kabar mpr

Wakil Ketua MPR RI Tekankan Pentingnya Pendidikan Berkualitas bagi Masyarakat

Kompas.com - 15/11/2018, 19:21 WIB

Pendidikan dan kemiskinan ibarat ‘saudara kandung’ yang menjadi masalah bangsa Indonesia. Jika kedua hal tersebut sudah dapat ditangani secara menyeluruh, maka tidak akan lagi terdengar rakyat Indonesia menjadi pekerja kasar di negara orang, bahkan sampai mendapatkan perlakuan tidak layak.

Fenomena ‘kawin kontrak’ atau ‘pengantin pesanan’ karena desakan ekonomi pun tidak akan lagi terjadi bila seluruh rakyat Indonesia mampu mendapatkan akses belajar yang layak.

“Soal-soal seperti ini memang sangat mengkhawatirkan kita semua. Maka dari itu, saya pribadi dan sebagai Pimpinan MPR juga sebagai Wakil Rakyat sangat mendukung berbagai upaya, antara lain karya-karya tulis yang mengangkat masalah yang nyata terjadi di masyarakat seperti kemiskinan dan terbatasnya rakyat menikmati pendidikan yang berkualitas,” tutur Wakil Ketua MPR RI Mahyudin, dalam diskusi bertajuk ‘Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat’, Kamis (15/11/2018).

Diskusi yang berlangsung di Ruang Presentasi, Perpustakaan Setjen MPR RI, Gedung Nusantara IV, Kompleks Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta ini membahas buku berjudul ‘Pengantin Pesanan’ karya Mya Ye.

Buku tersebut menceritakan kisah seorang perempuan keturunan asal Singkawang yang terpaksa menjadi pengantin pesanan demi memperbaiki nasib keluarganya. Potret buram yang dialami sebagian rakyat Indonesia terpapar baik secara jelas dan tersirat di dalamnya.

Mahyudin mengutarakan, pemikiran terkait hubungan pendidikan dan kemiskinan mulai terbersit setelah ia membaca buku karya Mya Ye tersebut.

“Awalnya, saya tidak paham apa yang mau disampaikan dalam buku tersebut. Tetapi, setelah saya membacanya, buku ini ternyata sarat akan pesan moral, sosial, kesetaraan gender dan terutama sekali pergulatan moral yang berawal dari isu kemiskinan yang memang masih terjadi di tengah masyarakat kita,” paparnya.

Mahyudin menegaskan, fenomena pengantin pesanan memang bukanlah budaya daerah tersebut, melainkan fenomena yang muncul karena kemiskinan dan kurangnya pendidikan.

Fenomena sejenis juga terjadi di beberapa daerah dan negara-negara berkembang lainnya, sebab masalah kemiskinan dan minimnya pendidikan adalah masalah besar dan sangat dilematis buat negara-negara berkembang.

“Keterkaitan antara pendidikan dan kemiskinan sangatlah besar, sebab pendidikan yang baik akan memberikan kemampuan untuk berkembang lewat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan. Pendidikan juga menanamkan kesadaran akan pentingnya martabat manusia dan semua itu penting untuk menggapai masa depan,” ujar Mahyudin.

Oleh karena itu, terang Mahyudin, rakyat Indonesia harus bahu membahu dalam melakukan berbagai upaya mencerdaskan bangsa dan terus memperjuangkan keadilan dalam memperoleh pendidikan. Pemerintah khususnya, harus berada di garda terdepan untuk mewujudkan itu hal tersebut.

“Kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat atau di level daerah harus diminimalkan, bahkan harus dihilangkan dengan mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” pungkasnya.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau