Info BRI

KUR BRI Berhasil Bikin 2,15 Juta Pelaku Usaha Mikro "Naik Kelas"

Kompas.com - 11/12/2018, 14:56 WIB
-- -

Pemerintah berencana menambah anggaran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di tahun 2019. Sebelumnya, anggaran KUR tahun ini tercatat sebesar Rp 123 triliun, di tahun depan akan ditingkatkan menjadi sebesar Rp 140 triliun. Hal tersebut diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Darmin Nasution pada Kamis (06/12/2018) lalu.

Bank BRI sebagai bank terbesar penyalur KUR menyambut baik wacana tersebut. Hal tersebut dikarenakan KUR telah memberikan dampak positif terhadap ekonomi kerakyatan di Indonesia. Melalui penyaluran KUR BRI, sepanjang tahun 2016-2018 tercatat 2,15 juta debitur dengan total pinjaman mencapai Rp 52,69 triliun berhasil “naik kelas”.

Perseroan memberikan beberapa definisi nasabah kategori naik kelas yaitu pertama dari awalnya berstatus unbankable lalu dikucurkan pinjaman KUR kemudian menjadi bankable dan berhak mendapatkan pinjaman Kupedes. Kemudian, definisi kedua adalah debitur yang melunasi pinjaman KUR sebelumnya dan mendapatkan plafon yang lebih tinggi. Ketiga, debitur yang melunasi KUR mikro dan naik kelas mendapatkan KUR kecil.

Secara volume KUR yang dimanfaatkan untuk naik kelas pada 2016 saja sebesar Rp 7,09 triliun, terbagi untuk nasabah mendapatkan plafon lebih tinggi mencapai Rp 4,52 triliun dan sebesar Rp 2,57 triliun berhak mendapatkan Kupedes. Pada 2017 total volume yang digunakan nasabah naik kelas tumbuh signifikan menjadi Rp 24,05 triliun, terbagi sebesar Rp 14,65 triliun untuk peraih plafon lebih tinggi dan Rp 9,4 triliun untuk yang mendapatkan Kupedes. Sementara tahun ini, volumenya menjadi Rp 21,54 triliun yang terbagi sebesar Rp 13,54 triliun berhak mendapatkan plafon lebih tinggi dan Rp 8,01 triliun mendapatkan Kupedes.

Selain dua skema KUR terdahulu, sejak November 2015 disalurkan pula KUR Penempatan TKI dengan plafon maksimum sebesar Rp 25 juta dengan subsidi bunga sebesar 12 persen. BRI juga mendapat amanah sebagai Bank Penyalur KUR Penempatan TKI mencapai Rp 437,6 miliar sejak 2011 hingga 2018. Pada 2017 saja volume KUR TKI mencapai Rp 138,9 miliar dan naik menjadi Rp 199,5 miliar pada tahun 2018.

Kinerja penyaluran sejak 2011 hingga 2018 dimanfaatkan oleh debitur yang totalnya mencapai 35,187 orang. Kinerja penerima setahun terakhir terlihat dari jumlah debitur di tahun 2017 tercatat 10.755 nasabah dan naik menjadi 14.919 nasabah. Perseroan juga tidak lupa menyelesaikan paket pelatihan dengan total 63 paket pelatihan yang diikuti peserta sebanyak 1.575 tenaga kerja migran.

-- -

Sesuai dengan kebijakan Pemerintah untuk meningkatkan porsi pembiayaan KUR ke sektor-sektor produktif, dari hasil kajian LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)  tahun 2018, KUR BRI juga terbukti berhasil memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi debitur-debitur KUR BRI di sektor pertanian, perburuan, kehutanan; kelautan & perikanan; industri  pengolahan; konstruksi; dan jasa produksi.

Dari hasil kajian tersebut KUR BRI terbukti memberikan kontribusi bagi perekonomian rakyat melalui peningkatan aset, omset usaha, dan pendapatan para pelaku usaha mikro dan kecil. Setelah menerima KUR BRI, para pelaku usaha mengalami peningkatan aset sebesar 67 persen, kenaikan omset sebesar 62 persen, dan pendapatan naik sebesar 57 persen. Dengan meningkatnya pendapatan, para pelaku usaha yang menerima KUR juga mampu membiayai lebih banyak pengeluaran mereka untuk keperluan pendidikan naik 18 persen, kesehatan tumbuh 27 persen, dan untuk sosial juga terkerek 42 persen.

Pertumbuhan rata-rata jumlah aset nasabah tercatat berhasil tumbuh dari sebelumnya berada di kisaran Rp 498 juta mampu naik setelah mendapatkan pinjaman pada kisaran Rp 834 juta. Pertumbuhan rata-rata omset nasabah KUR juga setiap bulannya mengalami kenaikan dari Rp 22,3 juta menjadi Rp 36,2 juta setelah mendapatkan pinjaman KUR. Pendapatan setiap bulannya juga ikut terdorong dari Rp 8,193 juta menjadi Rp 12,9 juta setelah mendapatkan pinjaman KUR.

Kajian Lembaga LIPI juga menyebutkan, pengeluaran per bulan dari nasabah KUR juga naik dari Rp 4 juta menjadi Rp 5,4 juta setelah mendapatkan pinjaman KUR.

Selain itu, dampak penyaluran KUR untuk mendukung pendidikan terlihat dari peningkatan pengeluaran pendidikan per bulan yang naik. Jumlah pengeluaran sebelum menerima KUR sebesar Rp 513.147  menjadi Rp 603.414 setelah menerima.

Kemudian, kenaikan juga terjadi pada kemampuan pengeluaran kesehatan per bulan nasabah KUR. Nilainya tercatat naik dari Rp 114.585 menjadi Rp 145.366 setelah mendapatkan pinjaman KUR BRI. Rata rata pengeluaran sosial nasabah per bulan juga naik dari Rp 233.185 sebelumnya menjadi Rp 330.916 setelah mendapatkan pinjaman KUR. (Adv)