kabar mpr

Pahami Warisan Sejarah Perjuangan Pendiri Bangsa untuk Jaga NKRI

Kompas.com - 11/12/2018, 11:41 WIB
-- -

Indonesia saat ini, apalagi menjelang tahun politik mudah sekali satu pihak memberi label radikal, non-NKRI dan non-Pancasila kepada pihak lain. Hal ini adalah bukti lemahnya pengetahuan dan pemahaman sejarah perjuangan para pendiri bangsa.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) di hadapan sekitar 500 lebih masyarakat Jakarta Selatan yang menjadi peserta acara Temu Tokoh/Kebangsaan. Kegiatan yang merupakan kerjasama MPR RI dengan Yayasan Ibnu Hisyam Pasar Minggu, di Ballroom RM Raden Bahari, Jakarta Selatan, Senin (10/12/2018).

Menurut HNW, padahal jika anak bangsa ini meluangkan waktu memahami sejarah perjuangan bangsa, maka akan terlihat betapa pentingnya peran mereka terhadap eksistensi NKRI hingga kini. "Ambil contoh bagaimana peran besar tokoh Islam Mohammad Natsir dengan mosi integralnya mengembalikan Indonesia menjadi NKRI kembali," ujarnya.

-- -

Mosi integral sendiri adalah sebuah hasil keputusan parlemen (Parlemen Sementara Republik Indonesia Serikat/RIS) mengenai bersatunya kembalinya sistem pemerintahan Indonesia dalam sebuah kesatuan yang digagas oleh Mohammad Natsir.

Diterangkan HNW, jika tidak ada peran beliau yang mampu meyakinkan pemerintahan RIS dan seluruh tokoh bangsa akan pentingnya kembali ke NKRI, mungkin sekarang negara Indonesia masih berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS), jauh dari cita-cita dibentuknya negara Indonesia. 

-- -

"Jadi sekali lagi saya berharap jangan seenaknya mencap salah satu elemen bangsa, misalnya Islam dengan segala kegiatannya seperti kegiatan Reuni 212 yang lalu sebagai radikal, non NKRI dan non Pancasila yang faktanya terbukti berlangsung damai, aman tanpa kekacauan hanya karena ketidak sukaan," tegasnya.

Untuk itu, HNW menekankan pentingnya seluruh rakyat Indonesia menjaga warisan perjuangan para pendiri bangsa yang terdiri dari beragam suku, agama, bahasa, budaya tapi memiliki satu visi misi serta cita-cita mulia membentuk negara Indonesia menuju kesejahteraan bersama. "Jika kita mampu memahami dan menjaga warisan tersebut maka tidak akan ada segala macam sangkaan negatif antar sesama anak bangsa yang berujung konflik," ujarnya.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik: