Advertorial

Tak Lagi Muda, Orang Tua Zaman Now Ternyata Gemar Lari Marathon

Kompas.com - 09/05/2019, 11:15 WIB

TRIBUNNEWS.COM – Kepopuleran olahraga lari tak dipungkiri semakin digandrungi banyak kalangan. Tak hanya generasi muda saja, olahraga satu ini ternyata juga digandrungi oleh banyak generasi tua.   

Salah satunya seperti yang dilakukan Imawan (77). Walaupun sudah tak bisa dibilang muda lagi, ia mengaku rutin mengikuti marathon.

Imawan (77) yang mengikuti Mandiri Jogja Marathon 2019 pada kategori 10k. (TRIBUNJOGJA.COM)

“Saya rutin ikut marathon, dan tiap tahun saya selalu mengikuti acara marathon ini,” ujar Irmawan yang ditemui pada cara Mandiri Jogja Marathon 2019. Dari empat kategori yang ada, yakni 5K, 10K, Half Marathon, dan Marathon, Imawan ikut pada kategori 10K.

Tak hanya orang tua dari kalangan biasa saja, olahraga lari pada generasi tua juga dilakukan para pejabat.

Salah satunya Menteri BUMN Rini Soemarno (60). Ditemui pada acara yang sama, Rini mengungkapkan jika berlari untuk bergaya.

Menteri BUMN Rini Soemarno berswafoto pada Mandiri Jogja Marathon 2019. (TRIBUNJOGJA.COM)

“Yang penting gayanya dulu dong. Sebelumnya memang tidak ada latihan khusus. Pokoknya lari saja,”  ujarnya kepada wartawan.

Rini menjelaskan jika sudah kali ketiga ini dirinya ikut serta dalam pagelaran Mandiri Jogja Marathon.

Tak hanya sekedar tren pada kalangan tua dan muda, senada dengan perkataan Rini, olahraga lari kini telah menjadi sebuah ajang ‘gaya’, bahkan menjadi ajang bersosialisasi, eksistensi diri, hingga wadah perkenalan budaya lokal.

Hal ini setidaknya terjadi pada ajang Mandiri Jogja Marathon 2019. Tak hanya menjadi ajang olaharaga saja, salah satu program sportourism ini juga menjadi ajang untuk bergaya, bersosialisasi dan mengenal budaya lokal Yogyakarta.

Ini terlihat dari komposisi acara yang tak hanya sekedar berlari, tetapi membuat pesertanya ketika berlari bisa melihat pemandangan alam indah di sekitar Candi Prambanan, pertunjukan seni tradisional, hingga hadirnya water sprinkler yang buat lomba marathon ini terasa berbeda.

water sprinkler pada Mandiri Jogja Marathon 2019. (TRIBUNJOGJA.COM)

Pada Mandiri Jogja Marathon 2019 ini para pelari pun bisa menikmati sajian kuliner lokal, serta pertunjukan musik dari GAC dan Jogja Hiphop.

Selain menarik minat para pelari berusia tua, banyak generasi milenial dan pelari dari luar negeri yang turut serta pada kegiatan ini.

Pelari asal Kenya, Stephen Munghatia Mugambi, tampil sebagai juara pertama kategori full marathon open pria dengan catatan waktu 2 jam 25 menit 48 detik.

Pelari Kenya Stephen Munghatia Mugambi menjuarai Mandiri Jogja Marathon 2019 dengan catatan waktu 2 jam 25 menit 48 detik Untuk kategori full marathon putra. (ISTIMEWA)

Diikuti dua pelari asal Kenya, Daniel Gekara di posisi kedua dengan catatan waktu 2 jam 30 menit 11 detik dan Muindi Onesmus Muasya di tempat ketiga dengan catatan waktu 2 jam 31 menit 30 detik.

Pada kategori half marathon putra, pelari asal Kenya memuncaki podium juara. Charles Munyua Njoki menjadi yang tercepat dengan catatan waktu 1 jam 13 menit 17 detik. Disusul oleh Welman D Pasaribu di peringkat kedua dan Amri Wahyudin di peringkat ketiga.

Untuk half marathon putri, peringkat pertama ditempati Odekta Naibaho dengan catatan waktu 1 jam 22 menit 29 detik, disusul Afriana Paijo pada peringkat kedua dan Yanitasari Yanita di peringkat ketiga.

Sedangkan di kategori 10K putra, peringkat pertama diduduki oleh James Karanja dengan catatan waktu 32 menit 20 detik, di peringkat kedua adalah Pandu Sukarya dan Fajar Hidayat menduduki peringkat ketiga

Pada kategori 10K putri, peringkat pertama ditempati Pretty Sihite dengan catatan waktu 39 menit 53 detik dan Elisabeth Wanza di peringkat kedua serta Qurrotul Farida di peringkat ketiga.

Sementara pada kategori 5K, untuk kelompok putra, peringkat pertama diraih Syamsuddin Massa dengan catatan waktu 16 menit 11 detik dan Ravi Putra serta Muh Alwi Bashori masing-masing di peringkat kedua dan ketiga.

Untuk kelompok putri, peringkat pertama diduduki Mahardika Manik dengan catatan waktu 19 menit. Di peringkat kedua ditempati Zolanda Riva Ngesti dan peringkat ketiga adalah Raden Roro Devina.

Beragamnya peserta Mandiri Jogja Marathon 2019 di atas pun membuktikan, jika kini olahraga lari dan mengikuti pertandingan marathon tak hanya digandrungi anak muda saja, tetapi juga orang tua yang tak hanya berasal dari Indonesia tapi seluruh orang di penjuru dunia.

Penulis: Firda Fitri Yanda

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Tak Lagi Muda, Orang Tua Zaman Now Ternyata Gemar Lari Marathon, http://www.tribunnews.com/lifestyle/2019/04/30/tak-lagi-muda-orang-tua-zaman-now-ternyata-gemar-lari-marathon.

Baca tentang
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau