Advertorial

Belajar dari Megawati, Perempuan Tidak Perlu Takut Berpolitik

Kompas.com - 25/12/2019, 21:44 WIB
Megawati Soekarnoputri hadir di peringatan hari ibu yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Megawati Soekarnoputri hadir di peringatan hari ibu yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Saat ini kaum perempuan tidak lagi hanya sebagai pendamping kaum laki-laki. Konstitusi Indonesia bahkan memberi kaum perempuan kedudukan yang sama dan sederajat dengan kaum laki-laki untuk memiliki peran serta berkontribusi untuk negara.

Oleh sebab itu, Megawati Soekarnoputri mendorong semangat perempuan untuk terjun sebagai politikus, mewakili aspirasi rakyat dan turut membangun negara. “Perempuan jangan takut terjun ke politik,” ujarnya tersebut, pada peringatan hari ibu yang diselenggarakan BPIP, Minggu (22/12/2019) lalu berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.  

Megawati yang juga adalah Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) tersebut mengatakan sesungguhnya jika menengok sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, perempuan memiliki peran penting.

“Kita punya RA Kartini, Cut Nyak Dien, dan Dewi Sartika. Jangan lupa kita punya Fatmawati. beberapa pihak yang berpikir bahwa Fatmawati hanyalah penjahit bendera sangsaka merah putih, namun menjadi pahlawan. Kita harus melihat keberaniannya membuat bendera pusaka saat masih dijajah,” lanjut Megawati.

Pada era modern seperti saat ini, ia mengatakan kaum perempuan harus punya keberanian yang sama untuk mengambil peran, salah satunya di bidang politik.

Ia memberi contoh dirinya yang pernah menduduki jabatan wakil presiden dan presiden kelima Republik Indonesia. Selain itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani yang beberapa kali menduduki jabatan politik dan putrinya, Puan Maharani yang saat ini menjadi Ketua DPR RI.

Puan menjadi Ketua DPR RI perempuan terpilih pertama setelah 22 kali sebelumnya lembaga tersebut dipimpin oleh laki-laki. 

“Semua capaian itu kami lakukan dengan perjuangan dan bukan untuk pamer, melainkan agar menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan Indonesia,” ujarnya.

Hambatan berupa konstruksi sosial dan kultural

Selain Megawati Soekarnoputri, peringatan hari ibu yang bertema “Perempuan Hebat Indonesia Maju” tersebut juga dihadiri oleh Wakil Ketua Dewan Pengarah BPIP Try Sutrisno, jajaran BPIP.

Selain itu turut hadir pula perempuan-perempuan Indonesia berprestasi seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, Yenny Wahid, dan sejumlah pengusaha perempuan sukses.

Pada kesempatan tersebut Sri Mulyani mengatakan terlepas dari kesetaraan dan kesempatan sama untuk berkiprah di panggung nasional maupun internasional, tidak dapat dimungkiri kaum perempuan di Indonesia masih menghadapi hambatan yang tak kasat mata.

Hambatan tersebut adalah konstruksi sosial dan kultural yang menganggap perempuan tidak boleh lebih maju daripada laki-laki. Namun, Sri Mulyani mengatakan hambatan tersebut dapat diatasi dengan komunikasi.

“Perempuan memang sering dianggap konco wingking, tapi jika saling komunikasi dan berbagi peran antara pasangan hambatan tersebut bisa diatasi,” ujarnya.

Pendapat Sri Mulyani tersebut dibenarkan oleh Yenni Wahid. Putri mantan Presiden Abdurrahman Wahid mengatakan saat ini kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki dalam rumah tangga dapat tercapai dengan adanya kesepakatan dan komunikasi.