Advertorial

Surabaya Rumah Kita Bersama

Kompas.com - 05/09/2019, 16:44 WIB

Selain menyandang predikat sebagai Kota Pahlawan yang sarat nuansa historis, Surabaya juga dikenal sebagai kota multi-kultural. Beragam etnis hidup berdampingan dengan harmoni. Keragaman itulah yang membentuk karakter Surabaya sebagai kota yang toleran. Menjadikan Surabaya rumah bersama. Rumah untuk semua.

Sejak era kerajaan, masa kolonial hingga pasca kemerdekaan, Surabaya selalu memegang peranan sebagai kota pelabuhan. Tak heran banyak pendatang dari daerah atau negara lain yang singgah, bahkan menetap di Surabaya. Dengan kata lain, sejak zaman dahulu hingga sekarang, warga Surabaya memang sudah terbiasa dengan keberagaman penduduk.

Di kota ini, segala macam etnis, suku atau ras bisa dijumpai. Mulai dari suku Jawa, Batak, Karo, Papua, Madura, Dayak, Bugis, dan seterusnya. Juga ada komunitas masyarakat Tionghoa, Arab, India, hingga Korea. Setiap tahunnya, mereka selalu diberikan ruang untuk ikut menyemarakan agenda Parade Surabaya Vaganza dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya. Sebab, Pemkot Surabaya menyadari bahwa keberagaman merupakan fondasi yang kuat bagi kota ini untuk terus bergerak maju.

Kepala Bagian Humas Kota Surabaya, M. Fikser menyatakan, pemkot acapkali memberikan kesempatan berbagai budaya untuk tampil di event-event besar. Sebut saja Cross Culture Festival alias Festival Seni Lintas Budaya yang digelar setiap tahun. Acara tersebut merupakan ajang memperkenalkan tampilan budaya dari dalam dan luar negeri.

Di samping itu, agenda welcome dinner juga menjadi ajang unjuk budaya. Dalam beberapa kesempatan, pemkot menampilkan ragam tarian khas Surabaya hingga tarian asal Papua. “Ini merupakan bukti bahwa Surabaya menghargai keberagaman dan kesetaraan,” ujar Fikser.

- -
Surabaya juga terbuka di bidang ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Tercatat beberapa kali Surabaya kedatangan rombongan tamu dari Papua. Tujuannya, untuk mengikuti ragam pelatihan yang disediakan pemkot. Di antaranya, pelatihan kuliner, sepatu, kerajinan tangan, dan sebagainya. Ada pula Co-Working Space KORIDOR yang selalu terbuka bagi siapa saja. Para pemuda Papua juga pernah menimba ilmu cara berbisnis dengan memanfaatkan media sosial di tempat ini.

“Peluang untuk sama-sama belajar dan berkembang di Surabaya itu sangat terbuka lebar. Pemkot telah memfasilitasi semua yang punya keinginan untuk maju dan hidup lebih baik. Melalui berbagai pelatihan yang disediakan,” ungkap pejabat asal Serui ini.

Dengan iklim toleransi dan keberagaman seperti saat ini, Fikser yakin ke depan Surabaya akan tetap menjadi rumah yang nyaman bagi semua. Sebab, kota ini menjamin kesetaraan dan membuka peluang yang sama bagi siapa pun yang ingin berhasil.(adv)

“Surabaya adalah tempat yang nyaman ditinggali oleh siapa pun. Baik warga asli maupun pendatang. Itu sangat terlihat sekali dalam kehidupan sehari-hari. Kota ini memberikan peluang yang sama bagi semua orang yang punya tekad untuk sukses”

Peter Frans Rumaseb -Ketua Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya (IKBPS)-

“Semuanya saling menghormati, kita buktikan di acara-acara seperti Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) kita bersatu terus, semoga kerukunan ini bisa jalan terus sampai akhir”

Chandra Wurianto Woo -Ketua Komunitas Tionghoa Surabaya-

“Kota Surabaya sudah menjadi tempat berkumpulnya seluruh marga Suku Karo yang tinggal di beberapa kabupaten/kota di sekitar Surabaya. Kami merasa nyaman di sini sehingga rutin setiap beberapa bulan kami mengadakan pertemuan untuk mengenang desa kami”

Murphin Josua Sembiring -Anggota Perkumpulan Suku Karo di Surabaya-

“Di kawasan Ampel terdapat tiga komunitas besar, yakni Arab, Jawa dan Madura. Selama ini, belum pernah ada benturan antar komunal dari berbagai suku bangsa yang berbeda itu. Walaupun berbeda suku bangsa dan agama, tapi semua saling menghormati satu sama lain”

Abdullah Muhammad Al Batati -Anggota Komunitas Arab di Ampel, Surabaya-

“Toleransi yang ada di Surabaya sangat tinggi. Sebagaimana kami di Minahasa, Sulawesi Utara. Persaudaraan yang kami bangun tidak melihat budaya, suku atau agama dari setiap orang”

Noufry Rondonuwu -Ketua Umum Kerukunan Keluarga Kawanua Surabaya-

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau