Advertorial

Provinsi Guangdong Punya Pemandangan Indah Layaknya Lukisan

Kompas.com - 23/12/2019, 22:47 WIB
Jiulong Town, area wisata alam yang digemari turis domestik maupun mancanegara. Jiulong Town, area wisata alam yang digemari turis domestik maupun mancanegara.

Guangzhou merupakan salah satu kota di China yang menawarkan begitu banyak hal bagi wisatawan. Ibu kota Provinsi Guangdong ini tidak hanya punya Canton Tower, menara televisi setinggi 600 meter yang menjadi ikon kota atau pemandangan kota modern yang berpadu dengan nuansa tradisional saja.

Guangzhou juga memiliki daya tarik bagi wisatawan yang gemar menikmati keindahan alam. Menempuh perjalanan beberapa jam dari kota ini wisatawan dapat menemukan destinasi-destinasi wisata yang menawarkan pemandangan layaknya gambar dalam sebuah lukisan.

Salah satunya adalah Jiulong Town, sebuah area wisata yang terletak di tengah barisan pegunungan Yingxi, kota Qingyuan. Kamis (12/12/2019) lalu, Kompas.com berkesempatan mengunjungi area wisata ini.

Memasuki area wisata Jiulong Town hamparan bunga berpadu dengan deretan pegunungan langsung memanjakan mata. Untuk berkeliling Jiulong Town kami memilih menaiki sebuah mobil wisata yang disediakan di pintu masuk area ini.

Terdapat beragam spot foto menarik di area wisata Jiulong Town. Terdapat beragam spot foto menarik di area wisata Jiulong Town.
Jiulong Town merupakan kawasan wisata yang terdiri dari sungai, danau, dan pegunungan. Terdapat juga area penginapan yang ditempatkan di pinggir danau. Setiap paviliun memiliki desain futuristik.

Mengintip ke dalamnya, fasilitas yang ditawarkan cukup lengkap, mulai dari tempat tidur untuk dua orang, kamar mandi, dan balkon untuk menikmati pemandangan. Wisatawan dapat menginap di sana dengan harga 1.200 yuan per malam.

Jiulong Town merupakan destinasi wisata yang termasuk dalam kategori 4A di China, yang berarti unggulan dan telah memiliki fasilitas yang disyaratkan oleh pemerintah. Meskipun lokasinya jauh dari kota, fasilitas publik yang ditawarkan cukup lengkap dan bersih. 

Pada musim dingin seperti saat ini Jiulong Town tidak begitu ramai pengunjung. Namun, pada musim panas jumlah pengunjung akan lebih padat. Mereka datang untuk menikmati cantiknya bunga-bunga teratai di danau yang mengembang sempurna.

Cantiknya Tianmen Sky Walk di malam hari. Cantiknya Tianmen Sky Walk di malam hari.
Selain Jiulong Town, Qingyuan juga memiliki satu lagi destinasi wisata alam yaitu Tianmen Sky Walk. Sebuah jembatan kaca tembus pandang yang dibangun menjorok dari puncak bukit. Berjalan di atas jembatan ini terasa melayang di udara sambil melihat perbukitan di bawahnya.

Untuk mencapai Tianmen Sky Walk wisatawan harus menaiki 1.000 anak tangga terlebih dahulu untuk mencapai puncak bukit. Namun, upaya untuk mencapai puncak bukit tidak terasa berat karena sepanjang perjalanan terdapat banyak spot untuk foto.

Pemandangan yang disuguhkan di atas juga menghapus rasa lelah. Pemandangan pegunungan dan kota Qingyuan dari atas bukit tersebut begitu indah.

Kebanyakan wisatawan memilih untuk mengunjungi Tianmen Sky Walk pada sore hari. Mereka menikmati pemandangan matahari terbenam dan cantiknya lampu-lampu yang menghias jembatan ini di malam hari. 

Singgah di Kampung Indonesia

Provinsi Guangdong juga cocok bagi penggemar wisata sejarah. Selain peninggalan pemimpin revolusi dan membangun Republik China, dr Sun Yat Sen wisatawan Indonesia juga dapat menemukan koneksi antara provinsi ini dengan sejarah tanah airnya.

Pada hari yang sama Kompas.com mengunjungi desa Yingde yang terkenal dengan sebutan Kampung Indonesia. Sebutan Kampung Indonesia mulai melekat pada Yingde sejak 1959.

Warga Kampung Indonesia menyuguhkan tarian diiringi lagu daerah Indonesia untuk pengunjung. Warga Kampung Indonesia menyuguhkan tarian diiringi lagu daerah Indonesia untuk pengunjung.
Pada tahun tersebut Indonesia mengalami gejolak sosial dan politik yang melibatkan warga negara China dan keturunannya akibat diterbitkannya Peraturan Pemerintah no. 10 tahun 1959.  Situasi panas menyebabkan ribuan warga negara China dan keturunannya di Indonesia bereksodus ke negara asal leluhur mereka.

Pemerintah China merelokasi mereka dari Guangzhou ke Desa Yingde dan memberi mereka lahan perkebunan untuk digarap. Lahan perkebunan tersebut kini diberi nama perkebunan teh Yinghua dan menjadi salah satu pengekspor teh merah ke seluruh dunia.

Setelah menempuh jarak 140 kilometer dari pusat kota Guangzhou melalui jalan bebas hambatan, kami tiba di Desa Yingde.

Meskipun berstatus desa pemandangan di Yingde lebih mirip seperti perkotaan. Pemandangan deretan rumah toko (ruko), restoran-restoran yang dipadati warga lokal, serta gedung apartemen menyambut kami ketika memasuki Yingde.

Bus yang kami tumpangi kemudian berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan. Seorang pria lanjut usia berjas warna cokelat khaki menyambut kami dengan senyum ramahnya.

A Ting (73), salah satu penduduk Kampung Indonesia. Ia berasal dari Semarang. A Ting (73), salah satu penduduk Kampung Indonesia. Ia berasal dari Semarang.
Pria tersebut bernama A Ting (73). Ia adalah salah seorang warga keturunan Tionghoa yang pulang ke negeri asal leluhurnya karena PP no. 10 tahun 1959. Pada saat itu ia baru berusia 13 tahun.

“Saya lahir dan besar di Semarang. Tahun 1959 itu saya dan orangtua pulang bersama 3.000 orang lainnya ke China, naik kapal Russia, dan mendarat di Guangzhou,” kisah A Ting.

Hari di mana kami datang ke Kampung Indonesia bertepatan dengan peringatan 70 tahun eksodus warga keturunan Tionghoa di Indonesia pada 1959. Usai pertemuan singkat dengan A Ting dan beberapa warga Kampung Indonesia lainnya kami disuguhkan masakan Indonesia dan tarian diiringi lagu-lagu daerah Indonesia.

Ramah bagi wisatawan muslim

Wisatawan Indonesia tidak perlu khawatir ketika menjelajah beragam destinasi wisata di China. Saat ini restoran-restoran bersertifikasi halal dapat ditemui di China, meskipun jumlahnya belum banyak.

Kebanyakan restoran ramah muslim menyuguhkan hidangan khas China Utara seperti daerah Xinjiang, Ningxia, Xi’an, dan Lanzhou yang kebanyakan penduduknya beragama Islam.

Salah satu hidangan yang sempat Kompas.com coba adalah Lanzhou lamian. Mie dengan kuah kaldu sapi bening, potongan daging sapi, dan taburan daun ketumbar. Mie ini cocok disantap bersama pangsit kukus berisi daging sapi.

Semangkuk Lanzhou lamian hangat, cocok untuk disantap saat musim dingin. Semangkuk Lanzhou lamian hangat, cocok untuk disantap saat musim dingin.
Jika Anda ingin berlibur di China saat ini Garnis Tour and Travel (G-tour) berencana untuk menawarkan paket wisata ramah muslim di negara berjuluk negeri tirai bambu tersebut. Paket wisata ini rencananya akan diluncurkan secara perdana pada 2020 mendatang.

“Minat untuk tur yang ramah muslim ini lumayan tinggi terutama ke negara-negara Asia Timur. Kami mencoba grab minat ini sebagai peluang. Kami siap-siap meluncurkan paket ini di tahun depan,” ujar Wawan, General Manager Garnis Tour and Travel.

G-tour, lanjut Wawan, tengah mendalami destinasi-destinasi di China untuk disuguhkan sebagai paket perjalanan wisata ramah muslim. Soal harga, G-tour menjamin lebih kompetitif karena saat ini agen perjalanan yang berkantor di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara tersebut bekerja sama dengan maskapai penerbangan China Southern.

Kunjungi www.g-tour.id untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai paket-paket wisata ramah muslim.