kabar mpr

Basarah : Ideologi Transnasional Ancam Pola Pikir Generasi Muda

Kompas.com - 07/11/2018, 11:57 WIB

Dua ideologi transnasional yang membonceng kemajuan teknologi informasi terus berkembang secara masif menghancurkan generasi muda Indonesia. Ideologi tersebut adalah liberalisme dan fundamentalisme pasar serta fundamentalisme agama.

Jika generasi muda sebagai aset bangsa sudah rusak pola pikirnya, maka pupuslah harapan bangsa Indonesia untuk memiliki pemimpin masa depan yang baik di masa mendatang.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Ahmad Basarah, saat memberikan ceramah kebangsaan dan Pancasila dalam seminar bertajuk "Pemuda dan Tantangan Membumikan Pancasila di Zaman Now” di Hotel Selecta, Kota Batu, Jawa Timur, Selasa, (6/11/2018).

"Karena itulah, diperlukan filter kuat terhadap ideologi transnasional tersebut. Mengapa ikan di laut tidak asin rasanya? Karena ikan memiliki insang yang merupakan filter. Begitu juga dengan generasi muda harus memiliki filter, harus memiliki saringan agar ideologi transnasional tidak mudah masuk dan memengaruhi pola pikir generasi muda," terang legislator asal daerah pemilihan Malang Raya tersebut.

Dalam sambutannya terhadap 350 siswa-siswi sekolah menengah umum (SMU) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) serta 54 guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN), Basarah menerangkan bagaimana kedua ideologi tersebut membawa dampak bagi generasi muda.

Paham fundamentalisme bersumber dari paham individualisme, sementara liberalisme menegasikan kepentingan komunal dan mengedepankan kepentingan individu. Salah satu contoh praktik ideologi liberalisme adalah adanya kampanye LGBT dan pernikahan sejenis atas nama Hak Asasi Manusia.

"Tren dunia menunjukkan, sudah ada 10 negara dunia yang melegalkan pernikahan sejenis. Bahkan, fenomena di Malang sendiri dengan jelas di jejaring sosial bergentayangan akun-akun dan grup yang vulgar mempertontonkan hubungan LGBT," tutur Basarah.

Tantangan lain yang juga perlu dihadapi generasi muda saat ini adalah munculnya fundamentalisme dan radikalisme berbasis agama.

Hal ini bukan isapan jempol belaka, apalagi bila kita menengok temuan lembaga survei nasional terkait sikap dan pandangan pelajar serta guru agama yang cenderung bersikap intoleran.

Survei PPIM UIN Jakarta tahun 2018 misalnya, menunjukkan 63,07 % guru muslim memiliki opini intoleran terhadap agama lain.

Ada pula survei dari Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LAKIP) pada tahun 2011 yang menemukan bahwa 76,2% guru agama Islam setuju dengan penerapan syariat Islam di Indonesia.

"Tingkatan ekstrimisme yang paling parah dan sudah menjadi fakta di tanah air adalah berbagai rentetan tindakan tindak pidana terorisme di tanah air. Kita tentu saja masih ingat bagaimana kejadian pemboman di Surabaya yang dilakukan oleh satu keluarga," ujar mantan Sekjen Presidium GMNI periode 1996-1999 tersebut.

Seminar yang juga mensosialiasikan empat Pilar tersebut dibuka oleh Walikota Batu, Dra. Hj. Dewanti Rumpoko, M.Si.

Acara ini juga dihadiri oleh Wakil Walikota Batu Ir. H. Punjul Santoso, M.M, perwakilan Pepabri, perwakilan Veteran, Perwakilan Dewan Harian Nasional Cabang Kota Batu 45, tokoh agama, tokoh masyarakat, 350 siswa-siswi SMA, SMU, SMK se-Kota Batu, Jawa Timur dan 54 guru pendamping pengajar mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN).

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau