Advertorial

Film Kunjungan Charlie Chaplin ke Bali Ditayangkan di UWRF 2018

Kompas.com - 26/10/2018, 18:44 WIB

UBUD – Event Ubud Writers & Readers Festival (UWRF 2018) resmi dimulai, Rabu (24/10). Di hari pertamanya, UWRF menayangkan film dokumentasi perjalanan Chaplin pada tahun 1932. Berjudul 'Chaplin in Bali'. Pemutaran film ini, didukung Balinale-Bali International Film Festival.

Susah rasanya untuk percaya komedian kelas dunia, Charlie Chaplin, pernah berkunjung ke Indonesia? Tapi ternyata benar Charlie Chaplin pernah jadi turis di Bali. Hal itu terjadi di dekade 1932. Ketika dunia dilanda Depresi Ekonomi yang juga disebut Malaise.

"Orang Indonesia biasa menyebutnya zaman 'meleset'. Banyak orang kehilangan pekerjaan, perusahaan gulung tikar dan angka kejahatan meningkat. Tapi Chaplin yang pernah miskin di London pada pergantian abad XIX ke XX itu justru berlibur," ujar Manajer Umum UWRF, Kadek Sri Purnami, Rabu (24/10).

Kunjungan Chaplin ke pulau indah Bali, menjadi bagian dari sejarah. Chaplin datang ke Indonesia via Surabaya. Charlie dan kakaknya menuju Singaradja, Bali pada 4 April 1932.

"Saat itu, mereka sedang berlibur di Hindia Belanda dan menghentikan kegiatan berkeseniannya selama beberapa waktu," ungkapnya.

Kunjungan komedian dunia yang sangat kesohor itu, menjadi kehormatan bagi Bali. Apalagi, saat itu Bali belum terlalu berkembang sebagai tempat wisata. Bali saat itu belum ramai seperti sekarang.

Pada dekade 1930-an, Bali mulai dilirik sebagai tempat kesenian. Bali mulai dikenal dunia karena orang kulit putih di sana mulai memperkenalkan seni Bali ke seluruh dunia. Salah satunya oleh Walter Spies atau Rudolf Bonnet.

Di film itu, Chaplin menginap di Bali Hotel, Denpasar. Chaplin langsung jatuh cinta dengan Bali. Terbukti, dia menunda perjalanannya kembali ke Surabaya yang semula tanggal 10 menjadi tanggal 17 April.

Chaplin tampak menikmati suguhan gemalan dan tarian Bali. Wujud kesenangan Chaplin lainnya adalah dengan mengadakan pemutaran film-filmnya di Denpasar untuk menghibur orang Bali.

Menteri Pariwisata Arief Yahya juga ikut merespon kegiatan ini. Menurutnya, UWRF tidak hanya turut mempromosikan destinasi wisata, tapi juga mengungkap sejarah Bali yang digemari tokoh internasional sejak lama.

“Saya yakin film Chaplin in Bali dapat menjadi inspirasi bagi para wisatawan. Hal ini juga membuktikan kekuatan seni dan budaya Bali juga keindahan alamnya sudah mendunia sejak lama," ujar Menpar Arief Yahya.

UWRF masih akan berlangsung hingga 28 Oktober 2108. Perhelatan sastra terbesar di Asia Tenggara akan dihadiri 180 pembicara dari 30 negara.

Mengangkat tema Jagadhita: The World We Create Kadek, perhelatan ini digelar di 40 lokasi di Ubud. Akan ada 70 topik pembahasan. UWRF 2018 juga akan menyuguhkan 100 program yang terdiri pemutaran film, peluncuran buku, dan pameran kesenian.

"Bali memang luar biasa. Sebagai World Best Destination 2017 versi TripAdvisor Bali selalu hadir memberikan inspirasi bagi dunia. Seperti halnya UWRF 2018 ini," pungkas Menpar Arief Yahya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau