Advertorial

Simposium Guru: Lakukan Perubahan Agar Tercipta Inovasi Pembelajaran

Kompas.com - 29/11/2019, 10:53 WIB
Kasubdit Kasharlindung Dit PG Dikdas Kemdikbud, Eddy Tejo Prakoso saat sambutan pembukaan simposium guru di Jakarta, Kamis (28/11/2019) Kasubdit Kasharlindung Dit PG Dikdas Kemdikbud, Eddy Tejo Prakoso saat sambutan pembukaan simposium guru di Jakarta, Kamis (28/11/2019)

Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar (Dit PG Dikdas), Kemendikbud menggelar Simposium Guru Pendidikan Dasar Tahun 2019 yang diikuti 269 guru sekolah dasar dan menengah dari berbagai daerah di Indonesia. Simposium dibuka oleh Kepala Subdirektorat Kesejahteraan, Penghargaan, dan Perlindungan Pendidikan Dasar, Eddy Tejo Prakoso di Jakarta, Kamis (28/11/2019).

Dalam sambutan pembukaan simposium, Eddy Tejo mengatakan, era 4.0 saat ini harus didukung sumber daya manusia yang kompeten. "Sebagai guru mau tidak mau harus menerima teknologi," ujarnya.

Eddy Tejo juga mengajak seluruh guru pendidikan dasar agar terus meningkatkan kompetensinya dan terus mengikuti perkembangan teknologi informasi untuk mengimbangi mudahnya siswa mengakses informasi melalui gawai saat di luar sekolah.

Kasubdit Kesharlindung Dit PG Dikdas saat membuka simposium guru di Jakarta, Kamis (28/11/2019) Kasubdit Kesharlindung Dit PG Dikdas saat membuka simposium guru di Jakarta, Kamis (28/11/2019)

"Anak sekarang lebih banyak waktu mengakses informasi dari HP nya ketimbang gurunya. Oleh karena itu guru juga harus punya kemampuan menyesuaikan zaman. Harus bisa memberikan solusi terhadap perubahan sesuai zamannya," tutur Eddy Tejo.

Untuk mengikuti perkembangan, menurut Eddy Tejo, guru harus terus melakukan perubahan seiring kebutuhan zaman. "Inovasi hanya bagian perubahan. Guru ke depan, harus melakukan perubahan sekecil apapun agar tercipta inovasi yang bisa membuat pendidikan di kelas makin disukai siswa. Guru dan siswa harus memiliki kesesuaian agar tercipta pendidikan yang lebih baik," ujar Eddy Tejo.

Selain itu Eddy Tejo mengingatkan inovasi yang dilakukan guru adalah melakukan perubahan ke arah lebih baik sebagai pendamping dari acuan pembelajaran yang sudah ada. Inovasi terkait juga dengan inisiatif dan kreativitas. Paling penting inovasi harus dipraktikkan di kelas.

Salah satu peserta simposium, Hendra Hendayana, guru kelas V SD Negeri Sukamulya, Majalaya Kabupaten Bandung, mengatakan, apa yang diberikan dalam simposium ini akan ia praktikkan dalam kegiatan belajar di kelas. "Pasti akan ada perubahan setelah mendapatkan ilmu dari simposium. Minimal perubahan dimasukkan saat membuat soal," ucap Hendra.

Karena itu Hendra sangat antusias mengikuti simposium tersebut. Ia berharap banyak hal yang bisa diambil dari simposium.

Selain itu mendapatkan ilmu tentang High Order Thinking Skills (HOTS) yang dihadirkan dalam materi simposium menjadi hal yang paling ditunggu Hendra. Dirinya berharap pemateri tidak sekadar memberi teori tetapi juga bagaimana menerapkan dalam pembelajaran. "Acara seperti ini sangat membantu para guru untuk mendapatkan ilmu-ilmu untuk dipraktikkan saat belajar mengajar di kelas," ujar Hendra.

Harapan juga disampaikan Eddy Tejo yang menuturkan, setelah mengikuti simposium ini guru dapat secepatnya melakukan perubahan, punya kreativitas, inovatif, mengevaluasi pembelajaran dan buat program berikutnya. Jika guru sudah melaksanakannya maka peserta didiknya akan meraih nilai akademik yang baik dan punya prestasi non-akademik. "Guru hebat, murid senang dan berprestasi," pungkas Eddy Tejo.