Advertorial

Inovasi Desa Kedaburapat, Membudidayakan Kopi Liberika di Lahan Gambut

Kompas.com - 15/04/2019, 08:42 WIB
Kopi Liberika Meranti dalam wujud biji kopi beras.KOMPAS.COM/Alia Deviani Kopi Liberika Meranti dalam wujud biji kopi beras.

Mungkin Anda sudah tidak asing lagi dengan aroma dan kenikmatan Kopi Aceh Gayo atau Kopi Arabika Toraja. Namun, sudahkah Anda mencicipi Kopi Liberika Meranti? Sesuai dengan namanya, kopi jenis liberika ini berasal dari Desa Kedaburapat yang merupakan bagian dari Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Berbeda dengan kopi pada umumnya yang tumbuh di dataran tinggi, Kopi Liberika Meranti justru dibudidayakan di dataran rendah yang hanya memiliki ketinggian sekitar satu meter dari permukaan laut. Uniknya, kopi tersebut ditanam di atas lahan gambut yang secara alami memang tidak subur dikarenakan tingkat keasamannya yang  tinggi atau kebasaannya yang rendah. Ini merupakan bentuk inovasi desa yang berhasil dilakukan dengan memanfaatkan potensi yang ada.

Proses penanamannya pun tidak kalah unik. Sebelum menanam, tanah gambut dipadatkan terlebih dahulu selama 3-4 tahun guna menjaga kualitas kopi. Untuk menetralkan keasaman, tanah juga diberikan kapur pertanian atau dolomit terlebih dahulu.

Di Indonesia sendiri, hanya ada dua daerah yang berhasil melakukan inovasi budidaya kopi di lahan gambut, yaitu Kuala Tungkal, Jambi dan Desa Kedaburapat. Meskipun demikian, Kopi Liberika Meranti memiliki kelebihan serta keunikannya sendiri.

Adapun kelebihan dari kopi yang sebelumnya dikenal dengan nama Kopi Sempian ini adalah sudah memiliki hak paten serta mengantongi sertifikat Indikasi Geografis (IG). Seperti diketahui, sertifikat IG merupakan sertifikat resmi yang diberikan pada sumber daya alam hayati, hasil pertanian, pengolahan, atau hasil kerajinan tangan yang memiliki kekhasan dibandingkan produk dari wilayah lain. Hal itu dijelaskan langsung oleh petani kopi yang juga Ketua IG Liberika Rangsang Meranti, yaitu Al Hakim.

“Kopi Liberika Meranti ini adalah kopi terunik se-Indonesia. Sejauh ini, kopi yang tumbuh di lahan gambut hanya ada dua di Indonesia, di sini dan di Kuala Tungkal, Jambi,” kata Al Hakim saat ditemui di perkebunan kopi yang dikelola oleh dirinya bersama adiknya, Soleh.

Kopi ini juga aman untuk lambung karena memiliki tingkat kafein rendah, yaitu hanya 0,9-1 persen. Kualitasnya pun tidak perlu diragukan karena para petani kopi yang tergabung dalam Kelompok Tani Liberika Rangsang Meranti menggunakan pupuk organik dan telah melalui uji mutu yang sesuai dengan standar Jepang.

Barista Indonesia bersertifikat internasional Evani Jesslyn saat berbincang bersama Al Hakim yang menjabat sebagai Ketua Indikasi Geografis (IG) Kopi Liberika Rangsang Meranti. KOMPAS.COM/Alia Deviani Barista Indonesia bersertifikat internasional Evani Jesslyn saat berbincang bersama Al Hakim yang menjabat sebagai Ketua Indikasi Geografis (IG) Kopi Liberika Rangsang Meranti.

Bicara keunikan, Al Hakim menerangkan bahwa Kopi Liberika Meranti memiliki perpaduan rasa yang unik, yaitu kopi, nangka, dan cokelat. Padahal, kopi-kopi tersebut tidak dibudidayakan bersama dengan tanaman kakao, melainkan tumbuh dalam satu lahan dengan tanaman kelapa.

Senada dengan pernyataan tersebut, pakar kopi Indonesia bersertifikat internasional, Evani Jesslyn, berpendapat bahwa Kopi Liberika Meranti didominasi dengan rasa cokelat yang kuat dengan aroma nangka. Hal itu ia katakan saat berkunjung ke salah satu perkebunan kopi di Desa Kedaburapat. Dalam kesempatan yang sama, Evani, yang merupakan Q Grader dan SCA AST Trainer, juga berbagi pengetahuan seputar cara penanaman dan pengolahan hasil panen dengan para petani kopi.

Selain rasa yang unik, Kopi Liberika Meranti ini juga berukuran lebih besar bila dibandingkan biji kopi jenis arabika maupun robusta. Kulit buah kopinya sangat tebal, sehingga membuat ukuran buah kopinya besar. Ini menjadi faktor keunggulan, karena buah kopi menjadi lebih  kuat dan bisa disimpan dalam jangka waktu lama.

Kopi ini dibanderol dengan harga Rp 180.000 hingga Rp 200.000 per kilogram dalam bentuk bubuk. Dalam bentuk biji kopi beras, para petani menjualnya dengan harga Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per kilogram tanpa sertifikat IG atau Rp 100.000 per kilogram dengan sertifikat IG.   

Melihat potensi besar untuk menembus pasar nasional maupun internasional, Pemerintah Daerah (Pemda) setempat pun bahu-membahu untuk mendorong pengembangan industri penanaman dan pengolahan kopi di Desa Kedaburapat. Itulah salah satu alasan kenapa Kepala Desa (Kades) Kedaburapat, Mahadi, gencar membenahi serta membangun infrastuktur desa yang dipimpinnya. Mengingat desa berpenduduk 1.693 jiwa ini memiliki kontur tanah yang labil dan mudah rusak.

Kepala Desa Kedabu Rapat Mahadi saat menyambut kedatangan Tim Kompas Gramedia Group. KOMPAS.COM/Alia Deviani Kepala Desa Kedabu Rapat Mahadi saat menyambut kedatangan Tim Kompas Gramedia Group.

Di bawah kepemimpinannya, Mahadi memanfaatkan sebagian besar dana desa yang diberikan oleh Pemerintah Pusat dengan pengawalan dari Kemendesa untuk semenisasi jalan dengan total panjang mencapai 800 meter, pembangunan tiga buah duiker atau penghubung antar parit, dan pengadaan tambatan perahu beserta dermaga di kawasan Batu Gronjong.

Selain itu, saat ini sedang dibangun perpanjangan jalan sebanyak 480 meter dan juga tanggul untuk menghadapi banjir saat air laut pasang yang kerap terjadi ketika musim utara berlangsung. Tujuannya adalah untuk mendukung aktivitas ekonomi warga desa, khususnya para petani kopi.

“Sebelumnya, desa ini bisa dibilang desa tertinggal. Dulu, saat musim hujan, kondisi jalan tanah liat menjadi licin dan sulit dilalui, sehingga memperlambat distribusi hasil panen dan menghambat aktivitas warga. Dengan pemanfaatan dana desa anggaran 2018, alhamdulillah desa ini sudah memiliki jalan yang terbuat dari semen,” ujar Mahadi.

Sebelum infrastruktur dibenahi, para petani kopi biasa membawa hasil panen sebanyak 50 kilogram menggunakan sepeda kayuh. Untuk membawa muatan sebanyak itu, mereka harus berjalan kaki sambil mendorong sepeda.

Petani Kopi yang tergabung dalam Kelompok Tani Liberika Rangsang Meranti tengah memetik buah kopi.KOMPAS.COM/Alia Deviani Petani Kopi yang tergabung dalam Kelompok Tani Liberika Rangsang Meranti tengah memetik buah kopi.

Berkat akses jalan yang sudah memadai, kini mereka bisa menggunakan moda transportasi sepeda motor yang memungkinkan petani membawa hasil panen hingga 200 kilogram. Bila sepeda motornya dilengkapi dengan gerobak, petani kopi bahkan bisa membawa hasil panen hingga satu ton. Hal ini tentu membuat pendapatan petani kopi bertambah signifikan. Apabila diilustrasikan, seorang petani kopi kini bisa menerima pendapatan mulai dari Rp 3.000.000 per bulan dengan hasil panen seberat satu ton.

Tidak hanya itu saja, Mahadi juga melakukan pembenahan di sektor-sektor lainnya, seperti kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Di desa ini, para warga bisa menempuh pendidikan mulai dari tingkat PAUD hingga SMA dan sederajat. Manfaat dana desa di bidang pendidikan dirasakan oleh PAUD TK Permata yang menerima bantuan biaya untuk pengadaan sarana dan prasarana pendidikan. Salah satu di antaranya adalah fasilitas mainan, seperti ayunan, putaran, dan jungkat-jungkit.

Sejumlah murid perempuan PAUD TK Permata membawakan tarian cindai.KOMPAS.COM/Alia Deviani Sejumlah murid perempuan PAUD TK Permata membawakan tarian cindai.

Pada sektor kesehatan, Desa Kedaburapat telah dilengkapi dengan beragam fasilitas kesehatan (faskes), mulai dari poliklinik hingga puskesmas. Desa ini juga memiliki dokter, perawat dan juga bidan untuk menangani sejumlah masalah kesehatan. Menurut Mahadi, tahun ini akan ada faskes baru berupa gedung rawat inap yang siap melayani warga dari 12 desa.

Seiring dengan bertambahnya fasilitas desa di berbagai sektor, pemberdayaan masyarakat pun mulai ditingkatkan. Hal itu terbukti dengan adanya kader posyandu dan bidan yang memiliki pengetahuan baik. Khusus warga lanjut usia, para perangkat desa juga membentuk Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) dan mengajak para manula untuk melakukan Senam Kesehatan Jasmani bersama sebulan sekali.

Dana desa juga digunakan untuk membangun berbagai hal. Contohnya, lapangan olahraga untuk bulutangkis dan sepak takraw dan akan membangun sejumlah gazebo yang diperuntukkan bagi pengunjung Pantai Batu Gronjong yang bisa mencapai 300 orang pada akhir pekan. Ini merupakan cikal bakal inovasi desa untuk mendapatkan sumber pemasukan baru lewat wisata Pantai Batu Gronjong.

Selain menyalurkan dana desa, Kemendesa juga mengutus pendamping desa yang bertugas untuk membantu meningkatkan potensi desa sekaligus memberdayakan masyarakat. Para pendamping desa juga mengawal realisasi proyek pembangunan desa mulai dari rencana hingga eksekusi.

“Tugas kita memfasilitasi agar dana desa betul-betul tersalurkan, baik itu untuk infrastruktur maupun pemberdayaan masyarakat. Sebagai pendamping desa, kami hanya memberikan konsultasi atau pengawalan dari awal hingga akhir. Jadi, yang punya hak penuh untuk mengelola anggaran untuk kepentingan masyarakat adalah Kepala Desa,” kata Robert selaku salah perwakilan tim pendamping Desa Kedaburapat.

Robert melanjutkan, “Hampir semua masyarakat di sini menanam Kopi Liberika Meranti. Bisa kita lihat, di setiap kebun mereka ada tumpang sari, seperti pinang, kelapa, dan kopi liberika. Jadi, bisa ada tiga tanaman dalam satu lahan. Padahal sebelumnya komoditas utama adalah karet saja. Sekarang jauh lebih menguntungkan. Dari segi kesehatan pun untuk ukuran desa ini sudah maju, karena kita punya puskemas, puskesmas pembantu, poliklinik, dan nantinya fasilitas rawat inap. Tingkat pendidikannya pun memadai untuk ukuran desa”.

Ternyata, kondisi geografis yang hampir seluruhnya bertanah gambut, tidak menghambat warga desa Kedaburapat untuk memajukan desa. Dalam kondisi medan yang sangat sulit dan menantang, warga desa tetap bisa menemukan cara untuk berinovasi melalui penanaman kopi liberika meranti.

Nah, bagaimana dengan desamu? Yuk mulai dari desa, karena semua berawal mulai dari desa. Bila semakin banyak desa menjadi mandiri dan sejahtera, wajah Indonesia juga akan berubah.