Advertorial

Setengah Tahun Merapah Jalan Berliku Demonstrasi Hong Kong

Kompas.com - 06/12/2019, 13:47 WIB
- -

Gejolak demonstrasi di Hong Kong belum juga usai. Selama aksi protes ini, sebanyak lebih dari 4 ribu orang sudah ditahan dan lebih dari 1.500 gas air mata sudah digunakan. Pergerakan massa yang berdemonstrasi di jalanan Hong Kong ini bermula dari penolakan atas RUU Ekstradisi. Selama 6 bulan terakhir, aksi ini terus berjalan hingga muncullah tuntutan agar Hong Kong independen dari China.

Namun, apakah hal ini mungkin terjadi?

Mari menilik kembali era perang opium pertama pada tahun 1839 sampai 1842 ketika dinasti Qing dikalahkan. Inggris menduduki Hong Kong pada tanggal 25 Januari 1841 dan memakai Hong Kong sebagai basis militer. Hong Kong juga dijadikan koloni kerajaan dan digunakan sebagai medium penyebaran agama Kristen dengan membuka sekolah-sekolah misionaris.

Terhitung sejak tahun penyerahannya kepada China pada tahun 1997, Hong Kong memang diijinkan untuk mempertahankan sistem sosial, hukum, dan politiknya sendiri selama 50 tahun. Berdasarkan kesepakatan sejarah, Hong Kong akan menjadi wilayah China pada tahun 2047 mendatang. Meskipun demikian, sisa waktu 27 tahun bukanlah waktu yang lama bagi China yang memiliki sejarah selama ribuan tahun.

Protes atau demostrasi yang sekarang terjadi seolah mengulang sejarah. Apalagi jika memperhitungkan potensi China, naga tidur yang kini mulai terbangun dan menunjukkan perkembangan yang begitu pesat. Transformasi ke bentuk republik pada tahun 1949-1976 dibawah pimpinan Mao Zedong merupakan titik awal bangkit kembalinya naga yang tidur nyenyak selama bertahun tahun ini.

Namun, tidak semua pihak menyambut baik hal tersebut. Sejumlah pihak justru merasa khawatir dan terintimidasi dengan kekuatan ekonomi, militer, dan politik China. Karenanya, timbul kemungkinan dilakukannya sejumlah usaha untuk menghalau kemajuan pesat ini.

Hong Kong adalah wilayah yang berhasil berkembang dan memiliki reputasi baik di dunia internasional. Selain itu, letaknya pun sangat strategis. Sebagai ujung tombak, tidak heran jika Hong Kong dijadikan sasaran utama.

Teka teki utama saat ini adalah ada atau tidaknya kepentingan pihak lain yang melatar belakangi terjadinya demonstrasi berkepanjangan di Hong Kong.

Di sisi lain, Beijing merespon demonstrasi Hong Kong dengan membatasi sikap keras. Hal ini dilakukan karena kota Shanghai dapat menggantikan Hong Kong dari segi keuangan. Sikap ini pun dinilai bijak untuk menghadapi keadaaan tersebut.

Sebaliknya, justru yang mengalami kesulitan ekonomi sekarang adalah Hong Kong sendiri. Untuk membangun kembali resesi ekonomi dan infrasruktur yang rusak akan memakan biaya sangat besar dan waktu yang sangat lama. Sedangkan Beijing mempunyai dana yang luar biasa besarnya, apalagi hanya untuk 27 tahun sampai masuknya Hong Kong sebagai wilayah kesatuan China pada tahun 2047 nanti.

Sebagai bangsa dan negara yang merdeka kita semua harus waspada dengan kemungkinan masuknya kekuatan asing yang menggunakan berbagai cara untuk memecah belah. Setiap negara harus mampu belajar dari demonstrasi yang terjadi di Hong Kong dengan mata terbuka serta pikiran jernih. Terlebih bagi negara yang strategis letaknya di kawasan Asia dan memiliki penduduk multi rasial.

- -

Artikel ini ditulis oleh Retnowati Abdulgani Knapp, penulis buku “A Fading Dream: The Story of Roeslan Abdulgani and Indonesia” dan “Soeharto, The Life and Legacy of Indonesian Second President”.