Advertorial

Meningkatkan Ekonomi dan Mobilitas Masyarakat dengan Membangun Infrastruktur Transportasi

Kompas.com - 24/10/2018, 06:00 WIB
Presiden RI Joko Widodo memberi tugas kepada Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi untuk membangun infrastruktur transportasi. (Sumber foto: BKIP KEMENHUB) Presiden RI Joko Widodo memberi tugas kepada Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi untuk membangun infrastruktur transportasi. (Sumber foto: BKIP KEMENHUB)

Kompas.com - Tak dipungkiri lagi, hampir semua melakukan aktivitas dengan menggunakan transportasi, karena bisa mempermudah masyarakat untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain hingga ke pelosok Indonesia. Transportasi pun tidak hanya dipergunakan untuk mengangkut manusia, tetapi juga muatan barang.

Pembangunan infrastruktur transportasi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat seperti membuka kesempatan ekonomi, membuka pintu gerbang dari dan ke daerah lain, membuka lapangan pekerjaan, mengurangi jarak tempuh dan waktu perjalanan, serta memudahkan pergerakan manusia dan muatan barang.

Keberadaan transportasi menjadi salah satu penyokong kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Transportasi juga mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat, meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, serta mewujudkan kemandirian ekonomi dengan transportasi juga memegang peranan penting dalam perkembangan perekonomian nasional, sebab. menggerakan sektor strategis ekonomi domestik.

“Berbagai pembangunan infrastruktur kita lakukan, tak hanya di wilayah perkotaan tapi juga daerah pelosok. Saya diminta oleh Presiden Republik Indonesia melakukan sosialisasi pembangunan agar bisa digunakan dengan baik oleh masyarakat. Selain itu, dapat meningkatkan perekonomian, hubungan antar daerah lebih baik, dan Indonesia bisa bersatu dengan adanya konektivitas,” ungkap Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi.

Pemerintah menyadari pentingnya peranan transportasi bagi keberlangsungan hidup masyarakat dan negara. Oleh karena itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membangun sarana dan prasarana infrastruktur transportasi di sektor darat, laut, udara, dan perkeretaapian di berbagai wilayah Indonesia. Indonesia memiliki daerah-daerah terpencil yang cukup sulit dijangkau sehingga memerlukan sarana dan prasarana transportasi yang mumpuni untuk menghubungkan daerah-daerah tersebut.

“Sentra-sentra pertumbuhan ekonomi baru didorong tumbuh sejalan dengan pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur ini bukan hanya untuk menyambung konektivitas dan membuat perekonomian jadi lebih efisien, tapi juga mempersatukan Indonesia sebagai bangsa,” tutur Presiden RI Joko Widodo

Pembangunan Infrastruktur Transportasi Darat dan Perkeretaapian

Kemenhub membangun pelabuhan penyeberangan di 21 lokasi di antaranya Pelabuhan Penyeberangan Kuala Tungkal di Jambi, Pelabuhan Penyeberangan Seba di Nusa Tenggara Timur, dan Pelabuhan Penyeberangan Amahai di Maluku. Pembangunan ini bertujuan  untuk menjangkau daerah terpencil, memperlancar distribusi logistik, dan meningkatkan kualitas pelayanan keselamatan serta keamanan.

- -

Selain itu, kapal penyeberangan roro pun dibangun sebanyak 14 unit berukuran 300 GT, 500 GT, 600 GT, dan 750 GT. Kapal-kapal penyeberangan roro ini melayani rute perintis salah satunya Lintas Namlea-Waisala di Maluku.

Tak hanya kapal penyeberangan, masyarakat pun memanfaatkan pelayanan Damri perintis. Penumpang angkutan Damri perintis berjumlah sebanyak 12.226.765 orang dari tahun 2014 - 2018. Kemenhub juga membangun Bus Rapid Transit (BRT) sebanyak 1.918 unit dan merehabilitasi terminal di 65 lokasi.

Perkeretaapian termasuk sektor transportasi penting dalam mobilitas masyarakat. Kemenhub membangun infrastruktur transportasi perkeretaapian di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.

Pembangunan jalur kereta api termasuk jalur ganda dan reaktivasi tahun 2018 ditargetkan mencapai 366,60 km’sp. Pembangunan jalur ganda kereta api ini bertujuan untuk meningkatkan headway (waktu tempuh) dan meningkatkan kapasitas lintas kereta, contohnya waktu tempuh awalnya 100-120 menit menjadi 60-90 menit dan kapasitas lintas dari 54 kereta api menjadi 114 kereta api.  

Sejak tahun 2014-2018 pembangunan jalur kereta api termasuk jalur ganda dan reaktivasi berjumlah 735,19 km’sp. Tidak hanya membangun saja, tetapi Kemenhub juga melakukan peningkatan dan rehabilitasi jalur kereta api mencapai 394,6 km.  

Pembangunan jalur kereta api dan jalur ganda ini dilakukan di antaranya yaitu jalur kereta api menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM), jalur ganda kereta api Martapura – Baturaja, jalur light rail transit (LRT) Palembang, dan jalur ganda kereta api Prabumulih – Kertapati.

Pembangunan prasarana berupa 45 stasiun dan bangunan operasional kereta api juga dilakukan untuk menunjang pelayanan transportasi kepada masyarakat. Pembangunan Stasiun Maja, Stasiun Palmerah, Stasiun Kebayoran, dan Stasiun Parungpanjang terdiri dari 2 lantai dan dilengkapi dengan fasilitas difabel, jembatan penyeberangan orang (JPO), lift, dan tangga eskalator.   

Pembangunan Infrastruktur Transportasi Laut, Udara, dan Sumber Daya Manusia

Pembangunan infrastruktur sektor laut terkonsentrasi untuk pembangunan pelabuhan non komersil dan pembangunan kapal pendukung program tol laut. Tol laut masih menjadi program unggulan untuk pendistribusian barang, menjaga ketersediaan barang, dan pemerataan ekonomi.

Jumlah trayek tol laut mengalami peningkatan. Di tahun 2016, tol laut hanya berjumlah 6 trayek, kemudian bertambah menjadi 13 trayek di tahun 2017, dan jadi 15 trayek di tahun 2018.

- -

Kemenhub membangun 100 unit kapal pendukung program tol laut terdiri dari 60 unit kapal perintis, 15 unit kapal kontainer, 5 unit kapal ternak, 20 unit kapal rede. Kapal perintis yang dibangun berukuran 2000 GT dan 1200 GWT.

Kapal perintis ini melayani keperintisan di wilayah Aceh, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua. Sementara itu, kapal ternak dibangun untuk mendukung swasembada daging nasional, menurunkan harga daging, dan memberikan pengangkutan hewan ternak secara layak.

Pembangunan pelabuhan non komersil di 104 lokasi di antaranya Pelabuhan Tapaleo di Maluku Utara, Pelabuhan Wayabula di Maluku Utara, Pelabuhan Atapupu di NTT, Pelabuhan Wasior di Papua Barat, dan Pelabuhan Bicoli di Maluku Utara.

Keberadaan pelabuhan ini memberikan banyak manfaat bagi masyarakat seperti membuka akses transportasi laut karena akses transportasi darat dan udara yang belum tersambung ataupun belum tersedia, membuka gerbang sektor pariwisata, prasarana bongkar muat barang dan pelayanan penumpang, mewujudkan konektivitas, dan menumbuhkan perekonomian wilayah.

Indonesia memiliki wilayah-wilayah yang hanya dapat diakses oleh transportasi udara. Oleh sebab itu, Kemenhub membangun bandar udara di daerah terpencil hingga perbatasan untuk membuka akses transportasi dan konektivitas. Ada 10 bandar udara yang dibangun sejak tahun 2014-2018.

Pembangunan bandar udara Wamena di Papua membantu masyarakat di wilayah Pegunungan Jayawijaya agar dapat terhubung dengan Kota Jayapura dan kabupaten pemekaran lainnya seperti Kabupaten Lanny Jaya dan Tolikara. Begitu pula dengan pembangunan Bandar Udara Juwata di Tarakan agar akses masyarakat Kalimantan Utara dan daerah sekitarnya meningkat.

Bandar Udara Domine Eduard Osok di Sorong.  (Sumber Foto: BKIP KEMENHUB) Bandar Udara Domine Eduard Osok di Sorong. (Sumber Foto: BKIP KEMENHUB)
Pembangunan bandar udara juga untuk menumbuhkan pariwisata dan perekonomian daerah seperti Bandar Udara Domine Eduard Osok di Sorong, Bandar Udara APT Pranoto di Samarinda, Bandar Udara Matahora di Wakatobi, dan Bandar Udara Internasional Komodo di Labuan Bajo.

Pengadaan sarana pesawat latih serta kapal latih dan mengembangkan Kampus Akademi Perkeretaapian Indonesia di Madiun, Kampus BP2IP Padang Pariaman di Sumatera Barat, dan Kampus PIP Makassar di Sulawesi Selatan akan melahirkan sumber daya manusia transportasi yang berkompetensi sesuai dengan bidangnya.

Peningkatan pelayanan transportasi tidak hanya dengan membangun infrastruktur sarana dan prasarana transportasi saja, tetapi juga infrastruktur untuk pengembangan sumber daya manusia transportasi.