kabar mpr

Dalam Pagelaran Wayang Sunda, Cepot Ikut Mensosialisasikan Empat Pilar

Kompas.com - 10/12/2018, 18:14 WIB

Lapangan Pasar Ciampea, Desa Benteng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu malam, 8 Desember 2018, terlihat ramai dan meriah. Ratusan masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua memenuhi lapangan yang sore itu diguyur hujan.

Masyarakat ingin menghabiskan malam Minggu dengan menikmati pagelaran wayang golek atau wayang sunda. Wayang golek yang popular dengan tokoh Cepot, malam itu melakonkan kisah 'Sasrajingga Ngadeg Raja'. Pagelaran itu sendiri digelar dalam rangka Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika atau Empat Pilar MPR.

Sebagai kegiatan yang digelar oleh MPR, hadir dalam acara itu anggota MPR dari Fraksi Demokrat Anton S. Suratto, Kabiro Humas Setjen MPR Siti Fauziah; Kepala Bagian Pemberitaan, Hubungan Antar Lembaga dan Layanan Informasi Biro Humas Setjen MPR Muhammad Jaya. Sedang dari pihak tuan rumah hadir Kapolsek Gunung Putri, Danramil Ciampea, Camat Ciampea, dan Kepala Desa Benteng.

Kepada masyarakat, Anton menuturkan dirinya hadir di Ciampea untuk menyampaikan Sosialisasi Empat Pilar. Sosialisasi itu menurutnya dilakukan dengan beragam metode. "Di antara metode itu adalah lewat pagelaran seni budaya", ujarnya. Disebut pagelaran seni budaya yang pernah digunakan untuk sosialisasi adalah wayang kulit, ludruk, reog, wayang golek, dan seni budaya lainnya. "Selain sosialisasi, kita ingin memberdayakan budaya bangsa", katanya.

Siti Fauziah dalam sambutan sebelumnya mengatakan, pagelaran seni budaya wayang golek diharapkan dapat menghibur masyarakat. Di Ciampea diakui masih banyak yang menggemari wayang golek. "Untuk itulah MPR mensosialisasikan Empat Pilar lewat pentas ini", tuturnya. 

Menurut perempuan yang akrab dipanggil Bu Titik, pentas wayang golek selain digelar sebagai media untuk sosialisasi juga sebagai upaya MPR ikut melestarikan kesenian daerah agar tetap hidup di tengah masyarakat. 

Dipaparkan, sosialisasi lewat pentas seni budaya digelar sesuai dengan budaya setempat. Dicontohkan, di Riau, Sumatera, lewat puisi, pantun, dan gurindam. "Untuk masyarakat Ciampea kita gunakan wayang golek", ungkapnya.

Menggunakan pentas seni budaya untuk sosialisasi menurutnya karena banyak tuntunan, filosofi, pesan, dan ajakan kebaikan dalam kehidupan dari masyarakat lokal atau adat.

Pagelaran wayang golek itu sangat istimewa sebab dibawakan dua dalang, yakni Ujang Bukhari dan Ogi S Permana. Ogi sendiri adalah anak Ujang. 

Dalam kisah yang dipentaskan menceritakan penggalan Babad Mahabarata, gonjang ganjing di Kerajaan Astina akibat perseteruan Pandawa dengan Kurawa. Di tengah serunya jalan cerita, terjadi dialog antara Cepot dengan Anton. Dalam dialog, Cepot bertanya, apa yang dimaksud Sosialisasi Empat Pilar? Mendapat pertanyaan dari ikon wayang golek yang berwujud sosok dengan gigi satu di depan dan menggunakan blangkon, Anton menjawab sosialisasi merupakan amanat UU MD3 yang menugaskan MPR untuk memasyarakatkan Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Sosialisasi itu dilakukan dengan beragam cara salah satunya lewat pagelaran wayang golek.

Kepada Cepot, Anton memaparkan sejarah perjalanan bangsa yang dimulai dengan tahun 1908, 1928, hingga Indonesia merdeka tahun 1945. "Kita merdeka untuk bersatu dalam NKRI", tegasnya.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau