Advertorial

Pesona 111 Kuda Renggong Disambut Meriah Ribuan Penonton

Kompas.com - 14/12/2018, 14:31 WIB

SUMEDANG - Atraksi 111 Kuda Renggong berlangsung meriah. Pesona Kuda Renggong membuat ribuan penonton memadati lokasi pertujukan, di lapang sepakbola Desa Kertamekar, Kecamatan Tanjung Kerta, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Acara ini berlangsung Rabu (12/12).

Atraksi Kuda Renggong sudah dimulai pukul 08.00 pagi. Ke-111 Kuda Renggong tersebut, kompak bergoyang, berjingkrak, menari, dan bermain silat mengikuti irama musik. Suara yang dihasilkan pun sangat menarik. Paduan antara kendang dan waditra gamelan.

Wakil Bupati Sumedang Erwan Setiawan responsif sekali dengan kegiatan berbasis budaya tersebut. Menurutnya, pertunjukan ini cukup menghibur dan menjadi atraksi pariwisata yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Erwan mengatakan, ini adalah hajat bersama antara Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumedang, dengan Masyarakat Sadar Wisata (Masawita) dan Yayasan Seni Kuda Renggong Sumedang (Yaskures).

“Tujuannya, tentu untuk mengembangkan potensi wisata budaya di Kabupaten Sumedang. Saya berharap ini bisa menjadi agenda tahunan, sehingga bisa menarik wisatawan dari luar daerah,” ujarnya.

Sedangkan Ketua Harian Masawita yang juga anggota Komisi VIII DPR RI KH Maman Imanulhaq menuturkan, 111 kuda yang tampil dalam pertunjukan itu berasal dari Sumedang dan sekitarnya. Kuda-kuda tersebut berada di bawah naungan Yaskures, yang diketuai Kang Asep Cepot.

"Yaskures sendiri memiliki 300 anggota, dengan total Kuda Renggong yang dibina mencapai 600 ekor. Semua tersebar di 23 kecamatan di Kabupaten Sumedang,” bebernya.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Ni Wayan Giri Adnyani mengungkapkan, selama ini wilayah Sumedang memang dikenal sebagai daerah yang kaya seni dan budaya. Khususnya yang berkaitan dengan kuda.

“Kesenian Kuda Renggong sudah menjadi ikon pariwisata Sumedang yang patut dibanggakan dan dilestarikan. Bukan sekadar kesenian rakyat, atraksi Kuda Renggong terbukti mampu menjadi suguhan yang menarik minat wisatawan,” ujarnya, didampingi Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar, Sumarni.

Kabid Pemasaran Area I Kemenpar Wawan Gunawan menambahkan, Kuda Renggong bisa dikemas lebih menarik, tanpa merusak nilai-nilai yang terkandung pada kesenian tersebut. Pengemasan unsur dalam struktur pertunjukkan seni Kuda Renggong harus ditata sedemikian rupa, sehingga memenuhi standar global.

“Kita bisa perhatikan mulai dari desain kostum kuda dan para pawang kuda. Koreografi para penari dan aransemen musik pengiringnya juga harus ditata. Dengan demikian, semua akan terlihat lebih keren dan menjadi sajian yang luar biasa,” jelasnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi setiap pertunjukan berbasis budaya. Menurutnya, masyarakat sebagai komponen penting dalam pariwisata, harus mengambil perannya dalam menjaga dan mengangkat budaya setempat. Kemudian mengemasnya, sehingga menjadi sajian menarik yang dapat mendatangkan wisatawan.

“Namun, culture value harus didukung oleh commercial value. Dengan demikian, kebudayaan dapat menghasilkan economi value yang kuat. Budaya itu, semakin dilestarikan semakin mensejahterakan,” tegasnya. 

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau