Advertorial

Tak Hanya Kontrasepsi, Kampung KB Turut Tingkatkan Kualitas Keluarga dan Masyarakat

Kompas.com - 11/12/2018, 15:13 WIB
- -

 

Memiliki keluarga yang sehat, bahagia, dan sejahtera merupakan impian seluruh masyarakat Indonesia. Impian tersebut pun menjadi perhatian pemerintah. BKKBN melalui Kampung KB yang menjadi ikon dari program Kependudukan, KB dan Pembangunan Keluarga (KKB-PK) adalah buktinya.

Program yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 14 Januari 2016 ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tingkat kampung atau yang setara melalui program KKBPK, serta pembangungan sektor terkait lainnya dalam rangka mewujudkan keluarga kecil berkualitas. Tak hanya itu, program ini juga bertujuan untuk memfasilitasi, mendampingi, dan membina masyarakat untuk menyelenggarakan program KKBPK dan juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pembangunan berwawasan kependudukan.

Salah satu latar belakang Kampung KB dibentuk adalah untuk mengangkat dan menggairahkan kembali program KB guna menyongsong tercapainya bonus demografi yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2010-2030. Hal tersebut mendorong BKKBN untuk mendekatkan program KKBPK kepada masyarakat melalui pembentukan Kampung KB di kabupaten dan kota.

Definisi dari Kampung KB sendiri adalah satuan wilayah setingkat RW, dusun, atau yang setara, yang memiliki kriteria tertentu di mana terdapat keterpaduan program KKBPK dan pembangunan sektor terkait yang dilaksanakan secara sistematis. Kriteria tersebut adalah dibagi menjadi tiga, yaitu kriteria program, kriteria wilayah, dan wilayah khusus. Kriteria program meliputi jumlah keluarga pra-sejahtera di atas rata-rata tingkat desa di mana kampung tersebut berada dan jumlah peserta KB di bawah rata-rata pencapaian peserta KB tingkat desa di mana kampung tersebut berlokasi.

Kriteria wilayah meliputi wilayah kumuh, pesisir/nelayan, daerah aliran sungai, bantaran kereta api, kawasan miskin (termasuk miskin perkotaan), terpencil, perbatasan, kawasan industri, kawasan wisata, desa stunting, dan padat penduduk. Kriteria khusus adalah masalah kependudukan lainnya yang didukung oleh Data Sektoral.

Melalui Kampung KB ini diharapkan pelaksanaan program KKBPK dan program-program pembangunan lainnya dapat berjalan secara terpadu dan bersamaan. Kampung dipilih karena kampung merupakan cikal bakal terbentuknya desa, dan jika pembangunan kampung maju, maka desa tersebut akan maju. Begitu seterusnya hingga menjadi sebuah negara yang maju.

Tak hanya tentang memiliki keluarga dengan rencana saja, Kampung KB lebih menekankan kepada kualitas hidup masyarakat yang ada di dalamnya. Peningkatan kualitas hidup keluarga dan masyarakat di Kampung KB melalui empat cara, yaitu mendekatkan pelayanan program KKBPK, penguatan delapan fungsi keluarga, partisipasi aktif masyarakat, dan pembangunan yang terintegrasi lintas sektor.

Kegiatan yang dilakukan di kampung ini juga tak melulu mengenai penggunaan dan pemasangan kontrasepsi, tetapi juga kegiatan yang dapat memberdayakan masyarakat melalui berbagai program yang mengarah pada upaya mengubah sikap, perilaku, dan cara berpikir masyarakat ke arah yang lebih baik. Salah satunya seperti keluarga yang tidak memiliki usaha dapat menjadi anggota Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UPPKS).

Tiap tahunnnya, Kampung KB pun mempunyai target. Pada tahun 2016 BKKBN menargetkan satu Kampung KB setip kabupaten atau kota. Tahun 2017 terbentuk satu Kampung KB di setiap kecamatan, tahun 2018 terbentuk satu Kampung KB di 50 persen desa sangat tertinggal, dan pada 2019 terbentuk satu Kampung KB di setiap desa sangat tertinggal.

Contoh Kampung KB yang berhasil ada di Kecamatan Tabur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur berhasil sebagai Desa Ramah Anak, Desa Siaga, Desa Prima, dan Desa Sehat. Begitu juga dengan Kampung KB Malang Rejo Kabupaten Sleman DIY yang sukses mennyelenggarakan Festival Gerobak Sapi, Kesenian Jatilan, Sholawatan, Pendampingan UPPKS yang menghasilkan produk makanan dan minuman, kerajinan rajut, dan hiasan rumah tangga. (Adv)