Advertorial

Kepingan Baru dalam Penuntasan Banjir di Kawasan Sungai Citarum

Kompas.com - 12/03/2019, 10:01 WIB

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah di semua lapisan untuk mengatasi permasalahan di Sungai Citarum, Jawa Barat. Perlahan tapi pasti, benang kusut tersebut diurai melalui beberapa program dan pembangunan stuktur pendukung, terutama untuk mengatasi banjir di wilayah Kabupaten Bandung yang selalu menjadi permasalahan dari tahun ke tahun.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah mempercepat proyek Terowongan Nanjung di Kabupaten Bandung. Dua buah pipa raksasa akan menjadi aliran baru menyodet lekukan badan sungai di kawasan Curug Jompong. Titik itu dinilai turut memicu tertahannya air Citarum yang menyebabkan banjir di sejumlah wilayah. 

Direktur Jendral Sumber Daya Air Hari Suprayogi mengatakan bahwa Terowongan Nanjung menjadi salah satu struktur sistem pengendalian Sungai Citarum. Proyek itu melengkapi langkah nonstruktural lainnya, seperti normalisasi anak sungai serta pembuatan kolam retensi dalam rangka menuntaskan masalah banjir.

"Ini kan dalam rangka pengendalian banjir Citarum. Pengendalian banjir itu tidak bisa hanya dengan satu struktur saja. Harus kombinasi, struktural dan nonstruktural," ujar Hari saat ditemui dalam kegiatan peninjauan Terowongan Nanjung bersama Presiden Joko Widodo, Minggu (10/3/2019).

Kondisi terkini proyek Terowongan Nanjung, Kabupaten Bandung, Minggu (10/3/2019). Salah satu proyek pengendalian Sungai Citarum itu ditargetkan selesai akhir tahun ini.- Kondisi terkini proyek Terowongan Nanjung, Kabupaten Bandung, Minggu (10/3/2019). Salah satu proyek pengendalian Sungai Citarum itu ditargetkan selesai akhir tahun ini.


Terowongan sepanjang 230 meter dengan garis tengah 8 meter ini akan memiliki dua pintu air slice gate. Kemudian dengan panjang bangunan inlet 28 meter, outlet 100 meter, dan jarak antar terowongan sekitar 10 meter, terowongan ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas sungai hingga 700 m3/detik.

Hari memaparkan bahwa kondisi Q50 yang ada akan mempercepat dan memperluas aliran. Proyek senilai Rp 352,9 miliar ini dieksekusi oleh Wika-Adhi KSO dan diharapkan akan rampung di akhir tahun ini. “Ini sudah 22 persen, malah target kita terowongannya Juli-Agustus sudah selesai," tutur Hari.

Dirinya pun mengakui jika Terowongan Nanjung tak sepenuhnya menjamin kawasan Bandung Selatan bebas banjir. Namun, setidaknya kehadiran Terowongan Nanjung mampu mempercepat aliran air sehingga genangan dapat lebih cepat surut.

Dirjen SDA Kementerian PUPR Hari Suprayogi saat memberikan pemaparan perkembangan proyek Terowongan Nanjung, Kabupaten Bandung kepada Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya, Minggu (10/3/2019) pagi.- Dirjen SDA Kementerian PUPR Hari Suprayogi saat memberikan pemaparan perkembangan proyek Terowongan Nanjung, Kabupaten Bandung kepada Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya, Minggu (10/3/2019) pagi.
 

"Kita kan gak bisa instan. Sistem Citarum itu kan ada pola pengelolaan wilayah sungai termasuk banjir. Kemudian ada rencana pengelolaan, ada feasibility study, sehingga muncul kegiatan apa yang akan dilakukan, semuanya ini kombinasi. Ini belum selesai masih ada lagi, masih panjang," paparnya.

Genangan banjir di kawasan ini secara keseluruhan terdapat di empat lokasi seluas lebih dari 3000 hektar, yaitu Dayeuhkolot, Baleendah, Rancaekek, dan Sapan. Berfungsinya sistem ini diharapkan dapat mengurangi banjir seluas 700 hektar, meski masih ada genangan di daerah dengan elevasi rendah seperti Dayeuhkolot.

Selain itu, Hari mengungkapkan bahwa pengendalian Sungai Citarum merupakan struktur sistem yang besar. Ia pun memastikan, Terowongan Nanjung bukan pekerjaan terakhir yang dilakukan pemerintah.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau