Advertorial

Ada Tradisi 10 Tahunan di Pesta Rakyat Banda 2018

Kompas.com - 07/11/2018, 10:47 WIB

MALUKU TENGAH - Ada yang berbeda di Pesta Rakyat Banda 2018.  Ada tradisi langka yang hanya dilakukan 10 tahun sekali. Namanya Cuci Sumur (Cuci Parigi) di Negeri Lonthor, Pulau Banda Besar, Kecamatan Banda Naira, Kabupaten Maluku Tengah. Pesta Rakyat Banda akan digelar 11 hingga 14 November 2018.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Habiba Saimima, Cuci Parigi adalah sebuah adat untuk mencuci sebuah sumur tua kembar yang berada di Desa Lonthor. Atau, desa tertua yang ada di kepulauan Banda. Sumur ini adalah satu satunya yang ada di Desa Lonthor.

"Adat ini adalah yang terberat dan terbesar di antara adat-adat yang lain yang ada di seluruh kepulauan Banda. Biasanya seluruh orang Banda yang ada di perantauan akan pulang kampung untuk menghadir acara ini," ujar Habiba, Senin (5/11).

Ada hal aneh dari sumur ini. Sumur kembar ini letaknya berdampingan. Dasar kedua sumur tersebut saling berhubungan. Akan tetapi, salah satu sumur mengandung air yang bersih sehingga dapat langsung diminum, sedang sumur yang lain berair payau.

"Cuci Parigi merupakan acara kolosal dengan struktur ritual yang sarat dengan unsur-unsur mitos yang bernilai seni tinggi," katanya.

Dalam Cuci Parigi, masyarakat kampung digiring untuk mengeringkan sumur desa yang unik ini. Pengeringan dilakukan dengan selembar kain tanpa sambungan selebar satu meter dengan panjang sekitar 100 meter. Masyarakat Lonthor menyebutnya Kain Gajah.

"Upacara Cuci parigi dimulai dengan menggotong kain gajah untuk dimasukan ke dalam sumur. Pada saat itulah kegiatan membersihkan sumur dilakukan sesuai ketentuan adat yang berlaku," jelas Habiba.

Setelah dipandang bersih, maka masyarakat mulai menarik ujung kain gajah keluar dari sumur dengan diiringi syair dan lagu-lagu adat daerah yang penuh magis. Kemudian para gadis desa menggotong kain itu menuju pantai. Bersamaan dengan itu, mata air menyemburkan air bersih dari pojok pojok sumur yang telah dibersihkan.

Selain Cuci parigi, Pasta Rakyat Banda 2018 juga akan menampilkan banyak atraksi lainnya. Seperti pertunjukan tarian, musik dan teater, pameran kerajinan tangan, lomba perahu belang tradisional, pameran kuliner dan dialog sejarah.

"Kegiatan ini akan disiapkan semaksimal mungkin dari sekarang. Sehingga pada puncaknya lebih ramai dibanding 10 tahun silam," ujarnya. 

Selain itu, lewat event Pesta Rakyat Banda, nantinya dispar Provinsi Maluku akan memperkenalkan budaya bersepeda bagi masyarakat Banda. Dijelaskan Habiba, kondisi Banda yang terbilang kecil sangat cocok dalam mengembangkan wisata bersepeda di Pulau yang pernah dijajah oleh Belanda dan Portugis itu.

"Dengan memperkenalkan budaya bersepeda, maka kedepannya di Banda juga bisa dilangsungkan perlombaan Dwiathlon.  Lomba-lomba di Banda kita selalu bagikan hadiah sepeda, sehingga kedepannya bisa dibuat lomba Dwiathlon di Banda,” ujar dia.

Menteri Pariwisata Arief Yahya langsung mengangkat dua jempol untuk Banda. Apalagi tahun ini acara Pesta Rakyat Banda digarap lebih serius lagi.

“Eventnya harus semakin keren. Semua menghibur. Maluku punya banyak keistimewaan. Apabila ditambah event-event bagus, impact-nya pasti akan luar biasa. Yang suka seni dan budaya, wajib ke sini,” ajak Menpar Arief Yahya.

Banda Neira terkenal dengan situs sejarah yang dapat dikunjungi wisatawan, seperti Benteng Belgica, rumah pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, pemimpin kemerdekaan revolusioner.

"Kepulauan Banda juga terkenal dengan tempat diving dan snorkeling-nya, berkat air yang jernih, kehidupan laut yang melimpah dan terumbu karang yang indah," papar Menpar Arief Yahya

Bagi yang suka snorkling dan diving, nama Banda pastilah tak asing terdengar di telinga. Ada sekitar 30 titik penyelaman kelas dunia di sana. Terumbu karangnya tak kalah indah dari Raja Ampat di Papua Barat. Populasi ikannya pun banyak.

Untuk mencapai Banda, dari Jakarta, pesawat  yang terbang selama enam jam akan mendarat di Ambon. Setelah itu, wisatawan bisa naik taksi menuju Pelabuhan Tulehu untuk berlayar dengan kapal cepat selama enam jam ke Pelabuhan Banda Neira.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau