kabar mpr

Basarah : Persatuan Nasional Kunci Keselamatan Bangsa

Kompas.com - 05/11/2018, 21:13 WIB

MALANG - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Ahmad Basarah menekankan pentingnya persatuan nasional sebagai kunci menjaga keselamatan bangsa. Basarah menegaskan bahwa bangsa Indonesia bisa lepas dari cengkraman penjajah dan memproklamasikan kemerdekaanya pada 17 Agustus 1945 tidak lain karena bangsa Indonesia bersatu padu dan tidak mau dipecah belah Belanda lagi dengan politik devide et imperanya. 

"Bentang sejarah di tanah air membuktikan bahwa persatuan nasional melahirkan peristiwa-peristiwa besar. Sebut saja kebangkitan nasional tahun 1908, Kongres Pemuda Pertama dan Kedua pada tahun 1926 dan 1928 hingga Proklamasi tahun 1945. Bahwa pemudalah yang menjadi pelopor persatuan nasional,"  kata Basarah saat memberikan kuliah umum dalam acara Peringatan 90 Tahun Sumpah Pemuda,  bertajuk "Implementasi Nilai-Nilai Sumpah Pemuda di Era Milenium" di Universitas Brawijaya, Senin 5 November 2018 bersama Menpora Imam Nahrowi dan Dosen UB Ali Safaat.  

Wasekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan melanjutkan bahwa upaya menggalang Persatuan Nasional terlihat jelas ketika Bung Karno pada tahun 1927 mendirikan PNI dan tokoh-tokoh NU mendirikan NU tahun 1926, dan berdirinya Muhammadiyah tahun 1912 .  

Tahun 1928 terjadilah Kongres Pemuda II , yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda  dan menjadi titik tolak peleburan identitas kedaerahan berbagai organisasi pemuda. Segenap pemuda dan pemudi sepakat menanggalkan ikatan primordial dan menggemakan semangat persatuan nasional.  

"Karena itulah pemuda merupakan tulang punggung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pemuda yang bersatu telah melahirkan rentetan peristiwa-peristiwa besar.  Dan persatuan nasiomal adalah kunci dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman dan penjajahan," terang Anggota DPR RI dari Dapil Malang Raya itu. 

Di sisi lain peringatan 90 tahun momentum sumpah pemuda harus dijadikan refleksi dan proyeksi perjalanan bangsa ke depan. Dikatakan demikian, karena pada tahun 1928 segenap pemuda dan pemudi mengenyahkan perbedaan dan mencari titik temu. Sebaliknya di era milenium seperti saat ini fenomena yang nampak pemuda justru memperdebatkan perbedaan.  

Dulu, sambung Basarah pemuda sepakat menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Namun kini, banyak pemuda yang bangga berbahasa asing.  

"Sumpah Pemuda tahun 1928 melahirkan ide dan terobosan besar. Yang menjadi inisiatornya adalah para pemuda. Segenap pemuda sepakat menjunjung persatuan nasional. Inilah teladan yang bisa kita petik. Warisi api sumpah pemuda, jangan sia-siakan pengorbanan para pejuang dan syuhada bangsa yang telah mewariskan kemerdekaan bangsa Indonesia ini. 

Warisilah api dan semangat persatuan nasional jangan kita kembali jaman kegelapan ketika bangsa kita mudah diadu-domba kekuatan asing" demikian penjelasan Basarah.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau