Kisah Tabe Menembus Ratusan Kilometer demi Ikut Kompetisi Sepak Bola - Kompas.com
Advertorial

Kisah Tabe Menembus Ratusan Kilometer demi Ikut Kompetisi Sepak Bola

Kompas.com - 08/02/2019, 21:55 WIB
- -

Liga sepak bola usia muda yang tidak merata di setiap daerah membuat sejumlah pemain belia harus menembus ratusan kilometer demi mengasah pengalaman bertanding. Bagi mereka, berkesempatan mengikuti liga merupakan sebuah kemewahan.

Jarak ratusan kilometer Bandung-Jakarta tidak menghalangi Tabernacle Rayberson Emerson Boni berpartisipasi di Liga Kompas Kacang Garuda U-14. Ia rela menempuh jarak 153 kilometer setiap akhir pekan untuk mencicipi liga sepak bola usia muda.

Pertandingan Liga Kompas berlangsung setiap pekan di lapangan GOR Ciracas, Jakarta Timur. Di kota kelahiran Tabe (sapaan akrab Tabernacle), Bandung, liga sepak bola usia muda sangat terbatas.

Jika ada, kebanyakan hanya berformat turnamen dengan durasi singkat dan bukan liga yang berkesinambungan.

”Di Bandung ada kompetisi, tapi tidak rutin dan durasinya singkat,” ujar Tabe.

Tak ayal, jam bertanding bagi pemain usia muda juga minim. Padahal mereka lebih membutuhkan liga yang berdurasi panjang.

Menyadari turnamen jangka pendek tidak akan membuat dirinya berkembang, Tabe mencoba kesempatan untuk tampil di Liga Kompas. Ia memutuskan bergabung dengan Sekolah Sepak Bola Jakarta Football Academy (SSB JFA).

”Dari liga ini, saya bisa merintis karier menjadi pesepak bola profesional. Banyak jebolan Liga Kompas yang direkrut klub profesional dan Tim Nasional Indonesia,” ujar Tabe.

Perjalanan panjang menggapai impian

Untuk menggapai mimpinya, setiap akhir pekan Tabe pergi ke Jakarta. Bila JFA mengadakan latihan Sabtu sore, ia menumpang mobil travel dari Bandung Sabtu pagi. Seusai mengikuti latihan Sabtu sore, Tabe menumpang tidur di rumah Pelatih JFA, Winaryo.

Bila tak mengikuti latihan Sabtu sore, Tabe akan berangkat dari Bandung pada Minggu pukul 04.00 agar bisa tiba tepat waktu di GOR Ciracas. Sore hari setelah bertanding, ia kembali ke Bandung karena harus bersekolah pada Senin pagi.

Rutinitas seperti itu membuat Tabe kelelahan. Terkadang ia jatuh sakit setelah tiba di Bandung. Saat ujian tengah semester, ia harus belajar di mobil travel.

“Tapi tidak apa-apa. Saya nikmati saja demi cita-cita,” ucap Tabe yang menjadi salah satu tumpuan di lini tengah.

- -

Perjuangan serupa untuk mencecap liga usia dini juga dijalani ujung tombak SSB Matador Mekarsari, Topan Abdillah.

Pelajar kelas IX SMPN 1 Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, itu, menempuh jarak 33 kilometer menuju lokasi latihan SSB Matador Mekarsari di Cileungsi, Bogor. Topan selalu diantar ibunya menggunakan sepeda motor ke tempat latihan.

Lokasi latihan yang relatif jauh cukup membuat Topan lelah. Sepulang sekolah, ia langsung berganti pakaian dan berangkat latihan. Rutinitas itu ia jalani karena di Cikarang Pusat belum ada liga sepak bola usia muda.

”Karena itu, saya bergabung di Matador Mekarsari supaya bisa ikut Liga Kompas juga,” ujar Topan yang berposisi sebagai penyerang tengah. (IGA)

 

Tulisan ini telah terbit di Harian Kompas pada 3 Februari  2019 (Kompas/IGA). Liga Kompas Kacang Garuda disponsori oleh Kacang Garuda didukung oleh SKF dan Oraga.