Advertorial

Winning Meal Project, Cara Ajinomoto Dongkrak Prestasi Atlet Indonesia

Kompas.com - 12/04/2019, 16:17 WIB

KOMPAS.com - Asupan gizi menjadi hal dasar yang harus diperhatikan dalam menopang prestasi para atlet di dunia olahraga internasional agar berprestasi. Di negara maju, gizi atlet sudah diperhatikan bertahun-tahun sebelum mereka bertanding.

Menurut ahli gizi klinis di bidang olahraga, Emilia E. Achmadi, gizi menjadi bagian fundamental yang wajib diperhatikan.

“Malah di China, Amerika, dan Jepang, gizi para atlet dimulai sejak mereka berusia enam tahun (usia sekolah dasar yang dijadikan kurikulum pendidikan),” ujar dia. Maka dari itu, ketika atlet beranjak remaja, mereka sudah siap bertanding.

“Di beberapa cabang olahraga, persiapan gizi khusus sport performance sesuai dengan disiplin/cabang olahraga dilakukan delapan tahun sebelum si atlet bertarung di arena,” lanjut Emilia.

Ia melanjutkan, pemenuhan gizi bagi atlet semacam itu belum diterapkan di Indonesia secara benar dan konsisten dengan sistem formulasi, produksi, monitoring, seeta evaluasi secara profesional.

Hal inilah yang membuat ia tergerak ketika diajak dalam program Winning Meal Project yang digagas oleh Ajinomoto Indonesia. Emilia mengaku tertarik dengan program ini karena sesuai dengan idealismenya sebagai ahli gizi.

“Karena menurut saya, peran private sector (sektor swasta) dibutuhkan untuk peningkatan kualitas dari atlet nasional,” ujar dia.

Siapkan asupan gizi bagi atlet

Emilia lanjutkan jika melalui program ini, ia fokus memperhatikan dan menyiapkan asupan gizi atlet renang I Gede Siman Sudarwata. Siman yang merupakan pria asal Bali ini, telah menyabet empat medali emas di ajang SEA Games 2011 Palembang.

“Banyak masyarakat yang belum paham bahwa asupan gizi para atlet tidak bisa disamakan dengan asupan orang rata-rata. Bahan bakar mobil balap tidak sama dengan bahan bakar mobil biasa bahkan lebih spesifik lagi tergantung mobil balap jenis apa,” ujar dia.

Emilia menambahkan, atlet mempunyai latar belakang yang berbeda, beban latihan yang tak sama, dan histori cedera yang berbeda pula. Tentu hal ini akan memengaruhi asupan gizi yang dibutuhkan setiap atlet.

Melalui Winning Meal Project, ia menyusun asupan gizi Siman sesuai kondisi fisik, pengukuran anthropometric, dan periodisasi latihan dengan peak performance sebagai tujuan. Makanan sehari-hari Siman sebelum dan sesudah latihan akan disiapkan secara detail.

- -

“Gizi sebelum dan sesudah latihan akan sangat berbeda. Misalnya, di 45 menit setelah latihan berat, para atlet membutuhkan gizi khusus untuk memaksimalkan recovery process menuju sesi latihan berikut dan mencegah cedera,” ujar Emilia.

Ia melanjutkan, di saat recovery process itulah harus ada asupan untuk mengembalikan dan memperbaiki bagian tubuh yang rusak. Jika hal ini tidak dilakukan, maka fisik atlet akan cepat menurun.

Makanan sehari-hari Siman sebelum dan sesudah latihan akan disiapkan secara detail. Contohnya, Siman telah melakukan pencapaian rekor nasional dari 50 meter gaya punggung, dengan waktu 25.01 detik.

“Patokan itulah yang akan menjadi acuan Winning Meal Project (WMP) ke depannya,” kata emilia.

Program Winning Meal Project merupakan program adopsi dari Ajinomoto Co.Inc di Jepang yang bernama Victory Project. Sejak 2003, para atlet Jepang telah diperhatikan asupan gizinya.

Kesuksesan Victory Project di Jepang salah satunya dilakukan melalui penyediaan menu atau meal plan yang sesuai untuk para atlet.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau