Menghabiskan waktu bersama teman di sebuah kafe atau restoran menjadi tren yang digandrungi generasi muda Indonesia beberapa tahun terakhir. Masalah berapa kocek yang perlu dirogoh tidak menjadi soal, asalkan tempat itu nyaman dan mampu memberikan prestise baik itu di dunia maya ataupun nyata. Akan tetapi, jika aktivitas ini dilakukan secara intens tanpa perencanaan yang tepat, kebutuhan pokok di masa depan akan terganggu.
Oleh karena itu, pemahaman akan prioritas mengenai kebutuhan dan keinginan menjadi hal penting yang harus dimulai sejak usia muda. Menunda keinginan sesaat bukan berarti membuat seseorang menjadi tidak mengikuti tren. Penundaan hanyalah bentuk lain bagi seseorang dalam menentukan skala prioritas untuk kehidupannya pada masa kini dan yang akan datang.
“Nongkrong di restoran atau kafe itu gak jadi masalah. Tapi, kita harus bisa mengendalikannya. Oleh karena itu, menjadi penting untuk belajar perencanaan keuangan sejak muda agar nantinya kita menjadi terbiasa memilah keinginan dan kebutuhan yang kita punya,” ujar Novita Rumngangun selaku Director & Chief Marketing Officer Manulife Indonesia ketika menjadipembicara dalam acara yang bertajuk Curhat Cerdas Finansial Bersama Manulife di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang (08/11/18).
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Manulife mengenai ketahanan ekonomi seseorang ketika kehilangan pekerjaan, satu dari empat orang akan meminjam uang (utang) setelah tiga bulan kehilangan pendapatan utamanya. Tanpa perencanaan keuangan yang matang, skenario demikian bisa terjadi pada tiap orang.
-Guna terhindar dari skenario tersebut dan dapat meraih financial freedom, perencanaan keuangan perlu dimulai dengan menentukan target secara spesifik terlebih dahulu. Dengan adanya target, menurut Novita, maka seseorang bisa tahu langkah apa yang harus diambil dalam kurun waktu tertentu.
“Ignorance atau pengabaian adalah sikap kebanyakan orang ketika berbicara mengenai perencanaan keuangan. Padahal, besok atau lusa dia tidak tahu apakah dia masih dapat bekerja atau tidak. Ketika itu terjadi, kita pun jadi panik, tidak tahu harus berbuat apa. Situasi itu harus kita cegah sedari awal dan mulai belajar manajemen keuangan dari muda,” ujar Novita.
Novita pun mengajak para anak muda untuk mengganti pengeluaran makanan restoran dan kopi menjadi investasi. Investasi ini tidak melulu dilakukan secara agresif dengan jumlah yang besar. Seorang mahasiswa misalnya, bisa saja menyisihkan uang sebesar lima puluh ribu hingga seratus ribu untuk berinvestasi reksadana.
Nantinya, besaran investasi itu dapat disesuaikan kembali ketika orang tersebut telah bekerja. Selain reksadana, dana yang dimiliki pun bisa dialokasikan ke asuransi kesehatan. Alokasi ini menjadi emergency fund (dana darurat) yang kapan pun bisa digunakan jika seseorang sakit.
-“Tantangan terbesar soal keuangan itu datang ketika kita punya penghasilan sendiri. Saya pernah terjebak di situasi fulfilling my dream. Semua keinginan yang dipendam sebelumnya, saya penuhi semua. Sampai akhirnya saya sadar bahwa kita harus berpikir ke depan soal keuangan. Kita gak hidup cuma buat hari ini. Oleh karena itu, saya pun mulai mengalokasikan dana untuk investasi,” ujar Falla Adinda seorang content creator yang hadir dalam kesempatan yang sama.
Dengan adanya investasi itu, menurut Falla dapat membuatnya mencapai kondisi financial freedom. Falla pun berpesan bahwa menjadi terlihat kaya bukan berarti harus melupakan kondisi ekonomi sebenarnya. Hal itu justru membuat banyak orang menjadi kesulitan karena memprioritaskan gengsi ketimbang kemampuan secara real.
“Masa muda memang hanya sekali, tetapi bukan berarti setelahnya kita tidak memiliki kehidupan lagi. Ada fase-fase lain yang menunggu dan itu semua butuh perencanaan yang matang. Saving atau hidup dengan melakukan perencanaan keuangan tidak membuat kita menjadi susah,” ujar Falla.