Advertorial

Kuntilanak 2, Petualangan Horor Mencekam di Tengah Hutan

Kompas.com - 30/05/2019, 09:00 WIB

Setelah sukses mencatatkan box office pada film Kuntilanak yang dirilis tahun 2018 lalu, Multivision Plus (MVP) Pictureskembali menghadirkan sekuel lanjutan, Kuntilanak 2. Masih disutradarai oleh sineas legendaris film horror Indonesia, Rizal Mantovani, Kuntilanak 2 siap menghentak bioskop-bioskop di Tanah Air mulai 4 Juni 2019 mendatang atau periode libur Lebaran 2019.

Selain kembali dibintangi lima aktor cilik berbakat, antara lain Sandrinna Skornicki, Andryan Bima, Ali Fikry, Adlu Fahrezy, dan Ciara Nadine Brosnan, Kuntilanak 2 juga menampilkan duo bintang muda bertalenta, Maxime Bouttier dan Susan Sameh. Kehadiran mereka semakin komplet dengan peran istimewa Karina Suwandi dan Teuku Rifnu Wikana serta Nena Rosier pada film yang tak hanya sekadar menyuguhkan elemen horor ini.

“Bagi saya, Kuntilanak 2 ini lebih ke horor fantasi, dan berbeda dari film horor lainnya karena masih lewat sudut pandang anak-anak yang seharusnya tidak mengalami fenonema gaib seperti ini kendati sebelumnya berhasil menang lawan Kuntilanak. Selain horor, ada juga elemen aksi, petualangan, komedi, drama, misteri, hingga thriller. Ini hampir jadi sebuah paket lengkap,” ulas Maxime Bouttier.

Pada film Kuntilanak 2 ini, Dinda diperankan oleh Sandrinna Skornicki yang sebelumnya berhasil lepas dari teror Kuntilanak, tanpa persetujuan Tante Donna diperankan oleh Nena Rosier, berniat untuk menemui seseorang yang diyakini sebagai ibu kandungnya, Karmila diperankan oleh Karina Suwandi. Namun, dia bersama adik-adiknya ditemani Julia diperanakn Susan Sameh dan Edwin diperankan oleh Maxime Bouttier, malah terjebak dalam sebuah rumah di tengah hutan.

Banyak kejanggalan terjadi mulai dari teka-teki latar belakang Dinda hingga akhirnya menyadari bahwa mereka tidak sendiri di sana. Dinda kembali harus berhadapan dengan Kuntilanak, tetapi berbeda dengan yang pernah dikalahkannya menggunakan paku atau mantra.

Ditanya perihal perbedaan antara film pertama dan Kuntilanak 2 kali ini, Sandrinna menjelaskan, “Jika pada film pertama terornya ada di rumah, kali ini lebih adventure karena kami harus berada di rumah di tengah-tengah hutan. Lebih seru dan mencekam.”

Co Produser MVP Pictures, Amrit Punjabi menyebut proses pembuatan film Kuntilanak kali ini memang digarap jauh lebih serius. Dia menambahkan, “Kami benar-benar membuat sebuah rumah di tengah hutan demi terciptanya atmosfer horor dan mencekam, selain tentunya didukung oleh cerita yang kuat dan penuh teka-teki.”

Apakah kali ini Dinda dan adik-adiknya kembali berhasil lepas dari teror Kuntilanak? Atau ada sebuah ‘harga’ yang harus dibayarkan? Temukan jawaban misteri terbesar masa lalu Dinda di film Kuntilanak 2 yang akan tayang Lebaran 2019 di bioskop-bioskop kesayangan Anda.

Penasaran dengan film ini? Kamu bisa menyaksikan official trailer film Kuntilanak 2 yang dapat diakses melalui akun resmi YouTube MVP Pictures ID. Kamu juga bisa mention @mvppictures_id dan @kuntilanakfilm dengan hashtag #Kuntilanak2 dalam setiap postingan di media sosial. (Adv)

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau