Advertorial

Program Inovasi Desa Baleharjo Gunungkidul, Sejahterakan Warga dengan Gotong Royong

Kompas.com - 14/08/2019, 20:09 WIB
Kepala Desa Baleharjo, Agus Setiawan Menyerahkan Bantuan WKSBM kepada Warga. KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYAKepala Desa Baleharjo, Agus Setiawan Menyerahkan Bantuan WKSBM kepada Warga.

“Membangun Indonesia dari Pinggiran dengan Memperkuat Daerah dan Desa dalam Kerangka Negara Kesatuan” merupakan poin ketiga dari Nawacita yang menjadi agenda pemerintah saat ini.

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) pun terus mendorong pembangunan desa salah satunya lewat Program Inovasi Desa (PID). Program ini terus didorong agar desa terus berupaya menemukan dan mengembangkan potensi serta keunggulan yang dimilikinya.

Diharapkan potensi dan keunggulan desa tersebut akan menjadi sesuatu yang bisa memberi pemasukan ke desa yang nantinya akan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat desa setempat.

Salah satu wujud nyata inovasi desa, bisa ditemukan di Desa Baleharjo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Baleharjo memiliki program inovasi desa untuk meningkatkan kesejahteraan warga dengan konsep kebersamaan dan gotong royong.

Program WKSBM (Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat)

Program WKSBM menjadi salah satu program inovasi Desa Baleharjo untuk menyejahterakan masyarakatnya. Penerima program ini adalah masyarakat desa yang kurang beruntung, seperti penyandang disabilitas, anak yatim atau kelompok lanjut usia (lansia).

Uniknya, program WKSBN ini berkonsep gotong royong. Artinya, sumber dana berasal dari sumbangan atau iuran warga desa yang mampu secara finansial. Warga Desa Baleharjo yang sedang merantau pun turut berkontribusi dalam program ini.

Setelah terkumpul, dana kemudian akan diberikan kepada masyarakat desa yang kurang beruntung tersebut. Dana akan disalurkan dalam berbagai bentuk, bisa dalam bentuk uang tunai, paket sembako atau alat tulis untuk anak sekolah.

Paekan, salah satu lansia penerima bantuan mengaku sangat terbantu dengan adanya program WKSBM.

Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi Menyerahkan Bantuan WKSBM kepada anak sekolah kurang mampu di Balai Desa Baleharjo.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi Menyerahkan Bantuan WKSBM kepada anak sekolah kurang mampu di Balai Desa Baleharjo.

“Sangat membantu sekali. Biasanya dapat uang, tetapi yang sering dapat ya bingkisan seperti ini,” ujar Paekan dalam bahasa Jawa saat ditemui Kompas.com usai acara penyerahan bantuan program WKSBM di Balai Desa Baleharjo, Rabu (7/8/2019).

Ada pula penerima bantuan dari anak sekolah, salah satunya Kristian Abimanyu yang datang bersama ibunya, Saminem. Pada kesempatan itu, ia mendapat bantuan alat tulis untuk bersekolah.

Saat ini program WKSBM sudah berjalan di seluruh padukuhan Desa Baleharjo, yakni Wukirsari, Gedangsari, Mulyosari, Purwosari, dan Rejosari. Menurut Kepala Desa (Kades) Baleharjo, Agus Setiawan, program WKSBM yang lengkap di seluruh padukuhan itu adalah yang pertama di Indonesia.

Meski memberi manfaat bagi masyarakat kurang mampu tapi pihaknya beberapa kali mendapat kritikan mengenai WKSBM yang seolah hanya memberikan umpan kepada masyarakat, bukan pancing. Namun, ada alasan kuat mengapa program ini terus dilaksanakan.

“Karena penyandang masalah sosial itu banyak orang yang tidak mampu berdikari. Seperti simbah-simbah yang sudah sepuh, wajib kita bantu. Seperti penyandang difabel, ini juga harus kita bantu. Inilah kunci-kunci WKSBM. Jadi, WKSBM adalah program inovasi dari, oleh dan untuk masyarakat,” ujarnya.

Perwakilan Kemendes PDTT, Kepala Desa Baleharjo, Wakil Bupati Gunungkidul, dan Perangkat Pemerintahan Kabupaten Gunungkidul Berfoto Bersama Penerima Bantuan WKSBMKOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Perwakilan Kemendes PDTT, Kepala Desa Baleharjo, Wakil Bupati Gunungkidul, dan Perangkat Pemerintahan Kabupaten Gunungkidul Berfoto Bersama Penerima Bantuan WKSBM

Program WKSBM juga semakin terbantu dengan adanya dana desa dari pemerintah pusat. Menurut Kades Agus, dana desa itu bermanfaat untuk operasional WKSBM seperti alat tulis kantor, biaya rapat, dan biaya operasional yang tidak bisa diambil dari dana masyarakat. Hal itu karena dana yang terkumpul dikembalikan seratus persen kepada masyarakat yang membutuhkan.

Saat ini total dana desa yang digunakan untuk operasional program WKSBM adalah sekitar Rp 5 juta. Pemanfaatan dana desa untuk WKSBM ini sejalan dengan pembangunan mental dan nurani warga desa melalui pelestarian nilai-nilai gotong royong.

Tahun ini, Desa Baleharjo memperoleh dana desa sekitar Rp 800 juta. Dana desa itu juga dimanfaatkan untuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia, salah satunya pelatihan hidroponik.

Progam pelatihan hidroponik

Dana desa sangat berkontribusi dalam program pelatihan hidroponik, terutama untuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Baleharjo. Program yang dimulai pada Bulan April 2019 ini dilatarbelakangi oleh sempitnya lahan milik warga dan kawasan Gunungkidul yang cenderung tandus dan kering.

Oleh karena itu, dibutuhkan suatu terobosan supaya masyarakat tetap bisa menanam di lahan yang sempit dengan kebutuhan air yang sedikit. Cara terbaik untuk mewujudkan hal tersebut adalah melalui penanaman menggunakan sistem hidroponik.

Menurut pendamping pelatihan hidroponik Desa Baleharjo, Budi Kuncoro, pelatihan tersebut menggunakan dana desa sebesar Rp 25 juta. Selain pelatihan, dana desa juga digunakan untuk pengadaan sarana penanaman hidroponik hingga studi banding di Magelang.

Tanaman Hidroponik di Desa Baleharjo, GunungkidulKOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Tanaman Hidroponik di Desa Baleharjo, Gunungkidul

Usai pelatihan pada bulan April 2019, warga mulai menanam hidroponik secara swadaya. Sarana penanaman hidroponik pun beragam, mereka bisa menggunakan kotak bekas penyimpanan buah, botol plastik, hingga pipa paralon.

Hasilnya usai beberapa bulan mulai menanam, warga sudah bisa menikmati hasil panen beberapa tanaman hidroponik seperti daun selada, bayam merah, selada pagoda, dan sawi sendok. Hasil panen pun lebih segar dan sehat karena tidak menggunakan pestisida.

Saat ini hasil panen memang baru sebatas dikonsumsi sendiri. Meski demikian, hasil panen tanaman hidroponik tetap mengurangi pengeluaran keluarga karena mereka tidak perlu lagi membeli sayuran untuk dikonsumsi.

Anggota Kelompok Wanita Tani yang Mengikuti Program Pelatihan Hidroponik di Desa Baleharjo, Gunungkidul.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Anggota Kelompok Wanita Tani yang Mengikuti Program Pelatihan Hidroponik di Desa Baleharjo, Gunungkidul.

Sementara itu, dana desa memang diakui sangat bermanfaat dan membantu masyarakat Desa Baleharjo untuk kelancaran program Hidroponik. Hal itu disampaikan oleh ketua KWT Marsudi Mulyo, Aera Ning Tyas.

“Dana desa sangat membantu sekali. Jadi kami dapat instalasi hidroponik satu unit, kemudian bisa menambah produksi. Memang benar-benar membantu kami. Selain itu, masyarakat juga tambah ilmu berkaitan dengan kegiatan hidroponik yang didanai dana desa,” ujar Aera.

Pembangunan saluran drainase

Pemanfaatan dana desa tidak berhenti pada program hidroponik saja. Desa Baleharjo juga memanfaatkan dana desa untuk membangun infrastruktur, salah satunya adalah pembangunan saluran drainase.

Pembangunan saluran drainase itu dilatarbelakangi oleh air yang kerap menggenang usai turun hujan. Hal itu membuat dibutuhkannya saluran drainase untuk mengurangi genangan air dan mengalirkan air hujan langsung ke sungai.

Total ada lima saluran drainase yang dibangun di Desa Baleharjo. Berkat dana desa, saat ini sedang dilakukan pembangunan saluran drainase sepanjang sekitar 990 meter yang tersebar di lima pedukuhan Desa Baleharjo.

Pembangunan Saluran Drainase di Desa Baleharjo, GunungkidulKOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Pembangunan Saluran Drainase di Desa Baleharjo, Gunungkidul

Pembangunan saluran drainase paling panjang ada di Dukuh Rejosari yang mencapai 330 meter. Rencananya pembangunan saluran drainase di Rejosari akan selesai dalam waktu tiga sampai empat bulan.

Sementara itu, saluran drainase yang dibangun di Dukuh Gedangsari, Mulyosari, dan Wukirsari sudah selesai. Saat Kompas.com berkunjung ke Desa Baleharjo Kamis (8/8/2019), saluran drainase yang telah selesai adalah sepanjang 550 meter.

Desa yang kaya akan seni budaya

Selain terus berinovasi dengan tetap memegang budaya gotong royong warganya, Desa Baleharjo ternyata memiliki segudang kesenian tradisional yang tetap lestari hingga saat ini seperti seni karawitan, jathilan, gejog lesung, teater dan tari.

Masyarakat desa pun sampai saat ini masih rutin melaksanakan kenduri saat punya hajat atau ketika hendak memulai pembangunan. Kenduri ini berupa doa bersama kemudian menyantap tumpeng dan ayam ingkung.

Menurut Kades Agus, semua padukuhan di Desa Baleharjo memiliki kelompok keseniannya masing-masing. Setiap tahunnya, mereka selalu diberi kesempatan untuk tampil di acara-acara desa.

Salah Satu Kesenian Tradisional di Desa Baleharjo, GunungkidulKOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Salah Satu Kesenian Tradisional di Desa Baleharjo, Gunungkidul

Salah satu acara desa yang rutin diadakan setiap tahun adalah Rasulan atau bersih desa. Acara itu diadakan rutin setiap tahun pada Bulan Juli. Biasanya diadakan pawai budaya yang menampilkan seluruh kesenian Desa Baleharjo dan ditutup dengan pementasan wayang kulit.

Namun, kekayaan seni budaya tersebut saat ini belum mampu menjadikan Desa Baleharjo sebagai desa budaya di Kabupaten Gunungkidul. Bahkan desa ini pun belum masuk rintisan desa budaya.

Warga Desa berharap agar ke depannya Desa Baleharjo bisa menjadi desa budaya, atau setidaknya masuk rintisan desa budaya. Pihaknya mengaku siap jika ada beberapa aspek yang harus disiapkan untuk mewujudkannya.

Saat ini, penyerapan dana desa di Desa Baleharjo sudah mencapai 69 persen. Dana tersebut sebagian besar diarahkan untuk pemberdayaan warga desa agar semakin sejahtera dan menjadikan Desa Baleharjo sebagai desa mandiri.

Warga Desa Baleharjo juga berharap agar ke depannya regulasi dana desa bisa disesuaikan dengan budaya yang ada di suatu desa. Dengan demikian, desa lebih bisa berinovasi untuk memanfaatkan dana desa sesuai kebutuhan masing-masing desa.

Itulah beragam inovasi yang ada di Desa Baleharjo. Kemendes PDTT juga akan selalu mengawal dana desa dan mendorong desa untuk terus berinovasi. Pantau selalu aktivitas terkini Kemendes PDTT di akun instagram @kemendespdtt dan facebook @kemendesa.1. #YukMulaiDariDesa