovasi rumah gratis, hingga gas gratis untuk rumah tangga yang dihasilkan dari pengolahan sampah di tempat pembuangan akhir Jatibarang.

"Dan termasuk hari ini, konsep pembangunan bergerak bersama harus terus kita pertahankan untuk dapat terus saling mendukung," tegasnya.

Dalam acara tersebut selain Hendi, hadir pula Ketua Kadin Jawa Tengah, Kukrit Suryo Wicaksono, Pengamat Eknomi Aviliani, Presiden Direktur PT PP Persero Lukman Hidayat dan Ketua Kadin Kota Semarang Arnaz Andrarasmara.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau