Advertorial

Antisipasi Kebakaran di Kawasan Padat Penduduk, Damkar Lakukan Simulasi

Kompas.com - 17/12/2018, 10:28 WIB

Pencegahan dan sosialisasi kebakaran terus dilakukan Dinas Kebakaran (Damkar) Kota Surabaya. Kali ini, Damkar melakukan simulasi kebakaran di kawasan padat penduduk tepatnya di daerah Embong Malang Utara (seberang hotel JW Marriot).

Plt Dinas Kebakaran Kota Surabaya Irvan Widyanto mengatakan, simulasi kebakaran di kawasan padat penduduk menggunakan mobil damkar jenis bronto 55 dan 104. Bagi Irvan, penting untuk dilakukan simulasi, mengingat kondisi wilayah perkampungan tersebut saling berhimpitan dan sulit dijangkau mobil dan petugas damkar apabila terjadi kebakaran.

“Kita coba menggunakan mobil damkar jenis ini yang dilengkapi alat berbentuk tiang untuk melihat seberapa jauh jangkauan dari jalan besar sampai ke dalam kampung,” kata Irvan saat meninjau simulasi kebakaran pada Sabtu, (15/12/2018).

Selain simulasi, lanjut Irvan, pihaknya juga melakukan sosialisasi kepada seluruh warga, camat dan lurah untuk membongkar gapura yang menghalangi akses mobil damkar masuk ke dalam kampung serta mengatur kabel-kabel yang bergelantungan.

Hal-hal kecil semacam ini, lanjut Irvan, sangat menggangu kinerja petugas yang hendak memadamkan api saat terjadi kebakaran di kampung-kampung padat penduduk. “Segera kami lakukan pembongkaran dan pembenahan agar saat terjadi kebakaran, api cepat dipadamkan,” tegasnya.

Sementara itu, Kasi Pengendalian Dinas Kebakaran Kota Surabaya Gatot menambahkan, kampung kebangsren dipilih sebagai lokasi simulasi dengan pertimbangan kondisi permukaan, kepadatan serta kemiringan tanah yang paling mudah untuk dijangkau menggunakan mobil damkar jenis broto 55 dan 104. “Mobil damkar jenis ini memiliki spesifikasi atau pijakan yang dilengkapi dengan sensor. Apabila, ada sesuatu yang tidak memungkinkan maka sensornya tidak bisa bergerak,” jelas Gatot.

Dengan adanya simulasi di kawasan Embong Malang, Gatot mengaku PMK mendapat ilmu baru yang nantinya terus dipelajari. “Hasil simulasi ini akan menjadi patokan bagi kami apabila terjadi kebakaran di kawasan tersebut,” imbuhnya.

Ke depan, pihaknya intens melakukan simulasi kebakaran di kampung padat penduduk, serta mencanangkan program sosialisasi kepada RT/RW. Hal ini penting untuk memberikan pemahaman kepada warga saat memberikan pertolongan pertama ketika terjadi kebakaran.

“Jadi ketika terjadi kebakaran, yang pertama kali menjadi pahlawan dan melakukan pemadaman adalah warga sendiri. Maka dari itu, tahun 2019 kita sosialisasikan cara yang paling sederhana untuk memadamkan api,” jelasnya. 

Berdasarkan catatan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya, jumlah kebakaran di tahun 2018 meningkat sekitar 50 persen dibandingkan 2017. Kasus kebakaran di Kota Pahlawan pada 2017 sebanyak 589 kejadian, dengan rincian kebakaran bangunan 153 kejadian, kebakaran non-bangunan 400 kejadian, dan kebakaran kendaraan ada 32 kejadian.

Sedangkan pada Januari hingga Juli 2018, kejadian kebakaran sebanyak 222 kejadian, yang terdiri dari kebakaran bangunan 58 kejadian, kebakaran non-bangunan 155 kejadian dan kebakaran kendaraan 9 kejadian. “Jadi, kebakaran yang terjadi selama ini masih didominasi oleh kebakaran alang-alang, sampah atau lahan kosong,” papar Gatot. 

Adapun Dinas Kebakaran sudah memiliki 67 unit mobil pemadam kebakaran dari berbagai jenis. Ada 5 UPTD dan 15 pos yang tersebar di beberapa titik di Surabaya, sehingga apabila ada kebakaran, semuanya dimaksimalkan sesuai kebutuhan. (adv)

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau