Advertorial

Keren, Kekayaan Budaya Raja Ampat Tersaji di Festival Pesona Bahari 2018

Kompas.com - 20/10/2018, 11:34 WIB

WAISAI – Festival Pesona Bahari Raja Ampat benar-benar keren. Dibuka di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), Raja Ampat, Kamis (18/10), beragam budaya ditampilkan. Festival Pesona Bahari Raja Ampat dibuka Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuty.

Atraksi keren sudah tersaji sejak awal wisatawan menginjakkan kaki di Pelabuhan Waisai. Teriakan Jo Suba, langsung menyambut wisatawan yang turun dari KM Sangiang. Jo Suba adalah bahasa Papua yang berarti selamat datang.

Setelah itu, Tarian Mansorada meluncur. Mansorada adalah tarian penyambutan kepada tamu. Atraksinya, memainkan alat musik tradisional tambur. Ketukan alat musik ini mengiringi gerakan penari. Puncaknya, perwakilan wisatawan diberikan topi tradisional. Setelah itu wisatawan menginjak air yang ada di baskom. Maknanya, agar wiaatawan yang hadir betah, selalu aman, selama di Raja Ampat.

Atraksi budaya kembali dihadirkan di Pantai WTC. Kali ini aksi ditampilkan anak-anak binaan sanggar Tari Mbilin Kayam, Waisai, Raja Ampat. Dengan alat musik tambur, mereka menyambut para tamu undangan. Selain itu, mereka juga menampilkan tari kreasi.

Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuty, mengatakan Festival Pesona Bahari Raja Ampat sudah melewati tahapan kurasi yang ketat.

“Setiap event yang masuk dalam Calendar of Event Kementerian Pariwisata, sudah melewati tahapan kurasi. Semua hal kita nilai. Untuk urusan budaya kita ada timnya,” terangnya.

Esthy yang juga Ketua Pelaksana Calendar of Event Kementerian Pariwisata, menilai kualitas Raja Ampat tidak perlu diragukan lagi.

“Raja Ampat adalah destinasi terbaik. Salah satu destinasi Indonesia yang berkualitas dunia. Jadi event ini tidak perlu lagi diragukan,” paparnya.

Nuansa budaya semakin kental dengan tampilnya ritual Sasi. Yang dipertunjukkan adalah Sasi Hutan dan Sasi Laut.

Sasi adalah ritual meminta izin dan syukur atas apa yang telah diberikan ke masyarakat. Ritual ini dibawakan dengan sangat apik oleh Suku Asmat asal Misool.

Suasana semakin seru saat penyanyi Edo Kondologit tampil. Penyanyi yang pernah ambil bagian di Asia Bagus dan Indonesia Idol itu bahkan mengajak para tamu undangan untuk menyanyi bersama.

Edo mengawali aksinya dengan lagu Nyiur Melambai. Lagu ini menggambarkan keindahan alam Indonesia. Termasuk Raja Ampat.

“Papua ini milik semua. Mau yang hitam putih, keriting lurus, ataupun sipit. Kita semua Papua. Ayo Kita bersama-sama menjaga tanah Papua yang Indah ini,” ajak Edo.

Tak lama, lagu Aku Papua mengalun. Edo mengajak tamu bernyanyi. Termasuk Esthy Reko Astuty. Satu-satu para undangan diajak mendendangkan lagu ini.

“Hitam kulit, keriting rambut aku Papua. Tapi karena Papua milik semua, kita ubah liriknya ya. Jadi hitam putih, keriting lurus,” ajaknya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya sangat senang dengan festival ini. “Karena, tidak hanya memperlihatkan keindahan alam Raja Ampat yang sudah terkenal di dunia. Budayanya pun turut diperkenalkan,” katanya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau