Advertorial

Memenangkan Kompetisi dan Menciptakan Masa Depan Korporasi di Asia

Kompas.com - 19/11/2018, 16:14 WIB

Demi mendorong inovasi korporasi di kawasan Asia, Corporate Innovation Asia (CIAS) menyelenggarakan Asia Corporate Innovation Summit 2018 di Balai Kartini Jakarta, pada 14 November 2018. Ajang ini menghadirkan panelis dari berbagai eksekutif perusahaan top dunia diantaranya Executive Director Deloitte Southeast Asia, Indranil Roy, Director of Innovation INTEL China, Kapil Kane, dan masih banyak yang lainnya.

Pertemuan ini mendorong perusahaan-perusahaan abad 21 harus inovatif, lincah, dan berpusat pada pelanggan. Hal itu tersebut tidak menjadi masalah jika perusahaan tersebut adalah sebuah perusahaan startup. Lalu bagaimana dengan korporasi besar yang sudah berdiri puluhan tahun dan terlanjur nyaman dengan pencapaiannya saat ini?

Perusahaan-perusahaan besar telah melakukan investasi yang tidak sedikit untuk berinovasi. Namun sayangnya, seperti yang dikatakan oleh Soumitra Dutta, Professor of Business & Technology INSEAD, “kurangnya kesiapan atau kedewasaan dalam pengelolaan inovasi, mengakibatkan investasi inovasi dari 80 persen organisasi menjadi sia-sia”.

- -

Kurangnya kesiapan itu disebabkan dua hal. Pertama, tidak sinkronnya model operasi organisasi mereka saat ini dengan model operasi yang dibutuhkan oleh perusahaan abad ke 21. Kedua, ketidakmampuan para pimpinan dan karyawan dalam mengadopsi gaya kerja yang lebih inovatif, lincah dan berpusat pada pelanggan. Lalu bagaimana cara membuat perusahaan besar berinovasi layaknya sebuah startup?

Terlalu sederhana untuk menyarankan perusahaan-perusahaan besar bertindak layaknya sebuah startup. Perusahaan besar bukanlah startup dan tidak harus berupaya menjadi startup. Namun demikian, perusahaan besar perlu memenangkan kompetisi hari ini, disaat yang sama menciptakan masa depan mereka yang dapat dipelajari dari perusahaan startup.

Startup sedang jadi primadona saat ini. Kecepatannya bertumbuh secara eksponensial dan kemampuannya menggoyang industri dan menggeser tahta penguasa pasar membuat gaya bisnis startup tidak bisa diabaikan”, ujar Indrawan Nugroho, Chairman Asia Corporate Innovation Summit.

 

- -

“Kami berharap ACIS 2018 ini dapat membantu perusahaan-perusahaan di Asia, khususnya Indonesia dalam menemukan cara inovatif dalam mentransformasi perusahaannya dan sumber daya manusia di dalamnya untuk dapat menjawab tantangan industri di abad 21 ini,” imbuhnya.

Tahun lalu, ACIS 2017 dihadiri oleh sekitar 150 corporate executives; termasuk Chief Executive Officers, Chief Innovation Officers, Chief Technology Officers, Chief Learning Officers, New Business Development Executives, Corporate Planning Executives, Human Capital Directors, Human Resources Managers, dan para eksekutif yang bergerak dalam bidang inovasi.

"Perusahaan besar, orang korporasi, eksekusi bisnis dengan jalani SOP (re: standard operating procedure). Susah untuk cari yang baru dan ubah yang sudah ada, kekebalan tubuh mereka kuat," ujarnya. Indra menambahkan, adanya Asia Corporate Innovation Summit (ACIS) 2018 diharapkan dapat membantu perusahaan di Asia, khususnya Indonesia dalam menemukan cara inovatif dalam mentransformasi bisnis. Selain itu, sumber daya manusia juga dapat menjawab tantangan industri abad 21 ini.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau