Advertorial

Guru Kekinian Harus Bisa Hadirkan Suasana Perubahan dalam Mengajar

Kompas.com - 30/11/2019, 06:50 WIB

Tuntutan perubahan pola pengajaran dan pembelajaran yang ditujukan pada guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah seiring perkembangan zaman menjadi hal penting dalam dunia pendidikan saat ini. Demikian disampaikan Guru Besar Universitas Negeri Medan (Unimed), Syawal Gultom saat menjadi pemateri pada Simposium Internasional Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah di Jakarta, Jumat (29/11/2019).

Menurut Gultom, yang paling pertama dilakukan untuk menjawab tantangan zaman adalah mengubah suasana belajar di dalam kelas. "Sekarang ini biarkan anak yang bertanya, bukan lagi guru bertanya pada murid. Tugas guru sekarang bagaimana anak bisa bertanya. Ciri anak kreatif, bisa kontruksi bertanya yang baik. Jadi ubah dulu suasana belajar biarkan murid belajar dulu, setelah itu guru membantu menjelaskan," beber Gultom.

Selain itu menurut Gultom yang harus dilakukan adalah mengubah budaya mutu sekolah ke arah budaya kualitas, budaya komunikatif, kerja sama, dan berkolaborasi. "Ke depan itu yang dibutuhkan, yaitu kemampuan komunikasi," tegas Gultom.

Dengan begitu kepala sekolah maupun pengawas sekolah targetnya adalah menanamkan cara berpikir lebih sehat. Gultom menyarankan, sekali-sekali perlu dilakukan pelatihan bersama semua guru. Tidak hanya pelatihan guru sejenis saja.

Semua itu diakui Gultom merupakan tantangan. Tak heran jika ia menilai saat ini baru separuh saja dari kepala sekolah dan pengawas sekolah di Indonesia yang bisa melakukan perubahan tersebut.

Sementara itu hadir pula sebagai pemateri perwakilan generasi milenal Patryarya dari INSPIRASI yang menyampaikan beberapa hal mengenai kebutuhan generasi milenial yang harus diketahui. Di antara ciri generasi milenial menurut Patryarya adalah suka tantangan, tidak suka diawasi sepanjang hari, lebih suka didukung kelebihannya, menilai dengan jujur, serta lebih senang jika seorang guru bertindak sebagai fasilitator.

Peserta simposium merupakan kepala sekolah dan pengawas sekolah yang umumnya telah memiliki pengalaman sebagai finalis best practise, sehingga sangat membutuhkan ruang seperti simposium internasional tersebut.

Simposium yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan mengusung tajuk "Innovative Scholl Leadership to Improve Student Learning and Wellbeing” ini diikuti 398 peserta dari 34 provinsi. Pembicara yang dihadirkan pada simposium internasional ini di antaranya berasal dari Australia dan Filipina serta akademisi dan praktisi dari Indonesia.

Simposium ini dihadirkan karena adanya tantangan global dan revolusi indutri 4.0, yang menyebabkan tugas dan peran Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah semakin sentral dan berat. Untuk itu diperlukan sarana komunikasi dan interaksi yang efektif bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah untuk saling menambah wawasan, pemahaman, pengalaman, dan pengembangan dalam melaksanakan tugas profesinya.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau