Advertorial

Pengobatan Kanker dengan Minimal Invasif Vs Kemoterapi Sistemik

Kompas.com - 13/12/2018, 16:09 WIB
- -

Menurut data statistik WHO terbaru, penyebab kematian akibat kanker di Indonesia menempati angka 56,9 persen pada wanita dan 60,7 persen pada pria. Setiap tahunnya, terdapat 115.042 orang meninggal akibat kanker.

Guna mengatasinya, operasi, kemoterapi sistemik, dan pengobatan herbal sampai saat ini masih menjadi pilihan utama pengobatan kanker di Indonesia.

Namun luka dan efek samping yang besar membuat metode tersebut tidak dapat meningkatkan kelangsungan hidup pasien kanker dan hasil efektif jangka panjang.

Selain itu, kualitas hidup pasien juga akan terpengaruh sehingga semakin banyak pasien kanker dan keluarganya yang memilih untuk menjalani pengobatan di luar negeri.

Metode pengobatan kanker konvensional

Pengobatan kanker biasanya melalui operasi yang memerlukan pembedahan besar. Usai operasi luka sayatan kerap terasa sakit, bengkak, dan kebas. Pemulihan pasca operasi pun cenderung lambat serta berisiko infeksi luka atau berarir, serta luka terbuka.

- -

Metode lain adalah radioterapi yang memancarkan radiasi tinggi ke sel tumor. Namun ternyata metode ini memiliki efek samping yang besar seperti merusak sel imun, rambut rontok, dan lamanya proses pengobatan.

Motode populer satu lagi adalah kemoterapi dengan memasukkan obat ke dalam pembuluh darah. Organ tubuh lain pun ikut terkena dampaknya sehingga menyebabkan efek samping seperti leukosit, penurunan sistem imun dan mudah infeksi.

Selain itu, ada pula metode pengobatan alternatif menggunakan obat herbal. Namun tingkat kanker dan kondisi fisik penderita berbeda sehingga bisa jadi pengobatan ini tidak berpengaruh terhadap kanker.

- -

Pengobatan dengan 18 Teknologi Minimal Invasif

Di St Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou, semakin banyak pasien kanker yang memilih 18 teknologi pengobatan Minimal Invasif, seperti Intervensi, Cryosurgery, Brachytherapy, Nano Knife dan Microwave Ablation (MWA).

Metode tersebut minim luka dan efek samping, serta proses pemulihan cepat. Beberapa kelebihan ini tidak dimiliki metode operasi dan kemoradioterapi.

Selain itu, metode dengan 18 teknologi pengobatan Minimal Invasif membantu pasien kanker stadium lanjut mendapatkan hasil pengobatan yang paling efektif dengan minim rasa sakit.

Kisah keberhasilan pengobatan Minimal Invasif

Salah satu kesuksesan pengobatan dengan metode ini dialami oleh Lani. Kanker ovarium yang ia derita tahun 2014 kambuh setelah dioperasi dan menyebar ke usus. Usai dikemoterapi, tumornya malah membesar menjadi 11 cm.

- -

Ia pun merasakan efek samping kemoterapi, yakni susah BAB dan BAK. Rambutnya pun mulai rontok. Akhirnya pada 17 November 2015 ia berobat ke St Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou.

Setelah menjalani lima kali Intervensi dan 2 kali MWA (Microwave Ablation), tumornya mengecil dan rambutnya kembali tumbuh. Kini sudah empat tahun berlalu dan Lani tetap sehat tanpa kekambuhan pada kankernya.

Kisah selengkapnya bisa dilihat di sini.

Keberhasilan juga dialami oleh Enny yang pada 2008 divonis mengidap limfoma stadium 3 di lehernya. Operasi dan pengobatan tradisional yang ia lakukan tidak membuahkan hasil, makah kondisinya semakin memburuk.

- -

Mei 2008, ia berobat ke St Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou. Usai menjalani intervensi dan pengobatan lainnya, kondisinya pun membaik. Bahkan pada 2008 tidak ditemukan sel kanker hidup dari CT scan sehingga ia boleh pulang.

Sepuluh tahun kemudian, kankernya tidak kambuh. “St Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou memberikan saya kesempatan hidup kedua,” ujar Enny.

Kisah Enny selengkapnya bisa dilihat di sini.

“St Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou merupakan rumah sakit kanker terbaik, di sini kami mendapatkan kesehatan kembali dan terus bertahan hidup,” ujar pasien kanker usus besar asal Indonesia yang telah bertahan hidup hingga 11 tahun, Hadi,

Pada 2007, Hadi divonis menderita kanker usus. Dokter menyarankannya untuk segera menjalani operasi pengangkatan tumor dan membuat anus buatan. Namun ia menolak, karena tidak ingin hidup dengan kantong kotoran selamanya.

- -

Hadi memahami St Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou memiliki metode pengobatan kanker minimal invasif bertarget yang dilakukan tanpa operasi, namun hasilnya setara.

Ia kemudian datang ke St Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou. Setelah menjalani intervensi, radioterapi lokal, imunoterapi, dan beberapa metode komprehensif lainnya, gejala BAB berdarah dan tumornya menghilang.

Kisah Hadi selengkapnya bisa dilihat di sini.

Atasi kanker di St Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou

Jika Anda, keluarga atau teman menderita kanker dan sedang mencari pengobatan medis tanpa operasi dan kemoterapi, konsultasikan di sini atau hubungi +62812 978 978 59 (Call/WA).

Kantor perwakilan St Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou juga ada di Jakarta, Surabaya dan Medan dengan alamat berikut ini:

Kantor Jakarta
Menara Citicon
Jalan Letjen S Parman Kav 72, Slipi

Jakarta Barat 11410

 

Kantor Surabaya

Jl. Raya Dinoyo no 21A, Kel. Keputran, Kec. Tegalsari

Surabaya 60265

 

Kantor Medan

Komplek Multatuli Indah Jl. H.Misbah BLOK CC-21

MEDAN 20151