Advertorial

Membincang Aktivitas Keagamaan di Xinjiang

Kompas.com - 31/12/2019, 20:58 WIB
Ahmad Syaifuddin Zuhri di Masjid Id Kah, kota Kasghar. (Dok.Istimewa) Dok.IstimewaAhmad Syaifuddin Zuhri di Masjid Id Kah, kota Kasghar. (Dok.Istimewa)

 Mahasiswa PhD Hubungan Internasional Central China Normal University (CCNU) sekaligus Wakil Rois Syuriyah PCINU Tiongkok, Ahmad Syaifuddin Zuhri melakukan perjalanan menuju kota Wuhan dari Stasiun Kereta Api Nanchang.

Pada perjalanan tersebut, Ahmad melihat banyak remaja etnis Uighur yang sedang perjalanan akan pulang ke daerahnya di Xinjiang. Ternyata, mereka adalah bagian dari ratusan siswa yang terpilih mendapat program beasiswa dari pemerintah Tiongkok.

Para remaja tersebut terpilih dan disekolahkan di sekolah favorit ke kota-kota di wilayah timur yang lebih maju di Tiongkok seperti Hangzhou, Shanghai, Nanjing, Nanchang dan lain sebagainya.

Setelah lulus sekolah, mereka kembali pulang ke daerah asalnya untuk membantu pembangunan daerahnya.

Wilayah Otonomi Khusus Xinjiang adalah wilayah terluas di daratan Tiongkok. Luasnya sekitar 1,6 juta km persegi, akan tetapi yang dapat dihuni manusia hanya 9.7 persennya (Renmin Wang, 2015).

Xinjiang berbatasan langsung dengan Asia Tengah seperti Kazakhstan, Tajikistan, Kyrgistan dan Uzbekistan. Di Selatan, wilayah ini berbatasan dengan Afganistan, India, Pakistan, Kashmir dan Nepal.

Sebagian besar daerahnya adalah gurun kering, seperti gurun Taklimakan, padang gurun kedua terluas di dunia setelah Sahara di Afrika.

Xinjiang dihuni sekitar 21 juta penduduk (China National Census 2010). Mayoritas adalah suku Uighur disusul Tajik, Uzbek, Hui, Tibet dan suku kecil lainnya. Mayoritas memeluk agama Islam.

Kesehariannya berbahasa Uighur, yang ditulis dengan aksara Arab. Bukan bahasa nasional Mandarin. Inilah mengapa di semua papan petunjuk dan pengumuman resmi pemerintah di wilayah Xinjiang ditulis dalam aksara mandarin (Hanzi), berdampingan dengan aksara Arab Uighur.

Anak sekolah diwajibkan belajar bahasa nasional mandarin. Termasuk sesudah lulus SMA yang akan meneruskan ke perguruan tinggi, mereka harus belajar Mandarin satu tahun dengan level tertentu. Sama seperti orang asing yang akan masuk kuliah ke Tiongkok. Kebijakan itu juga berlaku juga untuk 55 suku minoritas lainnya.

Aktifitas keagamaan di Xinjiang

Pada hari raya Idul Adha lalu. Masjid Id Kah di kota Kasghar. Sebuah kota kuno di wilayah Xinjiang yang berbatasan langsung dengan Kazakhstan.

Masjid seluas sekitar 16 ribu meter persegi itu menjadi  tujuan istimewa warga muslim lokal untuk sholat Id. Menampung terbesar di daratan Tiongkok ini dibangun pada sejak 1442 dan mampu menampung sebanyak 20.000 orang.

Idul Adha adalah hari sangat istimewa di provinsi otonomi khusus Xinjiang, Qinghai, Gansu dan Ningxia. Pemerintah lokal meliburkan secara resmi selama tiga hari. Bahkan menggratiskan jalan tol selama libur tiga hari di seluruh wilayah tersebut.

Kebijakan khusus dan misinformasi seputar Xinjiang

Pemerintah Tiongkok mempunyai kebijakan khusus dalam pembangunan daerah Xinjiang mengingat kondisi geografis, populasi yang sedikit dan tak merata, serta angka kemiskinan yang relatif masih tinggi dibanding daerah lainnya.

Tak heran, disana banyak ditemui perantau suku Han, suku mayoritas di Tiongkok, menjadi pedagang atau bahkan pejabat.

Pemberitaan media Barat akan pelanggaran HAM di Xinjiang mencuat akhir-akhir ini. Terlebih setelah memanasnya hubungan AS-Tiongkok dalam perang dagang.

Terlebih banyak berita berupa foto dan video, yang isinya diklaim sebagai penyiksaan warga Uighur, bertebaran di media sosial di Indonesia.

Ahmad sendiri di Tiongkok sempat menelusuri viralnya banyak foto dan video yang beredar di Baidu, mesin pencari terbesar di Tiongkok. Kebanyakan, potongan-potongan foto dan video tidak ada hubungannya dengan  Uighur sama sekali.

Dalam isu Xinjiang, Ahmad berharap Indonesia tidak dijadikan proxy war oleh negara manapun. Sikap pemerintah kita sangat jelas terhadap isu domestik suatu negara. Tak berhak mencampuri kedaulatan negara lain.

Artikel ini disunting dari naskah yang ditulis oleh Ahmad Syaifuddin Zuhri, Mahasiswa PhD Hubungan Internasional Central China Normal University (CCNU) dan Wakil Rois Syuriyah PCINU Tiongkok.