Kilas

Wali Kota Hendi Tegaskan Pancasila sebagai Dasar Negara adalah Mutlak

Kompas.com - 01/10/2018, 19:00 WIB


KOMPAS.com
- Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengungkapkan, jika Pancasila sebagai dasar negara adalah mutlak dan tidak perlu diperdebatkan lagi.

Hal ini Hendi, panggilan akrab Wali Kota Semarang, katakan usai menjadi inspektur Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tingkat Kota Semarang di Halaman Balai Kota, di Jalan Pemuda, Semarang, Senin (1/10/2018).

Seperti dalam rilis yang Kompas.com terima, Hendi mengatakan, bila kegiatan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada hari ini merupakan wujud dharma bhakti kita terhadap saktinya dasar negara Pancasila.

Lebih lanjut, Hendi menandaskan, sejarah kelam tentang  Gerakan 30 September atau G30S/PKI merupakan bukti jika dasar negara Pancasila dirongrong oleh paham dan keyakinan lain maka itu tidak berhasil.

"Kita punya sejarah bangsa yang waktu itu cukup kelam tanggal 30 September ada tujuh jenderal yang diculik oleh pihak yang ingin merongrong dasar negara Pancasila. Tetapi Alhamdulillah, sejarah juga mengatakan, bahwa Pancasila hari ini tetap kokoh dan sekarang juga kokoh," tandas Hendi.

Berangka dari hal itu, Hendi berharap, dengan bukti sejarah kokohnya dasar negara Pancasila, maka sampai hari ini kita harus tetap mengawal dan mengamankan Pancasila sebagai dasar negara kita.

"Artinya, pesan saya kepada masyarakat, persoalan mengenai dasar negara kita Pancasila ini sudah melewati tantangan, cobaan yang luar biasa. Jadi, hari ini kita bersikukuh dan berkomitmen untuk mengawal Pancasila sebagai dasar negara," ajak Wali Kota Semarang.

Dalam kesempatan yang sama, Hendi berpesan khusus pula kepada generasi milenial supaya mengetahui sejarah lahirnya Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober.

Hal ini perlu agar mereka bisa timbul rasa cinta dan rasa bangga terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKR).

Dengan demikian, kata Hendi,  anak-anak muda tidak mudah dipengaruhi oleh paham atau aliran tertentu yang sengaja mendiskreditkan Pancasila sebagai dasar NKRI) saat ini.

"Mereka gampang kok, tinggal browsing saja di google atau minta masukan pada sesepuh-sesepuh dan senior-senior tentang perjalanan bangsa," pungkas Hendi. 

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau