Advertorial

Tak Sengaja Ditemukan, Candi Kimpulan Bawa UII Raih Pelestari Warisan Budaya

Kompas.com - 25/12/2019, 23:26 WIB
Candi Kimpulan di Kompleks Perpustakaan Pusat, Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia Candi Kimpulan di Kompleks Perpustakaan Pusat, Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia

Candi Kimpulan yang terletak di Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia (UII) ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 2009. Ketika tengah diadakan penggalian untuk pondasi proyek pembangungan perpustakaan UII, situs purbakala ini ditemukan.

Pada awalnya, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala menamai candi ini dengan nama Candi Kimpulan berdasarkan nama desa setempat, tetapi atas usul Yayasan Badan Wakaf UII, candi ini memiliki nama lain, yaitu Candi Pustakasala.

Selain memiliki arti perpustakaan dalam bahasa Sansekerta, nama tersebut menggambarkan nuansa pendidikan di lingkungan universitas. Apalagi didukung dengan adanya Arca Ganesha yang dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan, intelektual, dan kebijaksanaa bagi umat Hindu, ditemukan dalam situs ini.

Keputusan untuk terus melestarikan peninggalan purbakala di lokasi kampus ternyata membuat UII dinobatkan sebagai salah satu pelaku pelestari warisan budaya dari 22 penerima Anugerah Kebudayaan Gubernur DIY Tahun 2019.

UII memperoleh penghargaan pada kategori Pelaku dan atau Pelestari Cagar Budaya atas perannya melestarikan Candi Kimpulan yang belokasi di Kampus Terpadu UII, Jl. Kaliurang Km. 14,5, Ngaglik Sleman.

Menurut Rektor UII Fathul Wahid, pelestarian candi ini bukan sekedar merawat artefak budaya. Ini soal merawat harmoni sosial.

“Berbeda tidak lantas menjadikan kita berdiri berseberangan secara diametral. Kita bisa berdampingan, dengan semangat saling menghormati dan mengakui keberadaan. UII merasa terhormat mendapatkan perhargaan ini,” tuturnya dalam Malam Penganugerahan pada Kamis, (03/10/2019) di Bangsal Kepatihan Kantor Gubernur DIY.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Aris Eko Nugroho dalam laporannya menjelaskan pada tahun 2019 pemerintah DIY melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) telah melakukan penilaian terhadap 183 usulan penerima anugerah kebudayaan, dan setelahnya ditetapkan 22 penerima dari 5 kategori.

“Terdiri dari pelestari dan atau pelaku seni, pelestari dan atau pelaku adat tradisi, pelestari dan atau pelaku warisan budaya dan cagar budaya, budayawan dan kreator. Penetepan dilakukan melalui proses pengusulan oleh masyarakat, pemerintah kabupaten, pemerintah DIY dilanjutkan dengan sidang-sidang oleh tim penilai yang terdiri dari 15 orang,” jelasnya.

Sementara mewakili tim dewan juri, Suwarno Wisetrotomo dalam laporannya mengungkapkan penganugerahan terdiri atas tiga kelompok bidang berdasarkan objek formal penilaian. Mencakup kategori seni, kategori benda, dan kategori adat.

Menurut Suwarno, dalam memutuskan penerima anugerah kebudayaan ini harus menimbang aspek dan dampak sosial, ekonomi, dan budaya, termasuk dampak politik kebudayaan bagi penerima, lingkungan, maupun masyarakat luas.

“Salah satunya untuk memilih UII, dengan keputusannya meredesain bangunan kampus demi menyelamatkan situs purbakala, bagi kami tim penilai, sungguh sangat menginspirasi bagi kehidupan dialog dan pemahaman terhadap multikulturalisme,” ujarnya.

Rektor UII, Fathul Wahid (paling kanan) menerima piagam Anugerah Kebudayaan Gubernur DIY 2019 Rektor UII, Fathul Wahid (paling kanan) menerima piagam Anugerah Kebudayaan Gubernur DIY 2019
Dalam acara tersebut, hadir Sri Sultan Hamengkubuwono X yang menyematkan pin dan menyerahkan penghargaan kepada para pemenang. Menurut Sultan, era sekarang ini memerlukan kepekaan dalam pilihan.

Mana batang tubuh budaya yang perlu dipertahankan dan mana cabang ranting yang bisa dikembangkan ataupun diubah patahkan agar ruang kehidupan tetap tumbuh dinamis guna memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Seraya tetap merawat agar tak tercabut dari akar budayanya.

Sultan menegaskan, lingkungan budaya akan selalu menghadapi dilema pertentangan budaya, antara mempertahankan warisan lama dan menciptakan fasilitas baru yang mampu mewadahi kehidupan yang berkembang maju. “Namun, keduanya harus dilihat sebagai tantangan yang menggugah inovasi dan kreativitas agar ke depan kita siap memasuki peradaban baru,” paparnya.

Sultan berharap agar setiap acara penghargaan dimanfaatkan sebagai bentuk penyadaran akan arti pentingnya pelestarian warisan budaya.

“Dengan perenungan seperti itulah, hendaknya kita selalu berusaha meningkatkan kualitas budaya kita, dengan memberinya ruh baru, suntikan spirit baru guna menghidup-hidupkan yogyakarta sebagai kota budaya dengan misi atribut kultural yang disandangnya,” pesan Sultan.