Advertorial

Dear Milenial, YOLO itu Bukan Cuma Soal Menghambur-Hamburkan Uang

Kompas.com - 03/10/2019, 13:43 WIB
- -

Dari dulu kita pasti tahu tiga kebutuhan pokok manusia, yaitu sandang, pangan, dan papan. Namun, berbeda dengan istilah tiga kebutuhan pokok milenial yang disematkan oleh banyak pihak, terutama generasi pendahulunya, yaitu sandang, pangan, dan jalan-jalan.

Cap YOLO (You Only Live Once)memang sangat melekat pada generasi milenial. Banyak yang memiliki penghasilan yang lumayan tetapi menghabiskan hasil kerja kerasnya untuk memenuhi keinginan untuk traveling. Memang, tidak ada salahnya juga untuk memenuhi gaya hidup seperti itu, selain bisa melepas stres dari pekerjaan sehari-hari, pengalaman yang ditemui juga berharga. Namun, pola hidup seperti ini juga memunculkan anggapan bahwa generasi milenial tidak mempunyai rencana keuangan di masa depan.

Masa depan itu nyata, lifestyle itu fana

Generasi milenial memang tidak bisa lepas dari gaya hidup yang konsumtif, apalagi kalau mendapat dana lebih atau naik gaji. Nafsu untuk mengikuti gaya hidup memang tinggi bila sedang mengalami hal ini. Namun, bila kamu terus impulsif, berapapun gaji yang diterima, tidak akan cukup untuk mengikuti gaya hidup yang terus meningkat.

Melihat gaya hidup kaum milenial seperti ini, maka ia terancam tidak mampu memiliki tempat tinggal yang layak di masa yang akan datang. Menurut data Rumah123, kenaikan harga rumah jauh lebih besar dibanding kenaikan pendapatan per tahunnya. Rata-rata kenaikan properti di Indonesia per tahunnya mencapai 17 persen. Bila melihat UMR yang naik tidak sampai angka 10 persen, hasilnya dalam 3 tahun mendatang, hanya 5 persen kaum milenial (kelahiran antara 1982 – 1995) yang sanggup membeli rumah. Sisanya 95 persen tak memiliki tempat tinggal.

Jadi, lebih baik berkaca dan mulai memikirkan masa depan. Pendapatan yang kita dapat jangan semuanya dihambur-hamburkan untuk kesenangan, sebaiknya hanya 20-25 persen untuk kebutuhan gaya hidup kamu.

Jangan berpikir instan

Di era digitalisasi yang apa-apanya serba instan, jangan juga berpikir kalau masa depan juga bisa diraih dengan cara instan. Mulailah belajar betapa pentingnya menabung dan berinvestasi, karena kita tidak tahu akan terjadi hal apa di masa yang akan datang.

Menabung juga tidak harus menyisihkan 50 persen pendapatan, mulailah dari hal kecil dan bertahap seperti Rp 500 ribu sebulan untuk yang bergaji UMR atau Rp 1 juta sebulan untuk yang gaji di atas Rp 5 juta sebulan. Bila perlu kamu mengikuti tabungan berjangka supaya tidak berhenti menabung. Hal kecil seperti ini bisa menjadi kebiasaan baik yang kita tanam sejak dini.

Begitu pula investasi, tidak melulu tentang emas dan lainnya. Dengan mengikuti workshop yang kamu minati dan bisa menjadi landasan untuk menaiki jenjang karir atau berbisnis sesuai passion juga bisa dinamakan investasi. Walaupun traveling bisa dibilang investasi juga, tapi jangan selalu dijadikan alasan pergi ke Bali untuk chill di Omnia bareng Hotman Paris setahun sekali, ya!

Lifestyle terpenuhi, nabung juga tidak berhenti dengan cara ini

Kamu juga harus pintar-pintar mengatur keuangan bila tetap ingin memenuhi gaya hidup. Coba jabarkan kebutuhan konsumtif apa saja yang ingin kamu beli selama 1 tahun ke depan, contoh:

  • Beli HP baru Rp 4.000.000
  • Traveling ke Bali dan Thailand Rp 8.000.000
  • Beli sneakers idaman Rp 1.000.000

Dengan ini, kamu tidak akan mengeluarkan uang untuk kebutuhan konsumtif kamu melebihi apa yang sudah direncanakan. Selain itu, kamu juga bisa memanfaatkan kredit online , Kredivo contohnya, pinjaman online yang sudah terdaftar di OJK.

Dengan memanfaatkan layanan ini, kamu bisa menyisihkan uang untuk membayar kebutuhan kredit dan menabung setiap bulannya. Contoh, kalau kamu berpenghasilan Rp 5 juta setiap bulannya dan ingin membeli HP baru sebesar Rp 4 juta dengan memakai layanan Kredivo , dengan bunga hanya 2,95 persen per bulan, kamu hanya membayar lebih kurang Rp 1,4 juta untuk 3 bulan cicilan. Jadi, kamu masih bisa menyisihkan Rp 1 juta untuk menabung dan Rp 2,6 juta untuk kehidupan sehari-hari. Win-win solution bukan?

Jadi YOLO juga harus merencanakan kehidupan di masa depan dan harus pintar mengatur keuangan. Dengan segala kebutuhan yang kamu perlukan di masa yang akan datang, you only have one move untuk menyelamatkan masa depan yang belum terpikirkan. Yaitu dengan sadar, bahwa YOLO itu bukan cuma soal menghambur-hamburkan uang.