Advertorial

“Sport Tourism”, Nafas Baru yang Efektif Dongkrak Pariwisata Indonesia

Kompas.com - 15/05/2019, 15:28 WIB
- -

Pariwisata memang merupakan senjata andalan negeri secantik Indonesia. Kekayaan alam dan budayanya menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Berbagai cara pun terus dilakukan untuk memperkenalkan pariwisata Indonesia, salah satunya adalah lewat sport tourism  yang menggabungkan olahraga dengan pariwisata. Konsep ini cocok diterapkan di tanah air karena Indonesia memiliki keindahan alam yang bisa dijadikan arena cabang olahraga.

Secara garis besar, sport tourism terbagi menjadi dua, yakni hard sport tourism dan soft sport tourism. Hard sport tourism adalah pariwisata olahraga dengan penyelenggaraan acara serta jumlah pengunjung besar dan diselenggarakan secara reguler, misalnya Asian Games dan SEA Games. Sementara soft sport tourism merupakan pariwisata olahraga yang menarik perhatian pengunjung dengan preferensi olahraga dan gaya hidup tertentu dan dikemas dalam kejuaraan olahraga seperti lari, golf, serta bersepeda.

Indonesia sendiri telah merasakan keuntungan dari penyelenggaraan sport tourism. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games pada Agustus 2018 lalu. Diperkirakan ada 1,5 juta wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia dengan total nilai transaksi mencapai Rp 3,7 triliun selama satu bulan penyelenggaraannya.

Perhelatan soft sport tourism pun tak kalah bergairah. Dari cabang olahraga bersepeda misalnya, berdasarkan data Union Cycliste Internationale (UCI), gelaran Tour de Singkarak (TdS) di Sumatera Barat menduduki peringkat kelima jumlah penonton terbanyak di dunia. Posisi pertama ditempati Tour de France (12 juta penonton), disusul oleh Giro d’Italia (8 juta penonton), Vuelta a Espana (5 juta penonton), dan posisi ke empat diisi oleh Santos Tour Down Under (750 ribu penonton).

- -

Selain bersepeda, olahraga lari juga tengah menjadi primadona sport tourism Indonesia. Penggemar lari terus bertambah, baik dari kalangan atlet maupun pelari pemula, ditambah dengan keindahan alam dan budaya yang kaya menjadikan kompetisi marathon di berbagai daerah banjir peminat. Salah satu yang baru saja dilaksanakan adalah Mandiri Jogja Marathon 2019.

Mengambil latar kota Yogyakarta yang istimewa, gelaran ini dimulai dan diakhiri di area Candi Prambanan. Rutenya melewati 13 desa yang masyarakatnya menyambut para pelari dengan hangat lewat persembahan kesenian lokal. Tak kurang dari 7.500 pelari dari 9 negara ambil bagian dalam marathon tahunan ini. Antusiasme yang sama pun ditunjukkan oleh lebih dari 8 ribu masyarakat sekitar yang memadati area race village Candi Prambanan untuk mendukung para pelari.

Animo para pecinta olahraga ini menunjukkan betapa sport tourism bisa menjadi magnet yang begitu kuat untuk mengembangkan pariwisata lokal. Berkaca pada gelaran Mandiri Jogja Marathon 2019, rasanya tak berlebihan jika sport tourism di Indonesia memiliki masa depan yang menjanjikan.