Advertorial

Surabaya: Membangun Kota, Membangun Manusia

Kompas.com - 11/01/2019, 13:43 WIB
- -

Surabaya mendapat nilai tertinggi pada kategori kota metropolitan dalam Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2018 yang disusun Kompas. Dengan inisiatif dan solusi yang tepat untuk mengelola permasalahan perkotaannya, Surabaya menunjukkan komitmen untuk membangun kota yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat.

Wilayah kota kian strategis sebagai pusat perekonomian dan aktivitas warga. Di sisi lain, persoalan-persoalan yang mengemuka di wilayah urban ini pun semakin kompleks. Pengelolaan kota berdasarkan penerapan prinsip kota cerdas pun diperlukan untuk mengatasi masalah ini.

Dalam buku Indeks Kota Cerdas Indonesia (2019), disebut bahwa pakar urban Boyd Cohen mendefinisikan kota yang cerdas sebagai kota yang lebih efisien melalui penerapan teknologi. Teknologi menjadi jembatan pengembangan pengetahuan untuk mengatasi kebutuhan manusia

Kompas menyusun indeks ini berbasiskan Lingkaran Kota Cerdas dari Boyd Cohen. Kota cerdas dibangun dari banyak aspek yang dikelompokkan menjadi enam dimensi, yaitu lingkungan, mobilitas, pemerintahan, ekonomi, masyarakat, dan kualitas hidup. Keenam dimensi tersebut kemudian diturunkan lagi menjadi sejumlah subdimensi.

Sebanyak 93 kota di Indonesia diikutsertakan dalam penilaian IKCI. Kota-kota ini dibagi menjadi empat kategori, yakni kota metropolitan (berpenduduk lebih dari satu juta jiwa), kota besar (berpenduduk lebih dari 500 ribu hingga kurang dari satu juta jiwa), kota sedang (berpenduduk lebih dari 100 ribu hingga 500 ribu jiwa), dan kota kecil (berpenduduk maksimal 100 ribu jiwa). Data sekunder terkait 93 kota ini dikumpulkan dari BPS dan lembaga lain. Angka dan informasi yang terhimpun kemudian diolah dan diboboti dengan pendapat 12 pakar.

Hasil penilaian tersebut mendudukkan Surabaya di peringkat tertinggi pada kategori kota metropolitan dengan skor 67,03. Berdasarkan penilaian dari tim Litbang Kompas, jika dilihat per dimensi, Kota Surabaya mendapatkan nilai tertinggi dalam mendorong terwujudnya masyarakat cerdas yang mengedepankan pendidikan, kreativitas, dan inklusivitas.

Surabaya meningkatkan pelayanan publik dengan Surabaya Single Window (SSW) dan penyediaan beragam infrastruktur, mengembangkan pusat industri digital start up dan penyediaan Coworking Space Coridor serta berupaya meningkatkan produktivitas dengan program Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda.

- -

Peran masyarakat

Sebagai kota terbesar kedua di Indoneia, Surabaya dibangun dengan  menggunakan kriteria kota cerdas dan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) sebagai tolok ukurnya.

“Untuk menganalisis kota cerdas, ternyata Kompas menggunakan kriteria yang sama dengan yang kami pakai. Saya harus punya standar itu supaya bisa menilai pendekatan yang kami pakai. Program-program Surabaya pun kami buat sesuai kriteria itu,” tutur Risma seusai menerima penghargaan IKCI 2018, Rabu (9/1/2019).

Lewat pilar masyarakat, kualitas hidup, pemerintahan, ekonomi, mobilitas, dan lingkungan itu Surabaya menyusun beragam program dan telah menghasilkan perbaikan-perbaikan yang nyata.          

Dan pada pilar pemerintahan, program e-Government membuat kinerja jauh lebih efisien dan transparan. Layanan publik semakin baik dengan beragam fasilitas daring untuk masalah perizinan usaha, pendaftaran kependudukan, pelayanan akta kelahiran, serta pelayanan kesehatan.

Penguatan dan pemerataan ekonomi ditempuh dengan program Pahlawan Ekonomi yang membuat UKM lebih berdaya, sentra PKL, pemberdayaan petani, dan pembangunan fasilitas-fasilitas pusat industri digital. “Saya mencoba mendorong warga Surabaya untuk menciptakan pekerjaannya sendiri,” kata Risma.

Perbaikan ekonomi ini tampak dari menguatnya daya beli penduduk Surabaya, dilihat dari pengeluaran per bulan. Pada 2010, kelas bawah (dengan pengeluaran di bawah Rp 500 ribu per kapita per bulan) sebesar 34,35 persen. Jumlah ini menurun menjadi 5,93 persen pada 2017. Sementara itu, kategori kelas atas (dengan pengeluaran di atas Rp 1,5 juta per kapita per bulan) meningkat dari 13 persen pada 2010 menjadi 47,28 persen pada 2017.

Dari sisi mobilitas, Surabaya menyusun rencana pengembangan jaringan jalan raya dan kereta, membangun saluran air, membangun pedestrian yang aman dan nyaman (termasuk untuk penyandang disabilitas), serta jalur hijau pedestrian. Mengembangkan Surabaya Integrated Urban Transport System (SIUTS), Surabaya Intelligent Transport System, sistem tilang elektronik, dan sebagainya.

Di bidang lingkungan, terdapat 371 bank sampah aktif dengan lebih dari 16 ribu nasabah. Pemanfaatan sampah dilakukan antara lain dengan membuat tempat sampah dari ban bekas, jalur jogging dari sandal jepit, serta pot bunga dari kaleng dan ember bekas. Memiliki 28 unit rumah kompos dan sejumlah pembangkit listrik tenaga sampah.