Advertorial

Ingin Menikmati Gendang Beleq NTB, Datang Saja ke CFD Jakarta

Kompas.com - 17/11/2018, 10:23 WIB

JAKARTA – Tidak perlu jauh-jauh untuk menikmati keunikan Gendang Beleq. Kekayaan seni budaya Nusa Tenggara Barat (NTB) bisa dinikmati di Car Free Day (CFD) Jakarta. Sebab, Minggu (18/11) CFD Jakarta akan dihiasi pesona Destinasi Superprioritas Mandalika. 

Ada beragam aktivitas yang bisa dinikmati di CFD Mandalika. Mulai dari sport hingga parade seni budaya. Seni budaya yang akan ditampilkan adalah Gendang Beleq.  

Ketua Tim Percepatan Pembangunan Destinasi Pariwisata Prioritas Kemenpar Hiramsyah S Thaib mengatakan, Gendang Beleq sangat memikat. 

“NTB kaya dengan beragam seni dan budaya. Salah satu yang familiar adalah Gendang Beleq. Seni dan budaya yang satu ini bahkan sudah mendunia. Banyak wisman yang datang ke NTB juga untuk melihat Gendang Beleq ini secara langsung, selain faktor alam dan budaya lainnya,” kata Hiramsyah, Jumat (16/11). 

Selain meniupkan #NTBbangunDiCarFreeDayJKT, Jakarta juga akan menjadi stage besar bagi Gendang Beleq. Gendang Beleq adalah alat musik tradisional NTB yang dimainkan secara berkelompok. Secara spesifik, alat musik ini berasal dari Suku Sasak, Lombok, NTB.  

Bagi Hiramsyah, suara yang ditimbulkan Gendang Beleq sangat unik. 

“Gendang Beleq ini luar biasa. Suaranya sangat unik, apalagi dimainkan secara berkelompok. Belum lagi kadang ada tambahan atraksi lainnya. Yang jelas, menikmati Gendang Beleq secara langsung di CFD Jakarta ini bisa dikatakan moment langka,” jelasnya lagi. 

Gendang Beleq khas NTB ini bisa dinikmati Park & Ride Thamrin 10. Atau, samping Hotel Sari Pacific, Jakarta. CFD Mandalika bisa dinikmati mulai pukul 06.00-11.00 WIB.  

Gendang Beleq memiliki ukuran diameter 0,5 meter dan panjang 1,5 meter. Bahan bakunya berasal dari kayu Meranti dan dilapisi kulit sapi/kerbau/kambing. 

“Suara yang dihasilkan tentu unik dan khas. Yang jelas, Gendang Beleq ini jangan sampai terlewatkan. Sebab, secara filosofi ada banyak hal yang bisa digali dari Gendang Beleq ini,” ujar Hiramsyah. 

Mengacu historinya, Gendang Beleq merupakan kolaborasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Sasak. Kata ‘Gendang’ diadopsi dari suara yang dihasilkan, seperti ‘deng’ atau ‘dung’. Serapannya langsung dari kata gendang. Lalu, kata ‘Beleq’ ini adalah Bahasa Sasak yang artinya besar. Biasanya, Gendang Beleq ini dimainkan bersama alat musik lainnya. Ada gong, terumpang, pencek, oncer, hingga seruling. 

“Permainan Gendang Beleq ini sangat menghibur. Ada banyak suara yang dihasilkan. Pertunjukan ini pasti akan semakin membuat CFD Jakarta pekan ini semakin meriah,” tegas Person in Charge (PIC) Mandalika Larasati Sedyaningsih. 

Menggali lebih dalam, Gendang Beleq ini terbagi dalam beberapa varian. Ada gendang mama (laki-laki), gendang nine (perempuan), dan gendang kodeq (gendang kecil). Gendang mama dan nine ini berfungsi sebagai pembawa dinamika. Membentuk orkestra unik, parade Gendang Beleq pun biasanya dimainkan oleh 13 hingga 17 orang. 

“Gendang Beleq ini sebenarnya sangat disakralkan oleh Suku Sasak. Ada banyak nilai yang dimiliki oleh Gendnag Beleq ini. Beberapa diantaranya, keindahan, kebijaksanaan, hingga nilai kepahlawanan. Dalam masanya, Gendang Beleq ini terus mengalami perkembangan,” tutur Larasati lagi. 

Pertunjukan Gendang Beleq awalnya untuk memberikan support bagi parajurit menuju medan perang. Seiring waktu, kini Gendang Beleq digunakan untuk memeriahkan acara penting. Ada acara adat, media penyambutan tamu, festival budaya, pernikahan, hingga khitanan.  

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengungkapkan, Gendang Beleq akan semakin menyegarkan CFD Jakarta. 

“Moment terbaik selalu diberikan oleh Mandalika. Kini Gendang Beleq dihadirkan di CFD Jakarta dan ini tentu semakin menyegarkan. Sebab, pertunjukan Gendang Beleq ini selalu menarik. Kehadirannya di CFD Jakarta menjadi tanda betapa kayanya budaya di NTB. Destinasi ini harus menjadi prioritas liburan. Alam dan budaya di sana sangat bagus. Aksesibilitas mudah, lalu amenitasnya terbaik,” tutup Menteri yang sukses membawa Kemenpar No. 1 dan jadi #TheBestMinistryTourism2018 se-Asia Pasifik di Bangkok. 

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau