Advertorial

Djarum Foundation Gaungkan Gerakan Cinta Lingkungan di Ngawi

Kompas.com - 15/08/2019, 18:53 WIB

Bakti Lingkungan Djarum Foundation secara konsisten menjaga komitmennya dalam menghijaukan lingkungan dan mengurangi dampak pemanasan global. Hal tersebut dibuktikan lewat program Djarum Trees for Life (DTFL) yang terus digalakkan di berbagai daerah di Indonesia.

Baru-baru ini, Djarum Foundation bekerja sama dengan PT Jasamarga Ngawi Kertosono Kediri dan Pemerintah Kabupaten Ngawi dalam program penanaman 10,000 pohon trembesi di sepanjang 87 ruas tol Ngawi – Kertosono. Seremoni pembukaan program ini diselenggarakan pada Rabu 14 Agustus 2018 di Alun-Alun Kabupaten Ngawi.

Pada rangkaian seremoni ini, Vice President Director Djarum Foundation FX Supanji menyampaikan bahwa program ini merupakan langkah nyata Djarum Foundation untuk memperbaiki lingkungan dan kualitas udara demi masa depan yang lebih baik.

“Program ini adalah bentuk kepedulian, tanggung jawab, serta komitmen Djarum Foundation terhadap lingkungan guna mengurangi pemanasan global dan menciptakan lingkungan yang bersahabat bagi Indonesia di masa depan,” ujarnya.

. .

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Jasamarga Ngawi Kertosono Kediri Iwan Moedyarno mengutarakan bahwa program ini akan memberikan efek positif bagi para pengguna jalan.

“Ruas tol Ngawi – Kertosono ini merupakan pintu menuju atau keluar wilayah Jawa Timur. Untuk itu, sangat perlu dilakukan penghijauan demi mengurangi dampak polusi dan memberikan kesejukan dan kenyamanan bagi pengguna jalan tol,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Ngawi Ony Anwar yang turut hadir pun menyambut baik upaya yang dilakukan oleh Djarum Foundation ini. Dirinya memaparkan bahwa tugas menjaga lingkungan wajib dilakukan oleh semua pihak, baik pemerintah, swasta, dan semua elemen masyarakat.

Sejak dimulainya DTFL pada 2010 silam, program ini telah berhasil menanam 111.466 pohon trembesi di sepanjang 2.472 yang tersebar di berbagai ruas tol di Indonesia. Mulai dari ruas tol Merak – Banyuwangi, Joglosemar (Yogyakarta – Solo – Semarang), Trans Jawa, Lingkar Madura, Lombok, dan Medan.

Tak hanya sekedar menanam, Djarum Foundation pun berkomitmen dalam perawatan tanaman tersebut selama tiga tahun sejak hari penanaman. Perawatan ini meliputi penyiraman, pemupukan, pemangkasan, hingga penggantian bibit baru jika ada pohon yang rusak atau mati.

Kegiatan talkshow “Lagi-lagi Global Warming”

- -

Selain melakukan program penanaman, DTFL pun menggelar talkshow untuk mengedukasi bagi generasi muda agar lebih peduli dan tergerak untuk melakukan aksi nyata untuk menjaga lingkungan sekitar.

Di kota yang sama, talkshow bertajuk “Lagi-lagi Global Warming” ini mengurai dampak pemanasan global dalam kehidupan manusia serta cara penanggulangannya. Sedangkan peserta kegiatan ini adalah sekitar 250 mahasiswa yang berasal dari 16 perguruan tinggi di wilayah Ngawi, Madiun, dan Solo.

Pembicara yang mengisi talkshow ini di antaranya adalah Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dr. Nandang Prihadi ; influencer Andovi Da Lopez ; dan vokalis grup band Kotak, Tantri Syalindri Ichlasari.

Nandang mengutarakan bahwa pemanasan global perlu mendapatkan perhatian serius dari generasi muda karena memiliki dampak negatif bagi keberlangsungan hidup manusia. Kondisi ini menumbuhkan bibit bencana-bencana yang saat ini acap kali timbul seperti banjir, tanah longsor, hingga penyakit-penyakit baru.

Tantri pun merasakan hal yang sama, saat ini dirinya merasa bahwa suhu kian panas setiap harinya dan musim kini sulit untuk diprediksi. “Perubahan iklim memang benar-benar terjadi dan sekarang sudah waktunya kita untuk semakin sadar lingkungan dan memperbaiki alam,” tambahnya.

Andovi pun turut mengajak anak muda Indonesia agar menjadi agen perubahan untuk gerakan sadar lingkungan. Anak muda yang sangat akrab dengan dunia digital pun diharapkan dapat menggerakan hati banyak orang.

Hijaukan Benteng Van Den Bosch lewat #SiapDarling

. .

Secara simultan, Djarum Foundation pun bekerja sama dengan Kodam V Brawijaya mengadakan gerakan bertajuk Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling). Gerakan ini merupakan kegiatan menanam 130 pohon dan tanaman berbunga di salah satu situs bersejarah Benteng Van Den Bosch.

Diikuti oleh sekitar 250 mahasiswa yang berasal dari berbagai universitas di sekitar Ngawi, gerakan ini mengajak generasi milenial untuk terlibat langsung dalam aksi nyata dalam menjaga lingkungan sekitar.

FX Supanji yang turut hadir memaparkan bahwa Siap Darling diadakan untuk memfasilitasi semangat para generasi milenial dalam memelihara, melestarikan, dan memperbaiki lingkungan sekitar dengan cara yang menyenangkan.

“Terlaksananya gerakan ini diharapkan Benteng Van Den Bosch semakin cantik dan nyaman bagi wisatawan. Sehingga diharapkan dapat memberikan dampak positif untuk lingkungan dan menggerakkan roda ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama Dandim 0805/Ngawi Letkol Arh Hany Mahmudi pun menyambut baik upaya Djarum Foundation dalam melestarikan situs bersejarah ini. Menurutnya, gerakan ini diyakini dapat mendorong generasi muda untuk semakin mencintai dan menghargai jasa-jasa pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan.

“Benteng ini merupakan tempat yang sangat penuh dengan nilai sejarah dan tentunya harus dilestarikan. Apa yang dilakukan oleh Djarum Foundation dan mahasiswa hari ini adalah upaya untuk menjaga dan mengenenang perjuangan para pahlawan,” tambahnya.

Gerakan ini juga bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya yang terus berkomitmen untuk menghijaukan berbagai situs budaya di Indonesia. Pada akhir Juni silam, kegiatan serupa bertajuk “Candi Darling” juga melakukan kegiatan penghijauan di kawasan Candi Prambanan.

Siap Darling membuka kesempatan bagi para mahasiswa untuk turut terlibat dalam program selanjutnya. Bergabunglah ke dalam Darling Squad yang berkomitmen untuk menebarkan semangat dan aksi nyata untuk memperbaiki bumi, kunjungi www.siapdarling.id untuk informasi selengkapnya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau